JAKARTA, Cobisnis.com – Setiap orang pasti pernah berhadapan dengan lingkungan atau individu yang membuat tidak nyaman, mulai dari orang yang suka menyalahkan, memfitnah, merendahkan, hingga memberikan komentar buruk.
Ustaz Hanan Attaki menjelaskan bahwa menghadapi orang-orang toxic merupakan bagian dari realitas kehidupan yang perlu dipahami agar seseorang tidak mudah kehilangan ketenangan.
“Betapun kalian baik, betapun kalian sukses, hidup selalu menyuguhkan orang-orang yang toksik dalam kehidupan kita,” kata Ustaz Hanan Attaki dalam video di kanal YouTube Hanan Attaki, dikutip Cobisnis Jumat (28/8/2026).
Menurutnya, terdapat tiga pelajaran yang dapat diambil ketika seseorang berada dalam situasi tersebut.
Pertama, belajar menjaga lisan.
Ustaz Hanan Attaki mengingatkan bahwa seseorang tidak seharusnya merendahkan atau membicarakan orang lain karena belum tentu dirinya lebih baik.
Ia mengutip Surah Al-Hujurat ayat 11 yang mengingatkan orang-orang beriman agar tidak saling menghina dan memanggil dengan panggilan buruk.
“Karena bisa jadi orang yang dihina itu lebih baik daripada orang yang menghina,” ujarnya.
Karena itu, seseorang perlu belajar menahan lisan dan tidak mudah membicarakan keburukan orang lain.
Ustaz Hanan Attaki juga mengingatkan bahwa tidak ada yang mengetahui seluruh kebaikan seseorang yang dilakukan secara tersembunyi selain Allah SWT.
Kedua, memahami bahwa orang toxic merupakan bagian dari realitas kehidupan.
Menurutnya, seseorang tidak boleh berharap seluruh orang akan selalu menyukai, menyetujui, atau memuliakan dirinya.
“Hidup itu memang keras, Teman-teman. Kalian tuh jangan selalu berharap semua orang agree sama kalian, semua orang menyanjung kalian, semua orang memuliakan kalian,” tuturnya.
Ia mengatakan, semakin seseorang terlihat, memiliki eksistensi, atau menunjukkan kebaikan, peluang mendapatkan kritik dan perlakuan buruk dari orang lain juga semakin besar.
Karena itu, seseorang perlu mempersiapkan mental dan tidak terlalu terkejut ketika menghadapi orang yang iri, tidak setuju, salah memahami, bahkan merendahkan.
“Makanya jangan heran dengan hal yang kayak gitu dalam hidup,” katanya.
Ustaz Hanan Attaki mencontohkan bahwa bahkan di lingkungan yang baik sekalipun, konflik, salah paham, kecemburuan, atau perbedaan pendapat tetap mungkin terjadi.
Menurutnya, hal tersebut tidak selalu berarti seseorang harus langsung meninggalkan lingkungan atau hubungan yang sedang dijalani.
Ketiga, membangun personal dan emotional boundaries.
Ustaz Hanan Attaki mengajak seseorang untuk belajar tidak peduli terhadap hal-hal toxic yang tidak benar-benar mengancam dirinya.
Ia mengaitkan hal tersebut dengan kisah Nabi Muhammad SAW ketika pulang dari Thaif setelah mendapatkan perlakuan buruk, mulai dari dicela hingga dilempari batu.
Menurutnya, terdapat pelajaran mengenai sikap Nabi yang tetap menyerahkan urusannya kepada Allah SWT dan tidak menjadikan perlakuan buruk manusia sebagai sesuatu yang menguasai dirinya.
“Kalau itu enggak benar-benar mengganggu dan mengancam keselamatan kita, ya udah enggak usah peduli,” ujarnya.
Namun, ia menegaskan bahwa sikap tidak peduli bukan berarti seseorang tidak memiliki kepedulian sama sekali.
Menurutnya, kepedulian tetap perlu diberikan kepada orang yang membutuhkan, seperti orang miskin, anak yatim, dan mereka yang berada dalam kesulitan.
Sebaliknya, terhadap komentar atau perlakuan toxic yang tidak membawa dampak serius, seseorang perlu memiliki batasan emosional agar tidak terus-menerus terjebak dalam penilaian orang lain.
“Jadilah seseorang yang punya pendirian, punya prinsip, punya idealisme, punya target, fokus,” katanya.
Dengan memiliki batasan emosional, seseorang dapat menentukan komentar mana yang perlu diperhatikan dan mana yang sebaiknya dilepaskan.
Ustaz Hanan Attaki menilai, terlalu memikirkan seluruh komentar dan penilaian orang lain justru dapat membuat seseorang kehilangan fokus terhadap kehidupannya sendiri.
“Jangan semuanya kalian take note gitu. Capek hidup kalian kalau kayak gitu,” tuturnya.
Ia kemudian kembali menekankan tiga hal utama yang perlu diingat ketika menghadapi orang toxic, yakni menjaga lisan, memahami bahwa perlakuan tidak menyenangkan merupakan bagian dari realitas hidup, serta membangun pertahanan diri melalui personal dan emotional boundaries.
“Boundaries-nya adalah la ubali. Aku gak peduli kalau itu toks,” ujarnya.
Menurutnya, sikap tersebut bukan berarti menjadi pribadi yang tidak peduli terhadap sesama, melainkan kemampuan untuk menentukan hal-hal yang memang layak mendapatkan perhatian dan hal-hal yang sebaiknya dilepaskan.
“Semoga ini bisa menjadi nasehat buat kita lebih kuat menjalani realitas hidup kita di dunia. Barakallahu fikum,” pungkas Ustaz Hanan Attaki.













