JAKARTA, Cobisnis.com – Ketegangan di kawasan Laut China Selatan kembali menguat setelah Amerika Serikat mengerahkan kapal induk bertenaga nuklir USS Abraham Lincoln untuk beroperasi di perairan sengketa yang berdekatan dengan Asia Tenggara, termasuk wilayah yang tidak jauh dari Indonesia.
Kehadiran USS Abraham Lincoln menjadi sorotan karena kapal induk ini membawa jet tempur siluman F-35C serta didukung sejumlah kapal perusak berpeluru kendali. Armada tersebut menjalankan patroli rutin yang diklaim sebagai bagian dari komitmen menjaga stabilitas kawasan.
Angkatan Laut Amerika Serikat menegaskan, operasi ini bertujuan mencegah potensi agresi, memperkuat aliansi regional, serta memastikan kebebasan navigasi di salah satu jalur perdagangan laut paling sibuk di dunia.
Laut China Selatan memiliki nilai strategis tinggi karena menjadi jalur utama perdagangan global, termasuk pengiriman energi dan barang bernilai triliunan dolar setiap tahunnya. Kawasan ini juga bersinggungan langsung dengan kepentingan ekonomi negara-negara Asia Tenggara.
Bagi Indonesia, meski bukan negara pengklaim utama, stabilitas Laut China Selatan tetap krusial. Aktivitas militer di kawasan ini berpotensi berdampak pada keamanan perairan sekitar Natuna serta kelancaran arus logistik regional.
Kehadiran kapal induk AS juga dipandang sebagai sinyal politik kepada China, yang selama bertahun-tahun terus memperluas klaim maritimnya melalui pembangunan fasilitas militer di pulau-pulau buatan.
Washington menegaskan pendekatan “Indo-Pasifik yang bebas dan terbuka” sebagai dasar kebijakan militernya. Pendekatan ini menekankan penghormatan terhadap hukum internasional, termasuk Konvensi PBB tentang Hukum Laut.
Meski belum ada respons resmi dari Beijing, pengamat menilai kehadiran USS Abraham Lincoln akan meningkatkan tensi dan pengawasan militer di Pasifik Barat, terutama di tengah rivalitas strategis dua kekuatan besar tersebut.
Di sisi lain, muncul spekulasi bahwa penempatan USS Abraham Lincoln bersifat sementara. Kapal induk ini disebut berpotensi dialihkan ke kawasan Timur Tengah seiring meningkatnya ketegangan global di wilayah lain.
Namun selama beroperasi di Laut China Selatan, kehadiran kapal induk AS dipastikan akan terus memengaruhi dinamika keamanan regional, termasuk keseimbangan politik dan militer di kawasan Asia Tenggara.
Situasi ini menempatkan negara-negara regional pada posisi strategis yang sensitif, di mana stabilitas, diplomasi, dan kepentingan ekonomi harus dijaga di tengah persaingan kekuatan global yang kian terbuka.














