JAKARTA,Cobisnis.com-Program The Development of Integrated Farming System in Upland Areas (UPLAND) sukses ciptakan ekosistem agribisnis dataran tinggi yang terintegrasi dari hulu ke hilir.
Program yang memasuki fase pengakhiran (exit strategy) di tahun 2026 ini diinisiasi oleh Kementerian Pertanian RI. Tidak tanggung-tanggung program ini dikembangkan di 14 kabupaten dengan luas mencapai 14.216 hektar.
Proyek strategis tersebut mendapat dukungan Islamic Development Bank (IsDB) dan International Fund for Agricultural Development (IFAD). Kerja keras ini demi menjawab tantangan pembangunan pertanian di wilayah dataran tinggi. Karena area tersebut selama ini dikenal selalu dihantui keterbatasan akses logistik dan pasar.
Direktur Jenderal Lahan dan Irigasi Pertanian (LIP) Kementerian Pertanian, Hermanto,
menyampaikan bahwa capaian program ini bukan sekadar pembangunan fisik. “Kami menggunakan beberapa pendekatan untuk fondasi infrastruktur strategis bagi produktifitas pertanian. Ini mencakup irigasi, pipanisasi lahan kering, pembangunan embung, hingga jalan usaha tani untuk urat nadi distribusi hasil pertanian,” ujar Hermanto dalam siaran pers tertulis di Jakarta.
Lebih lanjut, dia juga mengatakan pihaknya juga menggunakan strategi transformasi kelembagaan. Sebanyak 46 korporasi petani sukses dibangun di 14 kabupaten. Hal ini menjadi entitas bisnis yang mengelola produksi secara mandiri. Kinerja korporasi ini terlihat dalam dua bidang yaitu pasar global yang kompetitif dan pasar domestik yang stabil.
Di kancah internasional, data menunjukkan peningkatan volume yang signifikan pada korporasi-korporasi terpilih. Kelompok tani di Kabupaten Magelang mencatatkan lonjakan ekspor kopi ke Dubai dari 18 ton menjadi 80 ton tahun ini. Kemudian korporasi di Purbalingga berhasil mengirimkan 300 ton lada, sementara petani di Subang sukses menembus pasar Tiongkok dengan 3 ton manggis premium.
Sejalan dengan itu, korporasi petani juga membuktikan dominasinya di pasar domestik. Terbukti hasil beras organik dari Magelang kini berhasil tembus pasar ritel modern, sebagai pasokan langganan bagi jaringan restoran KFC di sekitar wilayah tersebut. Di Tasikmalaya, telah berhasil dibangun kemitraan strategis dengan Pemerintah Kabupaten Tasikmalaya
untuk memenuhi kebutuhan konsumsi beras organik bagi para pegawai negeri sipil (PNS).
“Capaian korporasi yang sudah berhasil menembus pasar internasional dan lokal ini jadi pencapaian penting. Mereka menjadi percontohan bagi korporasi lainnya dalam hal manajemen profesional dan kepatuhan terhadap standar kualitas,” tambah Hermanto.
Program ini merupakan manifestasi dari instruksi Presiden RI, Bapak Prabowo Subianto, terkait percepatan swasembada pangan. Menteri Pertanian, Amran Sulaiman, telah memastikan bahwa kebijakan ini fokus pada efisiensi rantai nilai. Meningkatnya intensitas tanam di wilayah intervensi seperti di Magelang yang kini mencapai 5 kali panen dalam dua tahun, menjadi bukti efektivitas mekanisasi yang diterapkan. Dengan dukungan penuh dari IsDB dan IFAD, Kementerian Pertanian telah menciptakan model yang berhasil memangkas ketergantungan petani pada pola subsisten dan tengkulak tradisional.
Menjelang penutupan fase pendanaan pada tahun 2026, fokus Kementerian Pertanian kini bergeser pada pendampingan manajerial. Pak Hermanto menegaskan bahwa pemerintah tidak akan meninggalkan petani setelah proyek berakhir.
“Pemerintah daerah dan pusat berkomitmen untuk terus membersamai korporasi petani ini.
Infrastruktur yang sudah ada akan dirawat sebagai aset produktif, dan kami tengah
mengintegrasikan korporasi ini dengan ekosistem perbankan serta kemitraan swasta agar akses modal dan pasar tetap terjaga,” pungkasnya.
Dengan cetak biru yang telah terbentuk, model UPLAND kini diproyeksikan menjadi prototipe
pembangunan pertanian berbasis kawasan di masa depan, yang menjamin bahwa dataran tinggi bukan lagi menjadi area pinggiran, namun jadi pilar ekonomi kedaulatan pangan Indonesia.













