JAKARTA, Cobisnis.com – Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengungkapkan kebiasaannya mengonsumsi aspirin dosis tinggi setiap hari selama sekitar 25 tahun sebagai upaya pencegahan penyakit jantung.
Pengakuan itu disampaikan Trump dalam wawancara dengan The Wall Street Journal. Ia menyebut aspirin membantu menjaga aliran darah tetap encer agar tidak membebani kerja jantung.
Trump mengatakan dirinya mengonsumsi aspirin dengan dosis lebih tinggi dari yang umumnya direkomendasikan dokter. Ia mengaku memahami anjuran medis, namun memilih tetap menjalani kebiasaan tersebut.
Menurut Trump, konsumsi aspirin dosis penuh terasa masuk akal baginya. Ia ingin memastikan darah mengalir dengan baik melalui jantung, terutama seiring bertambahnya usia.
Saat ini Trump berusia 79 tahun. Dalam keterangannya, ia juga mengakui bahwa konsumsi aspirin dosis tinggi membuat tubuhnya lebih mudah mengalami memar.
Dokter pribadi Trump, Sean Barbabella, menjelaskan bahwa Trump mengonsumsi aspirin 325 miligram per hari. Dosis tersebut merupakan dosis penuh aspirin dan tertinggi untuk tujuan pencegahan jantung.
Namun, sejumlah pakar kesehatan menilai dosis tersebut tidak lazim untuk kebanyakan orang. Umumnya, aspirin pencegahan direkomendasikan dalam dosis rendah, yakni 81 miligram per hari.
Direktur pencegahan dan kesehatan kardiovaskular National Jewish Health, Dr Andrew Freeman, menyebut aspirin dosis rendah dinilai lebih aman dan cukup efektif bagi sebagian besar pasien.
Pendapat serupa disampaikan dr Fahmi Farah, ahli jantung intervensi di Texas. Ia menegaskan aspirin dosis penuh memiliki risiko lebih tinggi, terutama terhadap saluran pencernaan.
Menurutnya, aspirin 325 miligram biasanya hanya diberikan pada pasien dengan kondisi medis tertentu dan di bawah pengawasan ketat dokter.
Kebiasaan Trump ini kembali memunculkan diskusi publik soal perbedaan persepsi medis dan pilihan pribadi, terutama ketika dilakukan oleh tokoh politik dengan pengaruh global.
Isu kesehatan pemimpin negara sering menjadi sorotan karena beririsan langsung dengan stabilitas politik, kepercayaan publik, dan persepsi ketahanan kepemimpinan di tingkat internasional.














