• © Copyright 2025 Cobinis.com – All Right Reserved
Tuesday, September 15, 2026
Cobisnis
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Ekonomi Bisnis
  • Nasional
  • Lifestyle
  • Entertaiment
  • Humaniora
  • Sport
  • Teknologi
  • Otomotif
  • Foto
  • Beranda
  • Ekonomi Bisnis
  • Nasional
  • Lifestyle
  • Entertaiment
  • Humaniora
  • Sport
  • Teknologi
  • Otomotif
  • Foto
No Result
View All Result
Cobisnis
No Result
View All Result
Home News

Trump Mengatakan AS Akan Mengambil Alih Cadangan Minyak Venezuela, Ini Artinya

Zahra Zahwa by Zahra Zahwa
January 5, 2026
in News
0
Trump Mengatakan AS Akan Mengambil Alih Cadangan Minyak Venezuela, Ini Artinya

JAKARTA, Cobisnis.com – Presiden Amerika Serikat Donald Trump pada Sabtu mengatakan bahwa AS akan mengambil alih kendali atas cadangan minyak Venezuela yang sangat besar serta mengajak perusahaan-perusahaan Amerika untuk menanamkan investasi bernilai miliaran dolar guna memperbaiki industri minyak negara tersebut yang telah lama terpuruk.

Venezuela diketahui memiliki sekitar 303 miliar barel cadangan minyak mentah, atau hampir seperlima dari total cadangan minyak dunia, menurut data Badan Informasi Energi AS (EIA). Cadangan raksasa ini diperkirakan akan memainkan peran kunci dalam masa depan Venezuela.

Karena pasar minyak tidak beroperasi pada akhir pekan, dampak jangka pendek terhadap harga minyak masih sulit diprediksi. Namun Trump menegaskan bahwa untuk sementara waktu Amerika Serikat akan menjalankan pemerintahan Venezuela.

“Kami akan mengerahkan perusahaan-perusahaan minyak besar Amerika Serikat yang terbesar di dunia untuk masuk, menghabiskan miliaran dolar, dan memperbaiki infrastruktur yang rusak parah, termasuk infrastruktur minyak,” ujar Trump dalam konferensi pers di Mar-a-Lago.

Revitalisasi yang dipimpin AS berpotensi menjadikan Venezuela pemasok minyak yang jauh lebih besar di masa depan, membuka peluang bagi perusahaan minyak Barat, serta menambah sumber pasokan global. Hal ini juga bisa menahan kenaikan harga minyak dunia, meskipun harga yang lebih rendah berisiko mengurangi insentif produksi bagi sebagian perusahaan AS.

Meski akses internasional dipulihkan sepenuhnya, dibutuhkan waktu bertahun-tahun dan biaya besar untuk mengembalikan produksi minyak Venezuela ke level optimal. Perusahaan minyak negara PDVSA menyebut banyak pipa minyak tidak diperbarui selama 50 tahun, dan biaya pemulihan ke tingkat produksi puncak diperkirakan mencapai US$58 miliar.

“Untuk pasar minyak, ini berpotensi menjadi peristiwa bersejarah,” kata Phil Flynn, analis pasar senior Price Futures Group. “Rezim Maduro dan Hugo Chávez sebelumnya pada dasarnya menggerogoti industri minyak Venezuela.”

Kendali atas harta minyak Venezuela

Venezuela memiliki cadangan minyak terbukti terbesar di dunia, namun realisasi produksinya sangat tertinggal. Saat ini, negara tersebut hanya memproduksi sekitar 1 juta barel per hari, atau sekitar 0,8% dari produksi minyak global. Jumlah itu kurang dari setengah produksi sebelum Nicolás Maduro berkuasa pada 2013, dan jauh di bawah puncak produksi 3,5 juta barel per hari sebelum rezim sosialis mengambil alih.

Sanksi internasional, krisis ekonomi mendalam, minimnya investasi, serta buruknya perawatan infrastruktur menjadi faktor utama kemerosotan industri minyak Venezuela. Infrastruktur energi negara itu memburuk drastis, sehingga kapasitas produksinya terus menyusut.

Akibatnya, kontribusi Venezuela terhadap pasokan minyak global saat ini relatif kecil. Harga minyak global sepanjang tahun ini cenderung terkendali karena kekhawatiran kelebihan pasokan. OPEC meningkatkan produksi, sementara permintaan melemah akibat tekanan inflasi dan masalah daya beli pasca pandemi. Harga minyak AS sempat menembus US$60 per barel ketika pemerintahan Trump mulai menyita minyak dari kapal Venezuela, namun kembali turun ke sekitar US$57 per barel. Karena itu, reaksi pasar diperkirakan terbatas.

“Secara psikologis mungkin ada sedikit dorongan, tapi minyak Venezuela mudah digantikan oleh kombinasi produsen global lain,” ujar Flynn.

Potensi minyak Venezuela

Minyak Venezuela tergolong berat dan asam (heavy, sour crude) yang membutuhkan peralatan khusus serta teknologi tinggi untuk diekstraksi dan diolah. Perusahaan minyak internasional memiliki kemampuan tersebut, namun selama ini dibatasi oleh sanksi.

Sebaliknya, minyak AS didominasi jenis ringan dan manis (light, sweet crude) yang lebih cocok untuk bensin. Minyak berat Venezuela justru penting untuk produk seperti solar, aspal, dan bahan bakar industri berat. Pasokan solar global saat ini relatif ketat, sebagian karena sanksi terhadap minyak Venezuela. Membuka kembali akses minyak Venezuela bisa sangat menguntungkan AS. Letaknya dekat dan harganya relatif murah karena teksturnya yang kental. Banyak kilang minyak AS dirancang khusus untuk mengolah minyak berat Venezuela dan bekerja lebih efisien dengan jenis tersebut.

“Jika ini berjalan lancar dan perusahaan AS diizinkan membangun kembali industri minyak Venezuela, dampaknya bisa mengubah peta pasar minyak global,” kata Flynn.

Trump menyebut industri minyak Venezuela sebagai “gagal total” dan menegaskan bahwa produksi jauh di bawah potensi seharusnya.

“Kami akan mengerahkan perusahaan minyak besar AS untuk masuk, menghabiskan miliaran dolar, memperbaiki infrastruktur yang rusak, dan mulai menghasilkan uang bagi negara itu,” tegas Trump.

Apa dampaknya bagi harga minyak?

Dampak intervensi AS terhadap harga energi global masih belum jelas. Presiden Rapidan Energy Group, Bob McNally, menilai pengaruhnya akan “moderat”, kecuali terjadi gejolak sosial besar di Venezuela.

“Pertanyaannya adalah seberapa cepat Venezuela yang pro-AS bisa meningkatkan produksinya. Persepsi pasar bisa melaju lebih cepat daripada kenyataan,” ujarnya.

McNally menambahkan, “Venezuela bisa menjadi faktor besar, tapi bukan dalam 5 hingga 10 tahun ke depan.” Pasar minyak akan kembali dibuka Minggu malam waktu AS. Menurut Helima Croft dari RBC Capital Markets, pergerakan harga sangat bergantung pada apakah Trump benar-benar mampu mewujudkan kebangkitan sektor minyak Venezuela.

“Semuanya bergantung pada apakah Venezuela mampu menentang sejarah upaya perubahan rezim yang dipimpin AS,” katanya. “Masih dibutuhkan detail jauh lebih banyak sebelum kita menyebut ini sebagai ‘Mission Accomplished’.”

Download Nulled WordPress Themes
Download Premium WordPress Themes Free
Download WordPress Themes Free
Download Best WordPress Themes Free Download
free download udemy course
download lava firmware
Download Premium WordPress Themes Free
online free course
Tags: cobisnis.comDonaldTrumpEkonomiGlobalMinyakVenezuela

Related Posts

AS dan China Tampilkan Visi Berbeda soal Pengembangan Kecerdasan Buatan pada 2026

Senator Mitch McConnell Hadiri Sidang Senat untuk Pertama Kalinya Sejak Juni 2026

by Zahra Zahwa
September 15, 2026
0

JAKARTA, Cobisnis.com – Senator Amerika Serikat Mitch McConnell kembali ke Capitol Hill pada Senin setelah absen selama tiga bulan karena...

Sah! Purbaya Serahkan Jabatan Menkeu kepada Suahasil Nazara

Sah! Purbaya Serahkan Jabatan Menkeu kepada Suahasil Nazara

by Hidayat Taufik
September 15, 2026
0

JAKARTA, Cobisnis.com — Kementerian Keuangan menggelar serah terima jabatan Menteri Keuangan pada Selasa (15/9/2026) di Jakarta. Dalam agenda tersebut, Purbaya...

Pencipta Siri Kenang Visi Awal Asisten Digital Sebelum Diakuisisi Apple

Pencipta Siri Kenang Visi Awal Asisten Digital Sebelum Diakuisisi Apple

by Zahra Zahwa
September 15, 2026
0

JAKARTA, Cobisnis.com – Siri kini menjadi salah satu asisten digital paling dikenal di dunia. Namun, para penciptanya mengungkap bahwa visi...

AS dan China Tampilkan Visi Berbeda soal Pengembangan Kecerdasan Buatan pada 2026

Atlet Perempuan Kritik Kampanye Iklan Novig yang Menampilkan Sydney Sweeney

by Zahra Zahwa
September 15, 2026
0

JAKARTA, Cobisnis.com – Kampanye iklan terbaru yang menampilkan aktris Sydney Sweeney memicu kritik dari sejumlah atlet perempuan. Mereka menilai konsep...

AS dan China Tampilkan Visi Berbeda soal Pengembangan Kecerdasan Buatan pada 2026

AS dan China Tampilkan Visi Berbeda soal Pengembangan Kecerdasan Buatan pada 2026

by Zahra Zahwa
September 15, 2026
0

JAKARTA, Cobisnis.com – Amerika Serikat dan China menunjukkan pendekatan berbeda terhadap pengembangan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI). Perbedaan itu...

Load More
  • Trending
  • Comments
  • Latest
Adythia Pratam Bongkar Alasan Banyak Orang Sulit Dapat Kerja

Adythia Pratam Bongkar Alasan Banyak Orang Sulit Dapat Kerja

September 9, 2026
Generasi Muda Makin Terkoneksi, Tapi Justru Makin Terputus

Generasi Muda Makin Terkoneksi, Tapi Justru Makin Terputus

September 10, 2026
Feri Irwandi Ungkap Alasan Buka Patungan untuk Hutan di Kalimantan

Feri Irwandi Ungkap Alasan Buka Patungan untuk Hutan di Kalimantan

September 13, 2026
Menurut Ferry Irwandi, Ekonomi Berawal dari Pilihan Manusia

Menurut Ferry Irwandi, Ekonomi Berawal dari Pilihan Manusia

September 8, 2026
AS dan China Tampilkan Visi Berbeda soal Pengembangan Kecerdasan Buatan pada 2026

Senator Mitch McConnell Hadiri Sidang Senat untuk Pertama Kalinya Sejak Juni 2026

September 15, 2026
Sah! Purbaya Serahkan Jabatan Menkeu kepada Suahasil Nazara

Sah! Purbaya Serahkan Jabatan Menkeu kepada Suahasil Nazara

September 15, 2026
Wamenpar Dorong Aceh Culinary Festival 2026 Perkuat storytelling dari Kuliner Khas Aceh

Wamenpar Dorong Aceh Culinary Festival 2026 Perkuat Storytelling Kuliner Khas Aceh

September 15, 2026
Dr Ryan Keswani Ingatkan Pentingnya Menjaga Otak Sejak Usia Muda

Dr Ryan Keswani Ingatkan Pentingnya Menjaga Otak Sejak Usia Muda

September 15, 2026
">
  • Redaksi
  • Profil
  • Media Kit
  • Disclaimer
  • Pedoman Media Cyber
  • Kontak

© Copyright 2025 Cobinis.com - All Right Reserved

No Result
View All Result
  • Home
  • Ekonomi & Bisnis
  • Nasional
  • Industri
  • Lifestyle
  • Humaniora
  • Kesehatan & Olahraga
  • Startup Center
  • Foto
  • Youtube

© Copyright 2025 Cobinis.com - All Right Reserved