JAKARTA, Cobisnis.com – Tokoh oposisi utama Venezuela, Juan Pablo Guanipa, kembali ditangkap oleh sekelompok pria bersenjata berat pada Minggu malam waktu setempat, hanya beberapa jam setelah ia dibebaskan dari penjara tempat ia ditahan sebagai tahanan politik. Keluarga dan sekutunya menyebut peristiwa itu sebagai “penculikan” dan menuding rezim Caracas sebagai pihak yang bertanggung jawab.
Jaksa penuntut umum Venezuela kemudian mengonfirmasi bahwa pihaknya telah meminta Guanipa ditempatkan dalam tahanan rumah, dengan alasan ia melanggar syarat pembebasannya. Namun, penjelasan tersebut tidak meredam kecaman dari kubu oposisi dan kelompok hak asasi manusia.
Guanipa, pemimpin Partai Primero Justicia yang berhaluan konservatif, termasuk di antara sejumlah tahanan politik terkenal yang dibebaskan pada Minggu tersebut. Pembebasan itu dipandang sebagai bagian dari upaya Caracas memenuhi tuntutan Amerika Serikat setelah Washington menggulingkan pemimpin kuat Nicolás Maduro.
Menurut pemimpin oposisi Venezuela sekaligus peraih Nobel, María Corina Machado, sekitar 10 pria bersenjata berpakaian sipil datang menggunakan empat kendaraan ke kawasan Los Chorros, Caracas, dan membawa Guanipa secara paksa. Putra Guanipa, Ramón, mengatakan ayahnya “disergap” oleh agen tanpa identitas yang mengacungkan senjata api, lalu membawanya pergi tanpa penjelasan resmi.
Partai Primero Justicia menuding para pejabat tinggi pemerintah bertanggung jawab atas keselamatan Guanipa, termasuk Presiden interim Delcy Rodríguez, Ketua Majelis Nasional Jorge Rodríguez, dan Menteri Dalam Negeri Diosdado Cabello. Mereka menuntut jaminan bahwa Guanipa masih hidup dan tidak disakiti.
Guanipa sebelumnya ditahan sejak Mei 2025 atas tuduhan terlibat rencana “teror” menjelang pemilu daerah dan legislatif klaim yang ia bantah keras dan disebut tanpa bukti. Setelah dibebaskan, ia sempat mengunggah video di media sosial yang menyatakan akan membahas masa depan Venezuela “dengan kebenaran di garis depan”.
Penangkapan ulang ini terjadi di tengah janji pemerintah untuk membebaskan seluruh tahanan politik sebagai bagian dari proses “rekonsiliasi nasional”. Kelompok HAM Foro Penal menyebut setidaknya 30 tahanan politik dibebaskan pada hari yang sama, meski ratusan lainnya masih berada di balik jeruji. Pemerintah membantah menahan orang karena alasan politik dan menyatakan semua tahanan telah melakukan kejahatan.
Peristiwa ini kembali menyoroti tudingan lama terhadap pemerintah Venezuela yang dituduh menggunakan penahanan sewenang-wenang untuk membungkam perbedaan pendapat, sekaligus mempertanyakan komitmen Caracas terhadap reformasi dan penghormatan HAM.













