JAKARTA, Cobisnis.com – Tesla menghentikan rencana penjualan Cybertruck di Australia dan Selandia Baru, mengecewakan pelanggan yang telah memesan kendaraan listrik futuristik tersebut sejak tujuh tahun lalu.
Mengutip Engadget pada Sabtu (24/10/2026), Tesla menginformasikan keputusan tersebut melalui email kepada para pemesan dan menyatakan bahwa rencana produksi Cybertruck untuk kedua negara itu telah dihentikan.
Karena tidak dapat memenuhi pesanan, Tesla akan mengembalikan seluruh uang muka pelanggan dalam waktu 30 hari setelah mereka menerima email konfirmasi mengenai detail pengembalian dana.
Tesla juga menawarkan akses gratis selama satu tahun ke fitur Full Self-Driving (Supervised) bagi pelanggan yang memesan Model 3 atau Model Y terbaru.
Menurut Drive Australia, kelayakan Cybertruck untuk dipasarkan di Australia dan Selandia Baru telah dipertanyakan selama bertahun-tahun, terutama karena pabrik Tesla di Texas sebelumnya tidak dikonfigurasi untuk memproduksi kendaraan dengan kemudi kanan.
Tanpa versi kemudi kanan yang sesuai, Cybertruck menghadapi kendala untuk digunakan secara legal di jalan raya Australia dan Selandia Baru, serta sejumlah negara lain seperti Inggris, Jepang, dan Irlandia.
Di Eropa, Cybertruck juga belum memperoleh persetujuan regulasi yang diperlukan untuk dipasarkan secara resmi di Inggris maupun Uni Eropa.
Kendaraan tersebut menghadapi sejumlah persoalan terkait standar keselamatan, termasuk zona benturan, perlindungan pejalan kaki, pencahayaan, serta klasifikasi berat kendaraan.
Badan Bea Cukai Angkatan Darat AS turut menyoroti desain bodi baja tahan karat Cybertruck yang kaku dan memiliki tepi tajam karena dinilai berpotensi bertentangan dengan standar keselamatan Uni Eropa, khususnya terkait perlindungan pengguna jalan yang rentan.
Meski demikian, sejumlah Cybertruck dilaporkan dapat terlihat di Eropa setelah pemiliknya memperoleh persetujuan kendaraan secara individual melalui modifikasi tertentu.













