JAKARTA, Cobisnis.com – Sebuah penelitian terbaru menemukan hubungan antara pola makan anak sejak usia dini dan perkembangan kemampuan berpikir saat memasuki usia sekolah.
Peneliti mencatat anak yang lebih sering mengonsumsi makanan ultra-olahan saat balita cenderung memperoleh skor kecerdasan lebih rendah beberapa tahun kemudian.
Makanan ultra-olahan mencakup produk siap saji dan makanan dengan tingkat proses tinggi. Contohnya antara lain sosis, nugget, mi instan, camilan kemasan, serta makanan tinggi gula tambahan.
Peneliti menilai masa awal kehidupan menjadi periode penting bagi perkembangan otak. Pada fase tersebut, otak membentuk banyak koneksi yang mendukung proses belajar dan daya ingat.
Karena itu, kualitas asupan gizi dinilai berperan dalam mendukung perkembangan fungsi kognitif anak.
Tim peneliti menganalisis data lebih dari 3.400 anak. Mereka mengumpulkan informasi pola makan saat anak berusia dua tahun.
Setelah itu, tim mengevaluasi kemampuan kognitif anak ketika memasuki usia enam hingga tujuh tahun. Peneliti menggunakan metode pengukuran kecerdasan yang umum dipakai dalam evaluasi perkembangan anak.
Hasil analisis menunjukkan pola yang konsisten. Anak dengan konsumsi makanan kurang sehat yang lebih tinggi cenderung mencatat hasil kognitif lebih rendah.
Namun, peneliti tidak menyimpulkan bahwa satu jenis makanan secara langsung menurunkan kecerdasan.
Sebaliknya, mereka melihat adanya hubungan yang tetap muncul setelah memperhitungkan faktor lain. Faktor tersebut mencakup pendidikan orang tua, kondisi ekonomi keluarga, dan stimulasi belajar di rumah.
Selain itu, penelitian ini menambah bukti mengenai pentingnya nutrisi pada masa awal pertumbuhan.
Peneliti mendorong orang tua untuk membangun pola makan yang lebih seimbang sejak dini. Sementara itu, mereka juga menilai lingkungan belajar dan kebiasaan keluarga tetap memiliki peran penting dalam perkembangan anak.













