JAKARTA, Cobisnis.com – Tiga awak kapal dagang dilaporkan tewas setelah kapal mereka terkena rudal balistik yang ditembakkan kelompok Houthi di perairan Bab al Mandeb. Salah satu korban disebut merupakan warga negara Indonesia atau WNI.
Informasi tersebut dilaporkan koresponden Al Arabiya dan Al Hadath pada Selasa, 11 Agustus 2026. Dua korban lainnya disebut merupakan warga negara Pakistan.
Rudal tersebut dilaporkan ditembakkan Houthi dari Provinsi Taiz, Yaman bagian timur. Serangan terjadi ketika kapal dagang sedang melintasi Bab al Mandeb.
Bab al Mandeb merupakan salah satu jalur pelayaran internasional penting yang menghubungkan Laut Merah dengan kawasan sekitar Samudra Hindia. Jalur tersebut menjadi salah satu titik yang terdampak konflik dan ancaman terhadap kapal komersial.
Serangan terbaru ini terjadi di tengah ancaman berkelanjutan Houthi terhadap kapal dagang yang melintas di Laut Merah dan Bab al Mandeb. Situasi tersebut meningkatkan risiko bagi awak kapal serta aktivitas perdagangan melalui jalur tersebut.
Ketegangan kawasan juga meningkat setelah Arab Saudi, Turki, dan Pakistan menandatangani Perjanjian Pertahanan Bersama Mekkah pada Jumat, 7 Agustus 2026. Kesepakatan tersebut ditujukan untuk memperkuat keamanan kolektif ketiga negara.
Kementerian Luar Negeri Pakistan menyebut serangan terhadap salah satu anggota akan dianggap sebagai serangan terhadap seluruh anggota. Kesepakatan itu disebut dimaksudkan untuk memperkuat pencegahan kolektif.
Pemerintah Saudi memperkuat hubungan keamanan di tengah konflik Amerika Serikat dan Iran yang berdampak pada jalur pelayaran di Selat Hormuz dan Laut Merah. Konflik tersebut juga disebut meningkatkan keberanian Iran dan sekutunya di Yaman, termasuk Houthi.
Dalam pernyataan bersama, Arab Saudi, Turki, dan Pakistan menyatakan komitmen untuk memperkuat keamanan kolektif serta mendorong perdamaian, keamanan, dan stabilitas kawasan.
Pemerintah Turki menegaskan perjanjian tersebut tidak ditujukan kepada negara tertentu. Ankara juga menyatakan kesepakatan itu tidak bertentangan dengan komitmen Turki dalam aliansi internasional, termasuk NATO.
Sementara itu, pemerintah Saudi menyatakan perjanjian tersebut bukan upaya membentuk poros militer maupun blok sektarian. Serangan terhadap kapal dagang ini tetap menunjukkan tingginya risiko keamanan di jalur pelayaran strategis kawasan.













