JAKARTA, Cobisnis.com – Pemerintah Kuba mengonfirmasi sebanyak 32 warganya tewas dalam operasi militer Amerika Serikat di Venezuela yang bertujuan menangkap Presiden Nicolas Maduro. Operasi tersebut menjadi salah satu aksi paling sensitif dalam hubungan geopolitik kawasan Amerika Latin dalam beberapa tahun terakhir.
Dalam pernyataan resmi yang dirilis Minggu (4/1/2026), pemerintah Kuba menyebut seluruh korban merupakan anggota angkatan bersenjata dan badan intelijen. Mereka diketahui sedang menjalankan tugas pengamanan strategis di wilayah Venezuela.
Kuba juga menetapkan masa berkabung nasional selama dua hari, yakni 5–6 Januari 2026. Pemerintah menyatakan prosesi pemakaman akan diumumkan secara terpisah setelah koordinasi internal selesai dilakukan.
Menurut keterangan resmi yang dikutip dari BBC, para personel tersebut gugur dalam perlawanan sengit. Sebagian tewas dalam kontak langsung dengan pasukan penyerang, sementara lainnya meninggal akibat serangan bom di sejumlah fasilitas.
Operasi Amerika Serikat ini disebut menyasar langsung Presiden Venezuela Nicolas Maduro. Dalam laporan lanjutan, Maduro dan istrinya, Cilia Flores, ditangkap di Caracas pada Sabtu (3/1/2026) dan diterbangkan ke Amerika Serikat.
Maduro saat ini ditahan di sebuah pusat penahanan di New York. Ia dijadwalkan menghadiri sidang pengadilan terkait tuduhan narkoba dan narco-terorisme yang telah dilayangkan pemerintah AS sejak 2020.
Kuba selama ini dikenal sebagai salah satu sekutu utama Venezuela. Dukungan Havana mencakup kerja sama keamanan, intelijen, dan pelatihan militer sejak Maduro menjabat sebagai presiden.
Meski demikian, hingga kini belum ada kejelasan berapa jumlah pasukan Kuba yang berada di Venezuela saat operasi berlangsung. Tidak semua korban dipastikan tewas di lokasi yang sama.
Pengamat menilai operasi ini berpotensi memperkeruh stabilitas regional. Aksi sepihak lintas negara dinilai membawa implikasi besar terhadap hukum internasional dan kedaulatan negara.
Peristiwa ini juga membuka babak baru ketegangan antara Amerika Serikat, Kuba, dan Venezuela. Respons lanjutan dari negara-negara Amerika Latin dan forum internasional kini menjadi sorotan global.














