JAKARTA, Cobisnis.com – PT Mayawana Persada memperkuat kesiapsiagaan menghadapi Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) di wilayah kerja Kabupaten Ketapang dan Kabupaten Kayong Utara, Kalimantan Barat, dengan mengandalkan respons cepat di lapangan serta pengelolaan hidrologi gambut berbasis sains.
Langkah tersebut dilakukan di tengah ancaman puncak musim kemarau dan fenomena El Niño. Tim gabungan perusahaan dikerahkan untuk memadamkan titik api, mengendalikan penyebaran, sekaligus mencegah kebakaran meluas ke wilayah lain.
Direktur PT Mayawana Persada Iwan Budiman mengatakan penanganan karhutla dilakukan dengan prinsip melokalisasi api sedini mungkin. Pemantauan titik panas dilakukan secara real-time melalui platform SiPongi yang disinkronkan dengan patroli darat harian.
“Prioritas kami saat ini adalah memastikan penanganan kebakaran dilakukan secepat dan seefektif mungkin, sekaligus mencegah dampaknya meluas terhadap lingkungan dan masyarakat. Kami menyadari bahwa kejadian ini juga menjadi perhatian berbagai pihak. Karena itu, selain mengerahkan sumber daya untuk penanganan di lapangan, kami melakukan evaluasi secara menyeluruh terhadap kondisi kawasan dan langkah-langkah pengelolaan yang perlu diperkuat ke depan,” ujar Iwan.
Saat ini, perusahaan mengerahkan tujuh regu inti dan regu pendukung dengan total 170 personel yang tersebar di delapan posko pemadam. Kesiapan tersebut didukung sarana pemadaman sesuai standar P32, menara pantau, drone, pesawat nirawak VTOL, CCTV, serta 74 titik sumber air yang tersebar di empat sektor operasional.
Patroli dilakukan selama 24 jam setiap hari, baik siang maupun malam, disertai pemadaman langsung dan pembuatan sekat bakar sesuai kondisi lapangan. Setelah api dikendalikan, tim melakukan pendinginan serta pemantauan berkala untuk mengantisipasi munculnya kembali titik api.
Selain respons pemadaman, Mayawana Persada juga memperkuat pengelolaan hidrologi untuk menekan risiko kebakaran di lahan gambut. Asisten Kepala Environment PT Mayawana Persada Agus Trijoko menjelaskan, kanal di dalam konsesi difungsikan untuk menahan dan mengatur distribusi air atau rewetting.
“Menghadapi musim kemarau dan El Niño, seluruh pintu kanal ditutup rapat guna mempertahankan cadangan air di dalam bentang lahan. Secara teknis, perusahaan menjaga Tinggi Muka Air (TMA) rata-rata pada kisaran 40 sentimeter untuk memastikan lahan tetap lembap tanpa menggenangi perakaran tanaman,” jelas Agus.
Pengelolaan tinggi muka air tersebut dipantau secara real-time selama 24 jam menggunakan stasiun sensor telemetri otomatis atau level logger. Langkah ini ditujukan untuk menjaga kelembapan gambut dan mengurangi risiko terjadinya kebakaran bawah permukaan yang sulit dideteksi.
Di tingkat masyarakat, perusahaan juga menyalurkan bantuan sarana dan prasarana pemadam kebakaran kepada Desa Padu Banjar, Kecamatan Simpang Hilir, Kabupaten Kayong Utara, melalui program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (CSR).
Bantuan tersebut menjadi bagian dari kolaborasi Working Group Landscape MATA PANDAWA untuk memperkuat kemampuan masyarakat dalam mendeteksi dan menangani potensi karhutla secara mandiri.
Selain pencegahan kebakaran, Mayawana Persada menjalankan program rehabilitasi gambut dan perlindungan kawasan konservasi. Revegetasi difokuskan pada spesies pohon endemik rawa gambut, dengan bibit yang dibudidayakan di Revegetation Nursery internal.
Asisten Sustainability PT Mayawana Persada Charia Salasari mengatakan pola tanam dilakukan dengan jarak 5 x 5 meter dan evaluasi silvikultur setiap enam bulan.
“Bibit dibudidayakan langsung di Revegetation Nursery internal di dalam kawasan hutan agar terbiasa dengan iklim setempat. Melalui pola tanam berjarak 5 x 5 meter dan evaluasi silvikultur berkala setiap enam bulan, tingkat keberhasilan tumbuh (survival rate) bibit revegetasi kami saat ini telah mencapai sekitar 80 persen,” terang Charia.
Perusahaan juga mengusulkan peningkatan alokasi kawasan konservasi dari 37.000 hektare menjadi 71.000 hektare dalam revisi Rencana Kerja Usaha (RKU). Perluasan tersebut mencakup penguatan perlindungan bentang alam di wilayah selatan konsesi.
Asisten Kepala Sustainability Muharjan mengatakan kawasan konservasi tersebut juga berfungsi sebagai koridor bagi satwa liar.
“Kawasan konservasi berkanopi rapat ini menjadi koridor jelajah yang aman bagi populasi orangutan (Pongo pygmaeus) dan satwa endemik Kalimantan lainnya sekaligus memberi jaminan kelestarian ekologis bagi masyarakat sekitar,” pungkas Muharjan.
Melalui penguatan tim lapangan, pemantauan hotspot, pengelolaan hidrologi gambut, pemberdayaan masyarakat, hingga rehabilitasi ekosistem, PT Mayawana Persada menyatakan terus memperkuat upaya pencegahan dan penanganan karhutla di Kalimantan Barat berbasis science-based forestry.













