JAKARTA, Cobisnis.com – Warga China mengubah cara mereka menikmati Piala Dunia 2026. Selain itu, tren nonton bareng di bar atau restoran mulai berkurang.
Sebagian besar penonton kini memilih menonton dari rumah. Mereka mengandalkan perangkat pribadi seperti ponsel dan smart TV.
Namun, perubahan ini tidak terjadi tanpa alasan. Perbedaan zona waktu lebih dari 12 jam menjadi faktor utama.
Akibatnya, banyak pertandingan tayang pada malam hingga dini hari. Karena itu, masyarakat merasa nobar tidak lagi praktis.
Di sisi lain, kebiasaan tinggal di rumah semakin kuat di kota besar. Jarak tempat tinggal yang jauh ikut memperkuat pilihan tersebut.
Selain itu, perkembangan teknologi digital juga mendorong perubahan ini. Jaringan 5G yang luas membuat streaming berjalan lebih stabil.
Harga paket data yang lebih terjangkau juga ikut berperan. Karena itu, masyarakat lebih mudah mengakses siaran langsung di gawai mereka.
Sementara itu, platform digital lokal ikut bersaing memperebutkan penonton. Xiaohongshu bekerja sama dengan China Media Group untuk menayangkan pertandingan secara gratis.
Di sisi lain, Douyin menghadirkan komentator populer dan fitur berbasis kecerdasan buatan. Mereka berupaya menarik pengguna lewat pengalaman menonton yang lebih interaktif.
Persaingan platform juga terlihat dari data unduhan aplikasi. Aplikasi siaran CCTV menempati posisi tinggi di toko aplikasi China.
Selain itu, aplikasi olahraga dan media sosial lain ikut masuk daftar populer. Tren ini menunjukkan kuatnya konsumsi konten digital.
Tencent Cloud juga mencatat perkembangan besar di sektor infrastruktur. Mereka mendukung layanan siaran Piala Dunia di berbagai wilayah Asia Pasifik.
Dengan demikian, penyiaran pertandingan kini semakin terhubung secara global. Akses tontonan sepak bola pun bergerak ke arah digital dan personal.













