JAKARTA, Cobisnis.com – Industri buy now pay later (BNPL) atau paylater di Indonesia mencatat pertumbuhan sangat cepat, namun dibayangi risiko kredit macet yang masih tinggi.
PT Pefindo Biro Kredit (IdScore) melaporkan outstanding paylater dari berbagai industri mencapai Rp56,3 triliun hingga Februari 2026.
Nilai tersebut tumbuh 86,7 persen secara tahunan dibanding periode yang sama tahun sebelumnya. Ini menunjukkan permintaan layanan cicilan instan masih sangat kuat.
Jumlah pengguna juga terus naik. Hingga Februari 2026, layanan paylater digunakan oleh 26,2 juta debitur atau tumbuh 56,7 persen.
Pertumbuhan ini jauh melampaui kredit konsumtif konvensional, termasuk kartu kredit yang cenderung stagnan di kisaran 3–6 persen per tahun.
Meski tumbuh cepat, rasio kredit bermasalah atau non performing loan (NPL) pada segmen paylater masih berada di sekitar 5 persen.
Angka itu jauh di atas rata-rata NPL kredit nasional yang berada di kisaran 2,85 persen. Kondisi ini menjadi alarm bagi industri pembiayaan digital.
IdScore mencatat NPL paylater sempat turun ke 3,21 persen pada 2024, namun kembali naik menjadi 5,14 persen di 2025 dan berpotensi meningkat lagi tahun ini.
Pola multi akun juga menjadi perhatian. Rata-rata satu debitur memiliki tujuh fasilitas kredit aktif di seluruh lembaga jasa keuangan.
Fenomena tersebut meningkatkan risiko overleverage, yaitu kondisi saat utang melebihi kemampuan membayar. Jika tidak dikendalikan, tekanan keuangan rumah tangga bisa membesar.
Sebagian besar transaksi paylater juga masih digunakan untuk kebutuhan konsumtif seperti belanja online, fesyen, dan makanan, bukan kegiatan produktif.
IdScore menilai pertumbuhan kredit tetap positif, namun industri perlu menyeimbangkan ekspansi bisnis dengan mitigasi risiko dan edukasi keuangan masyarakat.













