JAKARTA,Cobisnis.com – Energi panas bumi kian berperan dalam mendorong kesejahteraan masyarakat dan pembangunan daerah berkelanjutan melalui pemanfaatan langsung untuk kegiatan produktif, penyaluran bonus produksi, serta program pemberdayaan di wilayah sekitar operasinya. Hal ini terungkap dalam Seminar Nasional Panas Bumi yang digelar di Mercure Cikini, Jakarta, Rabu (17/6).
Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mencatat pengembangan panas bumi telah menghasilkan berbagai inovasi yang mendukung ketahanan pangan dan ekonomi lokal.
Koordinator Investasi dan Kerja Sama Panas Bumi Kementerian ESDM Mustika Delimantoro menyampaikan, “Panas bumi tidak hanya menghasilkan energi listrik, tetapi juga dapat dimanfaatkan secara langsung untuk meningkatkan produktivitas ekonomi masyarakat, memperkuat ketahanan pangan, dan menciptakan nilai tambah bagi daerah.”
Manfaat panas bumi juga dirasakan pemerintah daerah melalui mekanisme bonus produksi. Sekretaris Daerah Kabupaten Garut Nurdin Yana mengungkapkan bahwa sepanjang 2015–2025 Kabupaten Garut menerima bonus produksi panas bumi sebesar Rp137,84 miliar.
“Bonus produksi panas bumi telah menjadi instrumen penting yang memungkinkan pemerintah daerah mempercepat pembangunan dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat di sekitar wilayah pengembangan,” ungkap Nurdin Yana.
Dana tersebut dimanfaatkan untuk mendukung pembangunan daerah. Pada 2025, Pemerintah Kabupaten Garut mengalokasikan Rp14,43 miliar, di mana Rp7,21 miliar digunakan untuk bantuan keuangan bagi 36 desa, sementara Rp2,89 miliar dialokasikan untuk hibah kepada 94 penerima sarana keagamaan.
Dana bonus produksi juga digunakan untuk pembangunan dan rekonstruksi sejumlah ruas jalan strategis, termasuk Jalan Cigadog, Jalan Palnunjuk–Pasirwangi, dan Jalan Pasirwangi–Darajat.
Adapun pada tahun 2026, alokasi bonus produksi sebesar Rp8,40 miliar digunakan untuk pembangunan tanggul sungai, rehabilitasi jaringan irigasi, pembangunan sistem penyediaan air minum (SPAM), Pembangunan fasilitas sanitasi (MCK), rekonstruksi jalan desa, hingga rehabilitasi sekolah dasar dan sekolah menengah pertama.
Selain manfaat ekonomi dan fiskal, sektor panas bumi juga mendorong lahirnya inovasi lingkungan dan sosial. Salah satu praktiknya ditunjukkan oleh Star Energy Geothermal, yang mengoperasikan lapangan panas bumi Wayang Windu, Darajat, dan Salak dengan total kapasitas terpasang mencapai 929,3 MW, setara pasokan energi bersih bagi sekitar 1,44 juta rumah tangga Indonesia per tahun.
“Keberhasilan pengembangan panas bumi tidak hanya diukur dari energi yang dihasilkan, tetapi juga dari dampak positif yang dapat dirasakan masyarakat dan lingkungan secara berkelanjutan,” ujar Ismail Hidayat, Kepala Teknik Panas Bumi Star Energy Geothermal Wayang Windu.
Di bidang pemberdayaan masyarakat, Star Energy Geothermal mengembangkan program Tumbuh Bersama melalui budidaya jamur yang melibatkan kelompok masyarakat lokal. Program tersebut berhasil membentuk Genki Noko Farm yang kini memiliki kapasitas produksi hingga 40.000 baglog jamur, telah berbadan hukum Perseroan Perorangan, dan meningkatkan kas usaha dari Rp1 juta menjadi Rp30 juta. Program ini juga mendukung penyediaan bahan pangan untuk kegiatan pencegahan stunting.
Inovasi sosial tersebut turut menghasilkan manfaat lingkungan dan ekonomi yang terukur. Pemanfaatan limbah jerami padi dan kulit kopi sebagai media tanam jamur mampu mencegah emisi gas rumah kaca sebesar sekitar 3.787 kilogram CO2e per tahun, menciptakan potensi tambahan pendapatan masyarakat sebesar Rp12,75 juta per tahun.
Dengan memanfaatkan potensi panas bumi, Indonesia memiliki peluang besar untuk mengoptimalkan pemanfaatan energi ini, tidak hanya sebagai sumber energi bersih, tetapi juga sebagai instrumen pembangunan yang mampu menghadirkan manfaat ekonomi, sosial, dan lingkungan secara bersamaan.













