JAKARTA, Cobisnis.com – Pandji Pragiwaksono menyoroti penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang berdampak pada masyarakat di sejumlah wilayah Indonesia. Ia menilai pemerintah perlu menunjukkan ketegasan dan komitmen jangka panjang agar kebakaran tidak terus berulang setiap tahun.
Dalam pembahasannya, Pandji menyinggung kondisi warga di Kalimantan, Sumatera, Nusa Tenggara Timur, Papua, dan sejumlah daerah lain yang terdampak karhutla. Asap yang berlangsung selama berbulan-bulan disebut mengganggu aktivitas masyarakat, memperburuk kualitas udara, serta meningkatkan risiko gangguan pernapasan, terutama pada anak-anak.
Pandji juga menyoroti permintaan masyarakat terdampak agar persoalan karhutla terus disuarakan. Menurutnya, perhatian publik dan pemerintah tidak boleh menghilang hanya karena isu tersebut mulai jarang dibicarakan.
“Pemerintah itu bukan pihak yang tepat untuk mengeluh susah. Pemerintah itu justru diharapkan untuk mengerjakan yang susah-susah,” ujar Pandji, dikutip dari kanal YouTube Pandji Pragiwaksono, Jumat (16/10/2026).
Ia mengakui pemadaman karhutla bukan pekerjaan mudah. Luasnya area terbakar, kemunculan titik api baru, kondisi cuaca, serta api yang dapat bertahan di bawah permukaan tanah menjadi sejumlah tantangan dalam proses pemadaman.
Namun, Pandji menilai penanganan kebakaran tidak cukup hanya berfokus pada pemadaman. Upaya pencegahan, penegakan hukum, serta evaluasi terhadap konsesi dan perusahaan yang berkaitan dengan lahan terbakar juga perlu mendapat perhatian serius.
Ia turut menyoroti dugaan praktik pembukaan lahan dengan cara membakar karena dinilai lebih murah. Menurut Pandji, persoalan tersebut perlu ditangani melalui pengawasan dan penegakan aturan yang konsisten, tanpa mengabaikan kebutuhan untuk menjaga lingkungan.
Selain itu, Pandji menilai ketergantungan ekonomi terhadap industri kelapa sawit menjadi salah satu tantangan dalam mendorong perubahan kebijakan. Ia berpendapat pemerintah perlu menyiapkan alternatif ekonomi secara bertahap agar upaya mengurangi dampak lingkungan dapat berjalan berkelanjutan.
Pandji juga mengkritik pernyataan pejabat yang dinilai tidak sensitif terhadap penderitaan warga terdampak. Ketika masyarakat menghadapi asap dan gangguan kesehatan, ia menilai komunikasi pemerintah seharusnya menunjukkan empati serta menjelaskan langkah konkret yang sedang dilakukan.
Ia menegaskan bahwa perhatian masyarakat melalui konten dan media sosial dapat menjadi salah satu cara untuk menjaga tekanan publik terhadap pemerintah. Menurutnya, suara warga perlu terus disampaikan agar penanganan karhutla tidak berhenti pada respons darurat, tetapi juga mencakup pencegahan agar bencana serupa tidak terus berulang.













