JAKARTA, Cobisnis.com – Ketika Pendeta Martin Luther King Jr. berdiri di podium Lincoln Memorial pada Agustus 1963, di tengah terik panas dan sorotan ratusan ribu massa, ia tidak hanya menyampaikan pidato yang kelak dikenang sebagai salah satu yang terbesar dalam sejarah Amerika. Ia juga menghidupkan kembali sebuah gagasan lama tentang “mimpi” yang jarang diketahui publik berasal dari sosok lain.
Pidato “I Have a Dream” King disaksikan langsung oleh Presiden John F. Kennedy dari Gedung Putih, yang kala itu memuji kemampuan oratoris King. Di panggung yang sama, penyanyi Mahalia Jackson bahkan mendorong King untuk berbicara tentang “mimpi”-nya, yang kemudian menjadi bagian paling ikonik dari pidato tersebut. Sekitar 250.000 orang, termasuk selebritas ternama, menyaksikan momen bersejarah itu.
Namun, King bukanlah orang pertama yang mempopulerkan metafora “mimpi” sebagai gambaran masa depan Amerika. Ide tersebut pertama kali dipopulerkan oleh James Truslow Adams, seorang bankir Wall Street berkacamata yang menulis buku laris The Epic of America pada awal 1930-an, di tengah Depresi Besar. Adams-lah yang memperkenalkan istilah “American Dream” secara luas kepada publik.
Dalam bukunya, Adams menggambarkan mimpi Amerika bukan sekadar tentang kekayaan atau upah tinggi, melainkan tentang tatanan sosial di mana setiap orang pria maupun perempuan dapat mencapai potensi terbaiknya tanpa dibatasi oleh latar belakang kelahiran. Istilah ini kemudian menyebar luas dan menjadi bagian dari kesadaran nasional Amerika, bahkan digunakan dalam sastra dan budaya populer.
Sejarawan menyebut King sebagai sosok yang memberi “jiwa” baru pada gagasan tersebut. Ia merangkai mimpi Adams ke dalam perjuangan hak-hak sipil, mengubah metafora yang sebelumnya bersifat abstrak menjadi seruan moral yang menggugah emosi dan aksi. King mengulang frasa “I have a dream” dengan kekuatan retorika yang membuatnya abadi dalam ingatan publik.
Perbedaan latar belakang keduanya sangat kontras. Adams adalah pendukung kapitalisme dan pemerintahan kecil, sementara King memperjuangkan keadilan sosial, kesetaraan ras, dan peran negara yang lebih besar dalam melindungi kelompok tertindas. Meski demikian, keduanya sama-sama memimpikan Amerika yang lebih adil dan harmonis.
Hingga kini, perdebatan tentang “American Dream” masih relevan. Ketimpangan ekonomi yang melebar, menurunnya kepercayaan publik terhadap pemerintah, serta polarisasi sosial membuat banyak warga Amerika meragukan ketercapaian mimpi tersebut. Namun, pidato King tetap menjadi pengingat bahwa mimpi itu pernah dan mungkin masih bisa menyatukan bangsa.
Sejarawan menilai, meski Adams memperkenalkan konsepnya, King-lah yang membuat mimpi itu menggema sepanjang sejarah. Ia mengubah gagasan lama menjadi visi yang menggerakkan jutaan orang dan menjadi tolok ukur moral Amerika hingga hari ini.














