JAKARTA, Cobisnis.com – Iran menolak mengirim delegasi untuk bertemu utusan Amerika Serikat di Pakistan sebelum serangan di Lebanon dihentikan.
Keputusan ini diambil sebagai bentuk protes atas berlanjutnya serangan Israel, meski sebelumnya telah disepakati gencatan senjata selama dua pekan antara Iran dan AS.
Rencana pertemuan damai di Islamabad sejatinya menjadi upaya meredakan ketegangan, dengan Pakistan sebagai mediator dalam dialog kedua negara.
Namun, Iran menilai kesepakatan gencatan senjata tidak dijalankan secara menyeluruh karena serangan di Lebanon masih terus berlangsung.
Media Iran melaporkan delegasi Teheran belum berangkat ke Pakistan dan belum ada rencana menghadiri perundingan dalam waktu dekat.
Pemerintah Iran menegaskan partisipasi dalam dialog sangat bergantung pada kondisi di lapangan, terutama penghentian serangan sebagai bentuk komitmen nyata.
Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baghaei, menyebut dialog hanya bisa dilakukan jika semua pihak mematuhi kesepakatan gencatan senjata.
Di sisi lain, terdapat perbedaan pandangan terkait cakupan gencatan senjata. Iran dan Pakistan menyebut Lebanon termasuk, sementara AS dan Israel tidak.
Perbedaan interpretasi ini memperumit proses diplomasi dan berpotensi memperpanjang konflik di kawasan.
Data terbaru menunjukkan sejak 8 April 2026, sedikitnya 303 orang tewas dan 1.150 lainnya luka-luka akibat serangan di Lebanon.
Secara keseluruhan sejak 2 Maret 2026, korban mencapai 1.888 orang meninggal dan 6.092 luka-luka, mencerminkan eskalasi yang masih tinggi.
Kondisi ini berdampak pada stabilitas Timur Tengah dan berpotensi memengaruhi dinamika politik global.
Penolakan Iran menegaskan bahwa proses diplomasi masih menghadapi hambatan besar dan membutuhkan komitmen lebih kuat dari semua pihak.













