JAKARTA, Cobisnis.com – Pemerintah Mesir resmi menaikkan tarif listrik untuk rumah tangga berdaya besar dan sektor bisnis mulai April 2026 di tengah tekanan krisis energi global akibat perang.
Kebijakan ini diambil saat kondisi fiskal negara tertekan akibat lonjakan biaya impor energi. Pemerintah berupaya menjaga pasokan listrik sambil menahan beban anggaran.
Tarif listrik rumah tangga naik rata-rata 16%, sementara sektor bisnis meningkat sekitar 20%. Namun, konsumsi rumah tangga hingga 2.000 kWh per bulan tidak terdampak.
Pemerintah memprioritaskan perlindungan bagi masyarakat berpenghasilan rendah dan membebankan kenaikan pada pengguna energi tinggi serta sektor komersial.
Langkah ini menjadi bagian dari kebijakan penghematan energi sejak Maret 2026, termasuk pembatasan jam operasional tempat usaha.
Perdana Menteri Mostafa Madbouly menyebut impor energi Mesir melonjak lebih dari dua kali lipat sejak konflik AS, Israel, dan Iran memanas, sehingga membebani keuangan negara.
Selain listrik, harga BBM dan tarif transportasi juga naik, sementara sejumlah proyek negara ditunda untuk menekan anggaran.
Mesir masih dibayangi beban utang besar, dengan pembayaran bunga menyerap hampir setengah pengeluaran pemerintah pada 2026.
Inflasi yang masih tinggi turut memperparah tekanan ekonomi, meski sudah turun dari puncak 38% pada 2023.
Kebijakan ini dinilai sebagai langkah sulit namun perlu untuk menjaga stabilitas ekonomi di tengah ketidakpastian global.













