JAKARTA, Cobisnis.com – Hubungan orangtua dan anak yang terasa melelahkan tidak selalu disebabkan oleh sikap toxic atau narsistik. Dalam banyak kasus, masalah muncul karena orangtua belum dewasa secara emosional.
Psikolog klinis Lindsay C. Gibson menjelaskan, orangtua yang tidak dewasa secara emosional kesulitan mengelola stres dan emosi. Akibatnya, mereka tidak mampu merespons kebutuhan emosional anak secara konsisten.
Menurut Gibson, orangtua dengan ketidakmatangan emosional tidak selalu bersikap buruk. Mereka tetap memiliki sisi positif, tetapi kehadiran emosionalnya bergantung pada suasana hati, bukan kebutuhan anak.
Kondisi ini membuat anak sering merasa tidak aman secara emosional. Anak harus menyesuaikan diri dengan perubahan emosi orangtua yang sulit diprediksi dalam kehidupan sehari-hari.
Saat menghadapi konflik atau kritik, orangtua yang tidak dewasa emosional bisa bereaksi berlebihan. Sebagian menarik diri, menghindar, atau bahkan menghilang secara emosional.
Gibson mengelompokkan orangtua tidak dewasa emosional ke dalam empat tipe utama. Meski satu orangtua bisa memiliki lebih dari satu ciri, biasanya ada pola yang paling dominan.
Tipe pertama adalah orangtua reaktif. Mereka bisa hangat saat situasi sesuai keinginan, tetapi mudah marah dan emosinya berubah drastis ketika merasa terganggu.
Tipe kedua adalah orangtua yang sangat kritis. Mereka menetapkan standar tinggi dan sering mengontrol kehidupan anak, termasuk hingga usia dewasa.
Tipe ketiga adalah orangtua pasif. Mereka tampak ramah dalam situasi ringan, namun menghindar ketika anak membutuhkan perlindungan atau dukungan emosional.
Tipe keempat adalah orangtua yang tidak hadir secara emosional. Anak kerap merasa tidak cukup penting, yang berdampak pada harga diri rendah dan pola hubungan tidak sehat saat dewasa.
Para ahli menilai menetapkan batasan yang jelas dan menjaga jarak emosional yang sehat dapat membantu mengurangi konflik. Meski sulit, pola hubungan yang tidak sehat tetap dapat diubah.














