JAKARTA, Cobisnis.com – Istilah odyssey sering digunakan untuk menggambarkan perjalanan panjang yang penuh tantangan. Namun, kata tersebut berasal dari karya sastra Yunani Kuno berjudul The Odyssey yang ditulis oleh Homer.
Epos itu mengisahkan Odysseus, Raja Ithaca, yang berjuang kembali ke kampung halamannya setelah Perang Troya. Ia menghabiskan 10 tahun berperang dan harus menjalani perjalanan pulang selama 10 tahun lagi.
Padahal, jarak antara Troya dan Ithaca hanya sekitar 560 mil laut. Dengan teknologi pelayaran pada masa itu, perjalanan tersebut diperkirakan dapat ditempuh dalam satu hingga dua pekan jika cuaca mendukung.
Namun, Odysseus terus menghadapi berbagai rintangan. Dalam kisah tersebut, para dewa, kekuatan alam, dan kesalahan manusia berulang kali menggagalkan usahanya untuk pulang.
Sepanjang perjalanan, Odysseus dan krunya menghadapi banyak ujian. Mereka memakan buah yang membuat mereka melupakan tujuan pulang, terjebak di gua Cyclops bermata satu, dan beberapa kali tersesat ketika hampir tiba di Ithaca.
Selain itu, mereka bertemu berbagai makhluk mitologi yang berbahaya. Di antaranya adalah monster pemakan manusia, Sirens yang memikat pelaut dengan nyanyian, serta Scylla dan Charybdis yang mengancam kapal di laut.
Odysseus juga harus melakukan perjalanan ke dunia bawah dan menjalankan ritual pengorbanan darah. Sementara itu, sebagian krunya berubah menjadi babi akibat sihir, dan seluruh anggota rombongannya akhirnya tewas sebelum mereka tiba di tujuan.
Pada akhir kisah, Odysseus menjadi satu-satunya yang selamat. Meski begitu, ia masih harus menjalani penahanan selama bertahun-tahun oleh Calypso sebelum akhirnya dapat kembali ke Ithaca.
Karena itu, istilah odyssey kini tidak lagi sekadar merujuk pada perjalanan biasa. Kata tersebut menggambarkan perjalanan panjang yang dipenuhi rintangan, cobaan, dan perjuangan sebelum mencapai tujuan akhir.













