JAKARTA, Cobisnis.com – Pemimpin oposisi Venezuela, María Corina Machado, mengunjungi Gedung Putih pada hari Kamis dengan membawa hadiah istimewa untuk Presiden AS Donald Trump: medali Nobel Perdamaian miliknya. Machado, yang memenangkan penghargaan tersebut tahun lalu atas kampanye demokratisasinya, memberikan medali itu sebagai simbol rasa syukur atas tindakan tegas AS dalam upaya membebaskan Venezuela.
Namun, pengorbanan besar Machado tampaknya belum membuahkan hasil politik yang nyata. Alih-alih mendapatkan pengakuan sebagai pemimpin masa depan Venezuela pasca-tumbangnya Nicolás Maduro, Machado justru keluar dari Gedung Putih hanya dengan membawa sebuah tas bingkisan (swag bag) bermerek Trump. Trump sejauh ini lebih memilih untuk mendukung mantan Wakil Presiden Maduro, Delcy Rodriguez, sebagai penjabat presiden dengan alasan stabilitas dan pragmatisme.
Komite Nobel di Oslo pun segera bereaksi terhadap penyerahan medali tersebut. Melalui media sosial X, mereka menegaskan bahwa gelar pemenang Nobel tidak dapat dipindahtangankan meskipun medalinya berpindah tangan. Sementara itu, Sekretaris Pers Gedung Putih, Karoline Leavitt, menyatakan bahwa meskipun Trump menganggap Machado sebagai sosok yang berani, pendapatnya belum berubah bahwa Machado dianggap kurang memiliki dukungan yang cukup untuk memimpin Venezuela saat ini.
Machado tetap bersikap optimis dan menyebut pertemuan tersebut sebagai momen “bersejarah.” Ia menekankan pentingnya membangun kembali institusi dan mendesak adanya proses pemilihan umum yang murni. Ia juga bersikeras bahwa presiden terpilih yang sah adalah Edmundo González, kandidat yang sebelumnya sempat diakui oleh AS sebelum perubahan arah kebijakan Trump yang kini lebih condong kepada Rodriguez.














