• © Copyright 2025 Cobinis.com – All Right Reserved
Tuesday, October 6, 2026
Cobisnis
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Ekonomi Bisnis
  • Nasional
  • Lifestyle
  • Entertaiment
  • Humaniora
  • Sport
  • Teknologi
  • Otomotif
  • Foto
  • Beranda
  • Ekonomi Bisnis
  • Nasional
  • Lifestyle
  • Entertaiment
  • Humaniora
  • Sport
  • Teknologi
  • Otomotif
  • Foto
No Result
View All Result
Cobisnis
No Result
View All Result
Home Lifestyle

Marcus Samuelsson Yakin Masa Depan Fine Dining Ada di Afrika

Zahra Zahwa by Zahra Zahwa
February 12, 2026
in Lifestyle
0
Marcus Samuelsson Yakin Masa Depan Fine Dining Ada di Afrika

JAKARTA, Cobisnis.com – Koki ternama Ethiopia-Swedia, Marcus Samuelsson, meyakini bahwa masa depan fine dining atau kuliner kelas atas berada di Afrika. Bagi Samuelsson, masakan Afrika bukanlah tren baru yang sedang “datang”, melainkan tradisi kuliner yang telah lama mengakar, kaya sejarah, dan memiliki standar sendiri tanpa perlu validasi Barat.

“Kami tahu makanan kami luar biasa. Lezat. Terhubung dengan spiritualitas dan sejarah kami. Jadi mengapa standar harus datang dari luar?” ujar Samuelsson.

Koki berbasis di New York tersebut dikenal luas sebagai salah satu chef paling berpengaruh di dunia. Ia menjadi koki termuda yang menerima ulasan bintang tiga dari The New York Times, memenangkan ajang Top Chef Masters, memasak untuk para presiden dan pemimpin dunia, serta menulis sejumlah buku masak ternama.

Menurutnya, selama ini kuliner Afrika kerap disalahpahami karena diperlakukan sebagai satu kesatuan tunggal. Padahal Afrika adalah benua dengan keragaman luar biasa.

“Makanan Senegal berbeda dengan Ethiopia. Masakan Maroko berbeda dengan Afrika Selatan. Tapi sering kali Afrika dibicarakan seolah-olah hanya satu hal,” ujarnya.

Ia menilai penyederhanaan tersebut membuat kecanggihan kuliner Afrika terlambat diakui secara global. Padahal, menurutnya, konsep fine dining sudah lama hadir dalam tradisi Afrika, lengkap dengan teknik memasak rumit, fermentasi berusia ratusan tahun, racikan rempah kompleks, hingga filosofi terroir keterkaitan antara makanan dengan geografi, iklim, dan sejarah.

“Fine dining di Afrika bukan hal baru bagi kami. Itu baru bagi dunia,” tegasnya.

Samuelsson tidak hanya berbicara, tetapi juga berinvestasi langsung dalam pengembangan kuliner Afrika. Ia baru membuka restoran di Addis Ababa, Ethiopia, yang terletak di salah satu gedung tertinggi di Afrika Timur. Namun proyek tersebut bukan sekadar simbol kemewahan.

Di dekat restoran itu terdapat sekolah kuliner kecil, dan para siswanya kini bekerja di restorannya. “Itu benar-benar jalur menuju industri perhotelan,” katanya.

Menurutnya, terlalu sering talenta muda Afrika didorong untuk mencari sukses di London atau New York. Ia ingin menunjukkan bahwa kesuksesan juga bisa dibangun di tanah air sendiri, sekaligus memperkuat ekonomi lokal, pariwisata, dan kebanggaan nasional.

Lahir di Ethiopia dan diadopsi keluarga Swedia saat kecil, Samuelsson tumbuh dengan identitas budaya yang kompleks. Ia mengaku menemukan kembali jati dirinya melalui makanan dan budaya.

“Ketika diadopsi, identitas terasa seperti dijalani secara terbalik. Makanan dan budaya memberi saya identitas itu,” ujarnya.

Dalam perjalanannya di industri kuliner yang minim representasi, ia berkomitmen merekrut perempuan dan orang-orang dari latar belakang beragam ketika memiliki restorannya sendiri. Banyak chef yang pernah bekerja dengannya kini membuka restoran sendiri, termasuk di berbagai negara Afrika.

Saat berbicara tentang arah fine dining Afrika, Samuelsson mencontohkan industri musik seperti Afrobeats dan Amapiano yang berkembang pesat dengan membangun basis kuat di dalam negeri sebelum mendunia.

“Mereka tidak menunggu Barat untuk menciptakan budaya mereka. Mereka memastikan karyanya luar biasa, dan sekarang mereka menetapkan standar,” katanya.

Ia yakin kuliner Afrika sedang berada di jalur yang sama. Dengan populasi lebih dari satu miliar orang, Afrika dinilainya memiliki kekuatan untuk menetapkan standar sendiri.

“Tidak ada yang datang ke restoran hanya karena lapar. Mereka datang untuk pengalaman,” ujarnya. “Dan pengalaman itu harus dimulai dengan rasa hormat terhadap budaya.”

Samuelsson menegaskan, Afrika tidak membutuhkan persetujuan pihak luar untuk diakui.

“Masa depan ada di Afrika. Dan untuk fine dining, kami tidak butuh persetujuan. Kami sudah punya semua yang kami butuhkan.”

Download Nulled WordPress Themes
Download Nulled WordPress Themes
Download WordPress Themes Free
Download Premium WordPress Themes Free
ZG93bmxvYWQgbHluZGEgY291cnNlIGZyZWU=
download huawei firmware
Download Best WordPress Themes Free Download
udemy paid course free download
Tags: cobisnis.comFineDiningKulinerAfrikaMarcusSamuelsson

Related Posts

Prabowo Bangga, Timnas Indonesia Buktikan Tak Kenal Menyerah Lawan Thailand

Prabowo Bangga, Timnas Indonesia Buktikan Tak Kenal Menyerah Lawan Thailand

by Hidayat Taufik
October 6, 2026
0

JAKARTA, Cobisnis.com — Presiden Prabowo Subianto mengaku senang dan bangga setelah Timnas Indonesia meraih gelar juara FIFA ASEAN Cup 2026....

Gila! Drama 120 Menit Indonesia Vs Thailand Berakhir Lewat Adu Pinalti, Garuda Juara

Gila! Drama 120 Menit Indonesia Vs Thailand Berakhir Lewat Adu Pinalti, Garuda Juara

by Hidayat Taufik
October 5, 2026
0

JAKARTA, Cobisnis.com — Timnas Indonesia berhasil merengkuh gelar FIFA ASEAN Cup 2026 setelah melewati pertandingan dramatis melawan Thailand. Gelar juara...

Jelang Final ASEAN Cup, Gianni Infantino Temui Prabowo

Jelang Final ASEAN Cup, Gianni Infantino Temui Prabowo

by Hidayat Taufik
October 5, 2026
0

JAKARTA, Cobisnis.com - Presiden Federasi Sepak Bola Internasional (FIFA) Gianni Infantino bertemu Presiden RI Prabowo Subianto di Istana Kepresidenan, Jakarta,...

MUI Tegaskan Alat Bantu Seks untuk Warga Binaan Hukumnya Haram

MUI Tegaskan Alat Bantu Seks untuk Warga Binaan Hukumnya Haram

by Hidayat Taufik
October 5, 2026
0

JAKARTA, Cobisnis.com — Majelis Ulama Indonesia (MUI) menyatakan penggunaan alat bantu seksual atau sex toy untuk menyalurkan kebutuhan biologis warga...

Sering Ngorok Saat Tidur? Ini Penyebab dan Tanda Perlu ke Dokter

Sering Ngorok Saat Tidur? Ini Penyebab dan Tanda Perlu ke Dokter

by Hidayat Taufik
October 5, 2026
0

JAKARTA, Cobisnis.com — Kebiasaan mendengkur saat tidur kerap dikaitkan dengan kondisi tidur yang nyenyak. Namun, dengkuran yang terdengar keras atau...

Load More
  • Trending
  • Comments
  • Latest
Kualitas Air dan Izin Bermasalah, 18 DAMIU Ditutup

YE Bagikan Momen Jakarta, Antusiasme Jelang Konser Makin Terasa

October 5, 2026
Nilai transaksi fesyen di TikTok Shop tumbuh 70% pada Semester I 2026. Discovery commerce membuka peluang bagi brand fesyen lokal.

Transaksi Fesyen TikTok Shop Tumbuh 70%

September 29, 2026
Portugal memastikan tiket perempat final UEFA Nations League usai mengalahkan Norwegia, sementara Jerman ditahan Yunani.

Portugal Lolos, Jerman Masih Tertahan

October 5, 2026
Mobil Paling Mahal di Dunia Saat Ini Adalah Rolls‑Royce Droptail

Mobil Paling Mahal di Dunia Saat Ini Adalah Rolls‑Royce Droptail

November 21, 2025
Prabowo Bangga, Timnas Indonesia Buktikan Tak Kenal Menyerah Lawan Thailand

Prabowo Bangga, Timnas Indonesia Buktikan Tak Kenal Menyerah Lawan Thailand

October 6, 2026
Gila! Drama 120 Menit Indonesia Vs Thailand Berakhir Lewat Adu Pinalti, Garuda Juara

Gila! Drama 120 Menit Indonesia Vs Thailand Berakhir Lewat Adu Pinalti, Garuda Juara

October 5, 2026
FBI Tangkap Perempuan yang Diduga Menguntit Keluarga Presiden Taiwan

FBI Tangkap Perempuan yang Diduga Menguntit Keluarga Presiden Taiwan

October 5, 2026
Saudi Turunkan Harga Jual Minyak bagi Pembeli dari Asia

Saudi Turunkan Harga Jual Minyak bagi Pembeli dari Asia

October 5, 2026
">
  • Redaksi
  • Profil
  • Media Kit
  • Disclaimer
  • Pedoman Media Cyber
  • Kontak

© Copyright 2025 Cobinis.com - All Right Reserved

No Result
View All Result
  • Home
  • Ekonomi & Bisnis
  • Nasional
  • Industri
  • Lifestyle
  • Humaniora
  • Kesehatan & Olahraga
  • Startup Center
  • Foto
  • Youtube

© Copyright 2025 Cobinis.com - All Right Reserved