• © Copyright 2025 Cobinis.com – All Right Reserved
Monday, March 30, 2026
Cobisnis
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Ekonomi Bisnis
  • Nasional
  • Lifestyle
  • Entertaiment
  • Humaniora
  • Sport
  • Teknologi
  • Otomotif
  • Foto
  • Beranda
  • Ekonomi Bisnis
  • Nasional
  • Lifestyle
  • Entertaiment
  • Humaniora
  • Sport
  • Teknologi
  • Otomotif
  • Foto
No Result
View All Result
Cobisnis
No Result
View All Result
Home Lifestyle

Marcus Samuelsson Yakin Masa Depan Fine Dining Ada di Afrika

Zahra Zahwa by Zahra Zahwa
February 12, 2026
in Lifestyle
0
Marcus Samuelsson Yakin Masa Depan Fine Dining Ada di Afrika

JAKARTA, Cobisnis.com – Koki ternama Ethiopia-Swedia, Marcus Samuelsson, meyakini bahwa masa depan fine dining atau kuliner kelas atas berada di Afrika. Bagi Samuelsson, masakan Afrika bukanlah tren baru yang sedang “datang”, melainkan tradisi kuliner yang telah lama mengakar, kaya sejarah, dan memiliki standar sendiri tanpa perlu validasi Barat.

“Kami tahu makanan kami luar biasa. Lezat. Terhubung dengan spiritualitas dan sejarah kami. Jadi mengapa standar harus datang dari luar?” ujar Samuelsson.

Koki berbasis di New York tersebut dikenal luas sebagai salah satu chef paling berpengaruh di dunia. Ia menjadi koki termuda yang menerima ulasan bintang tiga dari The New York Times, memenangkan ajang Top Chef Masters, memasak untuk para presiden dan pemimpin dunia, serta menulis sejumlah buku masak ternama.

Menurutnya, selama ini kuliner Afrika kerap disalahpahami karena diperlakukan sebagai satu kesatuan tunggal. Padahal Afrika adalah benua dengan keragaman luar biasa.

“Makanan Senegal berbeda dengan Ethiopia. Masakan Maroko berbeda dengan Afrika Selatan. Tapi sering kali Afrika dibicarakan seolah-olah hanya satu hal,” ujarnya.

Ia menilai penyederhanaan tersebut membuat kecanggihan kuliner Afrika terlambat diakui secara global. Padahal, menurutnya, konsep fine dining sudah lama hadir dalam tradisi Afrika, lengkap dengan teknik memasak rumit, fermentasi berusia ratusan tahun, racikan rempah kompleks, hingga filosofi terroir keterkaitan antara makanan dengan geografi, iklim, dan sejarah.

“Fine dining di Afrika bukan hal baru bagi kami. Itu baru bagi dunia,” tegasnya.

Samuelsson tidak hanya berbicara, tetapi juga berinvestasi langsung dalam pengembangan kuliner Afrika. Ia baru membuka restoran di Addis Ababa, Ethiopia, yang terletak di salah satu gedung tertinggi di Afrika Timur. Namun proyek tersebut bukan sekadar simbol kemewahan.

Di dekat restoran itu terdapat sekolah kuliner kecil, dan para siswanya kini bekerja di restorannya. “Itu benar-benar jalur menuju industri perhotelan,” katanya.

Menurutnya, terlalu sering talenta muda Afrika didorong untuk mencari sukses di London atau New York. Ia ingin menunjukkan bahwa kesuksesan juga bisa dibangun di tanah air sendiri, sekaligus memperkuat ekonomi lokal, pariwisata, dan kebanggaan nasional.

Lahir di Ethiopia dan diadopsi keluarga Swedia saat kecil, Samuelsson tumbuh dengan identitas budaya yang kompleks. Ia mengaku menemukan kembali jati dirinya melalui makanan dan budaya.

“Ketika diadopsi, identitas terasa seperti dijalani secara terbalik. Makanan dan budaya memberi saya identitas itu,” ujarnya.

Dalam perjalanannya di industri kuliner yang minim representasi, ia berkomitmen merekrut perempuan dan orang-orang dari latar belakang beragam ketika memiliki restorannya sendiri. Banyak chef yang pernah bekerja dengannya kini membuka restoran sendiri, termasuk di berbagai negara Afrika.

Saat berbicara tentang arah fine dining Afrika, Samuelsson mencontohkan industri musik seperti Afrobeats dan Amapiano yang berkembang pesat dengan membangun basis kuat di dalam negeri sebelum mendunia.

“Mereka tidak menunggu Barat untuk menciptakan budaya mereka. Mereka memastikan karyanya luar biasa, dan sekarang mereka menetapkan standar,” katanya.

Ia yakin kuliner Afrika sedang berada di jalur yang sama. Dengan populasi lebih dari satu miliar orang, Afrika dinilainya memiliki kekuatan untuk menetapkan standar sendiri.

“Tidak ada yang datang ke restoran hanya karena lapar. Mereka datang untuk pengalaman,” ujarnya. “Dan pengalaman itu harus dimulai dengan rasa hormat terhadap budaya.”

Samuelsson menegaskan, Afrika tidak membutuhkan persetujuan pihak luar untuk diakui.

“Masa depan ada di Afrika. Dan untuk fine dining, kami tidak butuh persetujuan. Kami sudah punya semua yang kami butuhkan.”

Premium WordPress Themes Download
Download Premium WordPress Themes Free
Download WordPress Themes Free
Download Nulled WordPress Themes
free online course
download lava firmware
Download Best WordPress Themes Free Download
download udemy paid course for free
Tags: cobisnis.comFineDiningKulinerAfrikaMarcusSamuelsson

Related Posts

Serangan Israel di Lebanon Picu Kecaman Indonesia, TNI Jadi Korban

Serangan Israel di Lebanon Picu Kecaman Indonesia, TNI Jadi Korban

by Hidayat Taufik
March 30, 2026
0

JAKARTA, Cobisnis.com - Pemerintah Indonesia mengecam keras insiden serangan di Lebanon yang menyebabkan gugurnya seorang prajurit TNI yang tergabung dalam...

Paul McCartney Sindir Trump saat Konser di Los Angeles

Paul McCartney Sindir Trump saat Konser di Los Angeles

by Zahra Zahwa
March 30, 2026
0

JAKARTA, Cobisnis.com – Paul McCartney tampil dalam konser intim di Los Angeles dengan suasana hangat yang dipenuhi artis ternama serta...

Israel Ubah Keputusan Setelah Misa Minggu Palma Sempat Dilarang di Yerusalem

Israel Ubah Keputusan Setelah Misa Minggu Palma Sempat Dilarang di Yerusalem

by Zahra Zahwa
March 30, 2026
0

JAKARTA, Cobisnis.com – Pemerintah Israel akhirnya membatalkan larangan terhadap misa Minggu Palma di Church of the Holy Sepulchre setelah gelombang...

Perkuat Ekonomi Rakyat, Penyaluran KUR Bank Mandiri Tembus Rp7,35 Triliun

Perkuat Ekonomi Rakyat, Penyaluran KUR Bank Mandiri Tembus Rp7,35 Triliun

by Dwi Natasya
March 30, 2026
0

JAKARTA, Cobisnis.com – Bank Mandiri terus memperkuat perannya dalam mendukung pertumbuhan ekonomi kerakyatan melalui penyaluran Kredit Usaha Rakyat (KUR). Hingga Februari...

Setelah Negosiasi, Iran Izinkan Kapal Tanker Indonesia Melintas dari Selat Hormuz

Setelah Negosiasi, Iran Izinkan Kapal Tanker Indonesia Melintas dari Selat Hormuz

by Desti Dwi Natasya
March 30, 2026
0

JAKARTA, Cobisnis.com –  Dua kapal tanker milik Indonesia yang sempat tertahan di Selat Hormuz kini telah memperoleh izin dari Iran...

Load More
  • Trending
  • Comments
  • Latest
Setelah Negosiasi, Iran Izinkan Kapal Tanker Indonesia Melintas dari Selat Hormuz

Setelah Negosiasi, Iran Izinkan Kapal Tanker Indonesia Melintas dari Selat Hormuz

March 30, 2026
Dua Kapal Tanker RI Tertahan, Pemerintah Segera Cari Pasokan Minyak Pengganti

Dua Kapal Tanker RI Tertahan, Pemerintah Segera Cari Pasokan Minyak Pengganti

March 28, 2026
Long Weekend April 2026: Libur 3 Hari Bertepatan dengan Paskah

Long Weekend April 2026: Libur 3 Hari Bertepatan dengan Paskah

March 29, 2026
Setelah Negosiasi, Iran Izinkan Kapal Tanker Indonesia Melintas dari Selat Hormuz

DLH DKI Tutup Permanen Penampungan Sampah di Sungai TPU Tanah Kusir

March 30, 2026
Serangan Israel di Lebanon Picu Kecaman Indonesia, TNI Jadi Korban

Serangan Israel di Lebanon Picu Kecaman Indonesia, TNI Jadi Korban

March 30, 2026
Paul McCartney Sindir Trump saat Konser di Los Angeles

Paul McCartney Sindir Trump saat Konser di Los Angeles

March 30, 2026
Israel Ubah Keputusan Setelah Misa Minggu Palma Sempat Dilarang di Yerusalem

Israel Ubah Keputusan Setelah Misa Minggu Palma Sempat Dilarang di Yerusalem

March 30, 2026
Jutaan Massa ‘No Kings’ Mengguncang Kota-kota AS, Apa yang Mereka Ingin Capai?

Jutaan Massa ‘No Kings’ Mengguncang Kota-kota AS, Apa yang Mereka Ingin Capai?

March 30, 2026
">
  • Redaksi
  • Profil
  • Media Kit
  • Disclaimer
  • Pedoman Media Cyber
  • Kontak

© Copyright 2025 Cobinis.com - All Right Reserved

No Result
View All Result
  • Home
  • Ekonomi & Bisnis
  • Nasional
  • Industri
  • Lifestyle
  • Humaniora
  • Kesehatan & Olahraga
  • Startup Center
  • Foto
  • Youtube

© Copyright 2025 Cobinis.com - All Right Reserved