JAKARTA, Cobisnis.com – Sebagai upaya menghasillkan paket wisata yang berkualitas dan berkelanjutan, Kementerian Pariwisata mengajak sejumlah operator tur dan agen perjalanan nusantara mengeksplorasi potensi wisata berbasis mindfulness, gastronomi, dan sejarah budaya (heritage) di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) dan kawasan Destinasi Super Prioritas (DSP) Borobudur, Magelang, Jawa Tengah.
Deputi Bidang Pemasaran Kemenpar Ni Made Ayu Marthini mengatakan kegiatan familiarization trip (famtrip) ini merupakan respons terhadap pergeseran tren wisata masyarakat, dari wisata massal menuju pengalaman yang lebih bermakna dan bernilai tinggi.
Menurut Made, perubahan tersebut sejalan dengan kebutuhan masyarakat perkotaan yang menghadapi tekanan aktivitas sehari-hari dan menjadikan liburan sebagai sarana perawatan diri (self-care), pemulihan kesehatan mental, serta kesempatan memperoleh pengalaman berkesan.
“Tren wisatawan nusantara, khususnya segmen menengah ke atas dari wilayah Jabodetabek, kini tidak lagi sekadar mencari destinasi untuk berfoto, melainkan pengalaman mendalam yang memberikan ketenangan jiwa dan narasi sejarah yang kuat,” kata Made melalui siaran pers yang diterima Cobisnis.com, Sabtu (31/10/2026).
Made menjelaskan famtrip ini bukan sekadar perjalanan pengenalan destinasi, melainkan sarana mempertemukan pembeli dan penyedia layanan wisata melalui pertemuan bisnis (business-to-business/B2B).
Kegiatan tersebut diharapkan menghasilkan transaksi yang bermanfaat bagi ekonomi lokal sekaligus mendukung pencapaian target 1,18 miliar perjalanan wisatawan nusantara (wisnus) pada 2026.
“Melalui Famtrip ‘Harmoni Raga, Rasa, dan Tradisi’, kami menjembatani 10 tour operator dan agen perjalanan potensial untuk bertransaksi langsung dengan para pengelola atraksi lokal. Target utama kami adalah terciptanya kesepakatan paket tur komersial baru, baik open trip maupun private group yang siap dipasarkan, sehingga mampu meningkatkan lama tinggal dan pengeluaran wisatawan di Yogyakarta dan Borobudur,” jelas Made.
Selama lima hari empat malam, pada 16–20 Oktober 2026, peserta menikmati berbagai pengalaman wisata yang memadukan kuliner, sejarah, budaya, dan kebugaran. Kegiatan diawali dengan eksplorasi gastronomi bersama Dje Djak Rasa melalui Telusur Kampung Santan Spesial Ingkung di Bantul, yang memadukan sajian ayam ingkung dengan kisah resep tradisional.
Eksplorasi kekayaan kuliner Nusantara berlanjut melalui Senja Gastronomy Walking Tour: Telusur Tugu & Pecinan untuk mengenal akulturasi budaya sekaligus mencicipi jajanan lokal.
Peserta juga mengikuti perjalanan “Tiga Wajah Mataram” bersama Remen Jawi yang menghadirkan penjelajahan sejarah dan perjamuan lintas masa. Agenda dilanjutkan dengan menikmati racikan teh personalisasi di Sadahurip, menjelajahi Kampung Wisata Purbayan, serta menikmati hidangan gastronomi etnik di Dapur Alit Jogja.
Rangkaian kegiatan ditutup dengan sesi meditasi berkesadaran (mindfulness) yang memadukan pengalaman relaksasi dan penuturan kisah budaya (storytelling) bersama Selaras Jiwo Journey.
Lebih lanjut, Made juga menyoroti potensi wisata jalan kaki (walking tour) sebagai alternatif menikmati destinasi secara lebih dekat. Aktivitas ini semakin diminati karena memungkinkan wisatawan menjelajahi lingkungan, budaya, dan kehidupan masyarakat melalui perjalanan yang lebih santai dan mendalam (slow tourism).
“Melalui jalan kaki, wisatawan tidak hanya melintasi ruang kota, tetapi dapat berinteraksi langsung dengan warga lokal, menghirup suasana kampung, serta meresapi cerita sejarah dan kuliner secara autentik di setiap sudut yang dikunjungi. Pengalaman sensorik seperti inilah yang dicari oleh wisatawan berkualitas tinggi masa kini,” tambah Made.
Made berharap kegiatan ini menghasilkan komitmen peserta untuk menyusun dan memasarkan sedikitnya dua paket wisata tematik baru setelah famtrip berakhir.
“Ini dilakukan sebagai bagian dari upaya mendukung pertumbuhan ekonomi lokal dan pariwisata yang berkelanjutan,” tukas Made.













