JAKARTA, Cobisnis.com – Laporan intelijen Amerika Serikat menyebut pemerintahan Iran masih berada dalam posisi kuat dan belum berada di ambang keruntuhan, meskipun negara itu telah dibombardir selama hampir dua pekan oleh Amerika Serikat dan Israel.
Analisis intelijen terbaru menunjukkan struktur kekuasaan di Teheran tetap berjalan dan mampu mempertahankan kendali terhadap situasi domestik. Kesimpulan ini muncul dari sejumlah laporan yang disusun dalam beberapa hari terakhir oleh badan intelijen AS.
Sumber yang mengetahui laporan tersebut menyebutkan bahwa analisis intelijen memberikan penilaian yang relatif konsisten. Pemerintahan ulama Iran dinilai masih mampu mengendalikan situasi politik dan sosial di dalam negeri.
Penilaian tersebut muncul di tengah meningkatnya tekanan politik di Amerika Serikat akibat lonjakan harga minyak global. Situasi perang di kawasan Timur Tengah turut memicu kekhawatiran terhadap stabilitas pasar energi dunia.
Presiden Amerika Serikat Donald Trump bahkan mulai memberi sinyal bahwa operasi militer besar tersebut dapat dihentikan dalam waktu dekat. Konflik yang berlangsung disebut sebagai operasi militer terbesar Amerika sejak invasi Irak pada 2003.
Meski demikian, laporan intelijen juga menyoroti bahwa kondisi politik di Iran masih dinamis dan bisa berubah sewaktu-waktu. Situasi di lapangan dinilai masih penuh ketidakpastian.
Serangan militer AS dan Israel sejak awal perang memang menargetkan berbagai fasilitas penting Iran. Beberapa di antaranya termasuk sistem pertahanan udara, situs nuklir, serta tokoh penting dalam struktur militer dan politik Iran.
Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei dilaporkan tewas pada hari pertama serangan yang terjadi pada 28 Februari. Namun, kematian tersebut tidak langsung mengguncang struktur pemerintahan Iran secara signifikan.
Majelis Pakar Iran kemudian bergerak cepat menunjuk Mojtaba Khamenei, putra dari pemimpin sebelumnya, sebagai pemimpin tertinggi baru. Langkah ini menunjukkan adanya mekanisme suksesi yang tetap berjalan di dalam sistem politik Iran.
Sementara itu, Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) disebut masih memiliki peran dominan dalam menjaga stabilitas negara. Pasukan elit tersebut tidak hanya memiliki kekuatan militer, tetapi juga mengendalikan sebagian besar sektor ekonomi strategis di Iran.
Beberapa pejabat Israel dalam diskusi tertutup juga mengakui bahwa tidak ada jaminan kampanye militer yang berlangsung saat ini akan mampu menggulingkan pemerintahan Iran. Serangan udara saja dinilai belum cukup untuk memicu perubahan rezim.
Menurut sejumlah sumber, perubahan kekuasaan kemungkinan hanya dapat terjadi jika ada operasi darat yang memungkinkan masyarakat Iran melakukan protes secara terbuka di jalanan. Tanpa kondisi tersebut, pemerintahan yang ada diperkirakan masih mampu bertahan.
Pemerintah Amerika Serikat sendiri belum sepenuhnya menutup kemungkinan pengiriman pasukan darat ke Iran. Namun hingga kini belum ada keputusan resmi mengenai langkah tersebut.













