JAKARTA, Cobisnis.com – Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengumumkan negaranya siap mengawal kapal-kapal komersial yang terjebak di Selat Hormuz. Jalur vital itu lumpuh sejak perang AS-Iran pecah pada akhir Februari lalu.
Pasar energi langsung merespons. Brent berjangka melemah 64 sen AS atau 0,59 persen ke 107,53 dolar AS per barel pada Senin (4/5/2026) pagi WIB. WTI ikut terkoreksi 84 sen atau 0,82 persen ke level 101,10 dolar AS per barel.
Meski turun, keduanya masih bertahan di atas 100 dolar AS per barel. Pasar belum sepenuhnya percaya situasi bakal cepat berubah.
Negosiasi damai AS-Iran masih buntu. Kedua pihak menolak bergeser dari garis merah masing-masing, begitu catatan analis ANZ yang dikutip Reuters, Senin (4/5/2026).
AS tetap menjadikan kesepakatan nuklir sebagai syarat gencatan senjata. Iran ingin isu nuklir dipisah dulu dari agenda damai, dan blokade Teluk dicabut bersamaan.
Karena perundingan mandek, Trump bergerak di jalur lain. Lewat media sosialnya Minggu (3/5), ia menegaskan AS akan memandu kapal-kapal tertahan di Hormuz untuk keluar dengan selamat.
Selat Hormuz adalah jalur lalu lintas sekitar 20 persen minyak dunia. Blokade sejak Februari membuat harga energi melonjak dan mengguncang pasar komoditas global.
Di hari yang sama, OPEC dan mitranya sepakat naikkan produksi 188.000 barel per hari mulai Juni. Tujuannya memperbesar stok global dan meredam harga yang masih tinggi.
Dua sinyal ini mendorong harga minyak turun, meski belum signifikan. Selama konflik AS-Iran belum tuntas, resolusi damai tetap jadi kunci utama stabilisasi harga energi dunia.













