JAKARTA, Cobisnis.com – Industri kelapa sawit Indonesia memasuki fase baru pada kuartal III 2026. Pasar domestik diperkirakan mulai menjadi penopang utama di tengah penerapan mandatori biodiesel B50 yang mengubah keseimbangan industri.
Indonesia Palm Oil Strategic Studies (IPOSS) menilai perubahan tersebut didorong meningkatnya kebutuhan minyak sawit untuk energi di dalam negeri. Implementasi B50 sejak 1 Juli 2026 membuat permintaan crude palm oil (CPO) terus meningkat.
Di sisi lain, produksi sawit diperkirakan tidak tumbuh seiring kenaikan permintaan. IPOSS memproyeksikan produksi gabungan CPO dan palm kernel oil mencapai 37,1 juta ton hingga akhir kuartal III 2026, turun dari 38,08 juta ton pada periode yang sama tahun lalu.
Penurunan produksi dipengaruhi banjir di sejumlah wilayah Sumatera, termasuk Aceh dan Sumatera Utara. Cuaca kering akibat El Nino dan Indian Ocean Dipole positif juga disebut menekan produktivitas kebun sawit.
Kondisi tersebut terjadi ketika konsumsi domestik justru meningkat. IPOSS memperkirakan kebutuhan minyak sawit di dalam negeri mencapai 7,2 juta ton, dengan sekitar 4,25 juta ton atau hampir 60 persen digunakan untuk memenuhi kebutuhan biodiesel.
Meningkatnya serapan domestik membuat pasokan untuk pasar ekspor semakin terbatas. Ekspor produk sawit diproyeksikan hanya sekitar 4,3 juta ton pada kuartal III 2026, turun hampir separuh dibandingkan 8,3 juta ton pada periode yang sama tahun sebelumnya.
IPOSS memperkirakan stok nasional minyak sawit berada di kisaran 1,1 juta ton hingga akhir kuartal III 2026. Menurut lembaga tersebut, produksi yang terbatas, tingginya konsumsi domestik, dan menurunnya ekspor menjadi penanda bahwa industri sawit Indonesia mulai memasuki ekosistem baru yang turut menopang harga CPO global.













