JAKARTA, Cobisnis.com – Pemerintah Indonesia mengecam serangan kelompok Houthi terhadap kapal kapal komersial yang tengah melintasi Laut Merah. Indonesia menilai tindakan tersebut bertentangan dengan hukum internasional dan mengancam keselamatan pelayaran.
Kementerian Luar Negeri RI menyatakan serangan terhadap kapal komersial di perairan internasional tidak dapat dibenarkan. Tindakan tersebut juga dinilai mengganggu prinsip kebebasan bernavigasi yang menjadi bagian penting dalam aktivitas pelayaran global.
Indonesia menilai dampak serangan tidak hanya dirasakan oleh kapal dan awak yang berada di kawasan tersebut. Gangguan pelayaran juga berpotensi memengaruhi perdagangan internasional dan meningkatkan ketidakstabilan di kawasan Timur Tengah.
Pemerintah Indonesia menyerukan seluruh pihak untuk menahan diri dan tidak mengambil tindakan yang dapat memperbesar eskalasi konflik. Semua pihak juga diminta menghormati hukum internasional, termasuk Konvensi Perserikatan Bangsa Bangsa tentang Hukum Laut atau UNCLOS.
Terkait konflik di Yaman, Indonesia kembali mendorong penyelesaian melalui proses politik yang inklusif. Penyelesaian tersebut diharapkan dipimpin dan dimiliki oleh masyarakat Yaman dengan fasilitasi Perserikatan Bangsa Bangsa, serta tetap menghormati kedaulatan, persatuan, dan integritas wilayah Yaman.
Serangan Houthi terhadap sejumlah kapal di Laut Merah kembali meningkatkan kekhawatiran terhadap keamanan jalur perdagangan global. Kelompok bersenjata asal Yaman tersebut sebelumnya mengklaim telah menyerang dua kapal Arab Saudi dan membuat sedikitnya 10 kapal lainnya berbalik arah.
Houthi juga telah memperingatkan kapal kapal untuk menjauhi pelabuhan Arab Saudi. Ancaman tersebut meningkatkan risiko gangguan terhadap pelayaran di Selat Bab el Mandeb yang menjadi penghubung penting antara Laut Merah dan Samudra Hindia.
Selat Bab el Mandeb merupakan salah satu jalur strategis bagi perdagangan dunia. Kapal yang membawa berbagai barang dan energi antara Asia dan Eropa melewati kawasan tersebut, sehingga gangguan berkepanjangan dapat berdampak luas terhadap rantai pasok global.
Situasi semakin kompleks karena jalur pelayaran di Selat Hormuz juga ikut terdampak konflik antara Amerika Serikat dan Iran. Dua jalur strategis tersebut memiliki peran penting dalam distribusi energi dan komoditas dunia.
Jika gangguan pelayaran terus berlanjut, risiko terhadap pasokan minyak, gas, pupuk, dan berbagai komoditas penting dapat meningkat. Kondisi tersebut berpotensi menekan biaya logistik dan memengaruhi harga komoditas di pasar global.
Indonesia menegaskan pentingnya menjaga keamanan jalur pelayaran internasional dan mencegah konflik meluas. Pemerintah juga terus mendorong penyelesaian konflik melalui jalur politik serta penghormatan terhadap hukum internasional.













