• © Copyright 2025 Cobinis.com – All Right Reserved
Thursday, May 28, 2026
Cobisnis
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Ekonomi Bisnis
  • Nasional
  • Lifestyle
  • Entertaiment
  • Humaniora
  • Sport
  • Teknologi
  • Otomotif
  • Foto
  • Beranda
  • Ekonomi Bisnis
  • Nasional
  • Lifestyle
  • Entertaiment
  • Humaniora
  • Sport
  • Teknologi
  • Otomotif
  • Foto
No Result
View All Result
Cobisnis
No Result
View All Result
Home Ekonomi Bisnis

Enam dari 10 Karyawan di Indonesia Lebih Menyukai Fleksibilitas Dari Pada Empat Hari Kerja Dalam Seminggu

Indra Purnama by Indra Purnama
June 21, 2022
in Ekonomi Bisnis
0

JAKARTA, Cobisnis.com – Qualtrics, perusahaan pemimpin dan pencipta kategori manajemen pengalaman (XM) mengungkapkan melalui penelitian terbarunya bahwa 58% karyawan full-time di Indonesia lebih suka fleksibilitas sehingga bisa bekerja sesuai waktu pilihan mereka daripada satu hari lebih sedikit di tempat kerja (42%). Sentimen serupa juga disuarakan oleh responden di seluruh Asia Tenggara, dengan 60% memilih fleksibilitas daripada minggu yang lebih pendek (40%). Fleksibilitas juga menjadi pendorong retensi yang lebih besar (62%) dibandingkan empat hari kerja dalam seminggu (49%) di Indonesia.

Temuan Qualtrics akan membantu pemberi kerja agar berhasil menyelaraskan program baru yang disesuaikan dengan kebutuhan dan harapan karyawan, melihat adanya tren di beberapa organisasi di Indonesia yang ingin menerapkan model kerja hybrid secara permanen karena telah bekerja dari jarak jauh selama dua tahun terakhir.

Bagi sepertiga karyawan di Asia Tenggara (30%), fleksibilitas berarti memiliki kendali atas jam kerja yang mereka inginkan. Karyawan lainnya mendefinisikan fleksibilitas sebagai bekerja dari mana saja (25%), diukur dengan kinerja dan bukan jam (23%), atau dapat memilih hari kerja (15%).

Karyawan terbuka dengan gagasan empat hari kerja dalam seminggu, tetapi juga memiliki kekhawatiran

Sementara mayoritas karyawan lebih memilih fleksibilitas jika diberi pilihan, 83% responden di wilayah tersebut terbuka dalam mendukung pemberi kerja untuk menerapkan empat hari kerja dalam seminggu – sebagian besar melihat peningkatan kesehatan dan kesejahteraan sebagai alasan utama. Mayoritas responden percaya bahwa empat hari kerja dalam seminggu dapat meningkatkan keseimbangan kehidupan bekerja (84%), kesejahteraan mental (79%), dan produktivitas (80%), serta membuat mereka merasa lebih setia kepada pemberi kerja (79%). Sentimen serupa juga muncul di seluruh Asia Tenggara. Sebanyak 68% responden di Indonesia juga berkeinginan untuk mengambil pemotongan gaji agar bisa bekerja satu hari lebih sedikit dalam seminggu, sedikit di atas rata-rata untuk wilayah tersebut (60%).

Meskipun berbagai uji coba empat hari kerja dalam seminggu telah terbukti memberikan manfaat – seperti peningkatan kesejahteraan di Islandia dan peningkatan produktivitas di Jepang – banyak yang percaya akan adanya akibat dari sistem tersebut. Dua pertiga (68%) responden di Indonesia mengatakan mereka akan memiliki jam kerja yang lebih lama, sementara 63% mengatakan kinerja perusahaan akan menurun, dan 55% percaya pelanggan akan frustasi. Responden dari seluruh Asia Tenggara mengungkapkan kekhawatiran yang sama.

Mengukur kinerja dan kesejahteraan dalam model kerja baru

Saat pemberi kerja memperhatikan pergeseran tersebut, dua pendorong utama keberhasilan penerapan cara kerja baru adalah memprioritaskan kesehatan dan kesejahteraan, dan memastikan karyawan tetap dapat bekerja maksimal baik di kantor maupun secara jarak jauh.

Sebanyak 78% responden mengungkapkan bahwa pekerjaan mereka sebagai sumber utama tantangan kesehatan mental. Sementara responden dari Asia Tenggara dalam jumlah serupa mengatakan bahwa bekerja dari jarak jauh memiliki dampak positif (25%) dan negatif (25%) pada kesehatan mental mereka, berbeda dengan responden dari Indonesia – dengan lebih banyak responden lokal menunjukkan dampak positif (29% positif, dibandingkan dengan 24% negatif).

Dua pertiga (63%) responden di Indonesia merasa bahwa bekerja dengan jam kerja yang fleksibel akan berdampak negatif terhadap perkembangan karir mereka. Kombinasi dari temuan ini menyoroti pentingnya memahami kebutuhan individu dalam angkatan kerja agar pemberi kerja dapat mengambil tindakan yang ditargetkan guna memastikan kebutuhan semua karyawan terpenuhi.

Salah satu potensi solusi terhadap tantangan yang ditimbulkan oleh model kerja baru adalah mengukur kinerja karyawan berdasarkan hasil dan bukan jam serta hari kerja, dengan 86% responden mendukung pendekatan ini. Secara khusus, responden melihat secara positif peningkatan efisiensi, fokus, dan pembuatan lingkungan kerja yang merata sebagai alasan utama untuk melakukannya, sementara 41% berharap untuk bekerja lebih sedikit. Mayoritas responden juga menyambut baik pemberi kerja yang menawarkan hari kesehatan mental berbayar, dengan 93% mengatakan bahwa hari tersebut akan menjadi solusi jangka panjang yang positif untuk memastikan kesehatan mental yang baik.

Untuk organisasi yang memikirkan kembali cara kerja tradisional, temuan Qualtrics mengungkapkan dampak dari perubahan yang dipertimbangkan dan diterapkan. Bersikap proaktif untuk memahami cara karyawan ingin bekerja – mempertimbangkan manfaat serta kerugian yang muncul dalam melakukannya – akan memungkinkan pemberi kerja membuat keputusan yang tepat untuk memastikan adopsi cara kerja baru selaras dengan beragam kebutuhan tenaga kerja. Hal tersebut akan membantu memecahkan masalah, seperti tantangan kesehatan dan kesejahteraan saat ini, sampai ke akarnya.

“Di antara desas-desus seputar model kerja baru, pemberi kerja tidak boleh melupakan fakta bahwa apa yang benar-benar diinginkan dan dibiasakan oleh karyawan adalah fleksibilitas dalam menyesuaikan jadwal kerja mereka berdasarkan tuntutan hidup mereka,” kata Lauren Huntington, Employee Experience Solution Strategist, Southeast Asia, Qualtrics. “Semakin ke sini, kami melihat orang membuat keputusan karir dan menemukan kepuasan dalam pekerjaan mereka dengan bekerja untuk organisasi yang benar-benar memahami dan merespons kebutuhan mereka, dan di tempat mereka merasa memiliki. Oleh karena itu, bagian terpenting setiap model kerja bukan hanya jam atau hari kerja – tetapi juga mampu memahami dan secara positif memberikan apa yang diinginkan dan diharapkan orang untuk memastikan semua orang – termasuk pelanggan – mendapatkan manfaat dari transformasi yang sedang diterapkan.”

Download Premium WordPress Themes Free
Download Premium WordPress Themes Free
Download Premium WordPress Themes Free
Download Best WordPress Themes Free Download
udemy course download free
download redmi firmware
Download Nulled WordPress Themes
udemy paid course free download
Tags: CobisnisQualtrixUx

Related Posts

Telkomsel Gandeng TVRI Siapkan Streaming Piala Dunia 2026 untuk Pengguna Indonesia

Telkomsel Gandeng TVRI Siapkan Streaming Piala Dunia 2026 untuk Pengguna Indonesia

by M.Dhayfan Al-ghiffari
May 27, 2026
0

JAKARTA, Cobisnis.com - Telkomsel memastikan layanan streaming Piala Dunia 2026 akan berjalan lancar tanpa gangguan berarti. Operator ini menyiapkan penguatan...

Penderita Hipertensi Tetap Bisa Makan Daging Kurban, Ini Catatan Dokter

Penderita Hipertensi Tetap Bisa Makan Daging Kurban, Ini Catatan Dokter

by M.Dhayfan Al-ghiffari
May 27, 2026
0

JAKARTA, Cobisnis.com - Perayaan Iduladha identik dengan berbagai olahan daging sapi dan kambing. Namun konsumsi daging kurban tetap perlu diperhatikan...

Daging Kambing Tidak Selalu Lebih Berbahaya, Ini Fakta Gizinya Dibanding Sapi

Daging Kambing Tidak Selalu Lebih Berbahaya, Ini Fakta Gizinya Dibanding Sapi

by M.Dhayfan Al-ghiffari
May 27, 2026
0

JAKARTA, Cobisnis.com - Momen Iduladha identik dengan konsumsi daging kurban, terutama daging sapi dan kambing. Meski sama-sama termasuk daging merah,...

Tenang Dulu, Minum Es Setelah Makan Sate Tidak Bikin Lemak Beku di Perut Kamu

Tenang Dulu, Minum Es Setelah Makan Sate Tidak Bikin Lemak Beku di Perut Kamu

by M.Dhayfan Al-ghiffari
May 27, 2026
0

JAKARTA, Cobisnis.com - Mitos soal minum air dingin setelah makan daging kembali ramai dibahas menjelang Idul Adha. Banyak yang percaya...

Daging Kambing Ternyata Lebih Rendah Lemak, Tapi Tetap Tidak Boleh Berlebihan

Daging Kambing Ternyata Lebih Rendah Lemak, Tapi Tetap Tidak Boleh Berlebihan

by M.Dhayfan Al-ghiffari
May 27, 2026
0

JAKARTA, Cobisnis.com - Daging merah seperti sapi dan kambing menjadi hidangan yang paling banyak dikonsumsi saat Iduladha. Meski kaya nutrisi,...

Load More
  • Trending
  • Comments
  • Latest
Telkomsel Gandeng TVRI Siapkan Streaming Piala Dunia 2026 untuk Pengguna Indonesia

Telkomsel Gandeng TVRI Siapkan Streaming Piala Dunia 2026 untuk Pengguna Indonesia

May 27, 2026
Pembahasan Revisi UU Pemilu 2026 Bergulir, Komisi II DPR Buka Ruang Partisipasi Masyarakat

Deretan Mobil Toyota Terbaru 2026: dari Veloz Hybrid hingga SUV Listrik bZ4X

January 20, 2026
Ferrari Perkenalkan EV Perdana Luce dengan Harga US$640 Ribu

Ferrari Perkenalkan EV Perdana Luce dengan Harga US$640 Ribu

May 27, 2026
Sarapan atau Tidak? Ini Dampaknya bagi Energi dan Kesehatan Tubuh

Sarapan atau Tidak? Ini Dampaknya bagi Energi dan Kesehatan Tubuh

May 27, 2026
Kualitas Konstruksi hingga ODOL Disebut Picu Jalan Rusak di RI

Kemendag Perketat Pengawasan PMSE, 95 Akun Merchant Ditindak

May 28, 2026
Usai Berhijab, Nikita Willy Khawatir Kulit Tubuh Jadi Bermasalah

Usai Berhijab, Nikita Willy Khawatir Kulit Tubuh Jadi Bermasalah

May 28, 2026
Kualitas Konstruksi hingga ODOL Disebut Picu Jalan Rusak di RI

Kualitas Konstruksi hingga ODOL Disebut Picu Jalan Rusak di RI

May 28, 2026
Cara Cepat Menghilangkan Bau Prengus Daging Kambing di Tangan

Cara Cepat Menghilangkan Bau Prengus Daging Kambing di Tangan

May 28, 2026
">
  • Redaksi
  • Profil
  • Media Kit
  • Disclaimer
  • Pedoman Media Cyber
  • Kontak

© Copyright 2025 Cobinis.com - All Right Reserved

No Result
View All Result
  • Home
  • Ekonomi & Bisnis
  • Nasional
  • Industri
  • Lifestyle
  • Humaniora
  • Kesehatan & Olahraga
  • Startup Center
  • Foto
  • Youtube

© Copyright 2025 Cobinis.com - All Right Reserved