• © Copyright 2025 Cobinis.com – All Right Reserved
Sunday, September 13, 2026
Cobisnis
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Ekonomi Bisnis
  • Nasional
  • Lifestyle
  • Entertaiment
  • Humaniora
  • Sport
  • Teknologi
  • Otomotif
  • Foto
  • Beranda
  • Ekonomi Bisnis
  • Nasional
  • Lifestyle
  • Entertaiment
  • Humaniora
  • Sport
  • Teknologi
  • Otomotif
  • Foto
No Result
View All Result
Cobisnis
No Result
View All Result
Home Ekonomi Bisnis

Ekonomi Rusia Tertekan, Namun Itu Tak Akan Membawa Putin Ke Meja Perundingan Dalam Waktu Dekat

Zahra Zahwa by Zahra Zahwa
December 21, 2025
in Ekonomi Bisnis
0
Ekonomi Rusia Tertekan, Namun Itu Tak Akan Membawa Putin Ke Meja Perundingan Dalam Waktu Dekat

JAKARTA, Cobisnis.com – Perekonomian Rusia menghadapi tekanan yang semakin besar sepanjang tahun ini, mulai dari inflasi yang sulit dikendalikan, defisit anggaran yang membengkak akibat belanja militer besar-besaran, hingga menurunnya pendapatan dari ekspor minyak dan gas alam. Pertumbuhan ekonomi pun melambat tajam. Namun, kondisi ini dinilai belum cukup kuat untuk memaksa Presiden Vladimir Putin duduk di meja perundingan guna mengakhiri perang di Ukraina.

Para analis menilai Kremlin masih mampu bertahan selama bertahun-tahun dengan tingkat pertempuran saat ini dan sanksi Barat yang berlaku. “Jika melihat kondisi ekonomi secara keseluruhan, ini belum menjadi jerami terakhir yang mematahkan punggung unta,” kata Maria Snegovaya, peneliti senior Rusia dan Eurasia di Center for Strategic and International Studies (CSIS). Menurutnya, situasi ekonomi Rusia masih tergolong bisa dikelola dan belum bersifat bencana.

Dalam tiga hingga lima tahun ke depan, Rusia dinilai masih mampu melanjutkan perang. Bahkan, sekelompok ekonom Rusia anti-Putin yang kini hidup di pengasingan menilai konflik bisa berlangsung lebih lama lagi karena kemampuan Kremlin membiayai perang relatif tidak terhambat oleh kendala ekonomi.

Sanksi Barat sejauh ini belum menimbulkan tekanan cukup besar terhadap ekonomi Rusia yang bergantung pada energi. Selama Rusia masih bisa memompa dan menjual minyak dengan harga yang relatif baik, negara itu masih memiliki cukup dana untuk terus bertahan. Kondisi ini membuat faktor ekonomi belum menjadi pertimbangan utama Putin dalam menentukan arah perang.

Secara historis, Rusia cenderung menyetujui perdamaian yang merugikan ketika berada dalam krisis ekonomi berat, seperti di akhir Perang Dunia I atau saat perang Afghanistan era Soviet. Namun, kondisi ekonomi Rusia saat ini dinilai masih jauh dari titik tersebut. Tekanan yang jauh lebih besar dan berkepanjangan masih diperlukan agar ekonomi benar-benar memengaruhi keputusan politik Kremlin.

Beban perang kini semakin dialihkan ke masyarakat. Pemerintah Rusia menaikkan pajak perusahaan, pajak penghasilan, serta pajak pertambahan nilai untuk membiayai anggaran militer yang memecahkan rekor. Konsumen juga menghadapi lonjakan harga, terutama barang impor. Meski demikian, inflasi tinggi bukan hal baru bagi masyarakat Rusia dan relatif tidak memicu gejolak sosial besar, diperkuat oleh propaganda dan represi pemerintah.

Sekitar 40% anggaran Rusia kini dihabiskan untuk kepentingan militer. Peningkatan belanja ini menciptakan kelompok “pemenang” ekonomi perang, seperti kontraktor pertahanan dan pekerja sektor industri, sehingga kesenjangan ekonomi justru menurun. Di sejumlah daerah pedesaan yang sebelumnya miskin, perang membawa peningkatan pendapatan melalui gaji besar bagi tentara dan kompensasi bagi keluarga korban, yang membantu meredam potensi protes.

Namun, tekanan jangka panjang mulai terlihat. Rusia telah banyak menguras dana kekayaan negara. Aset likuid Dana Kesejahteraan Nasional Rusia dilaporkan turun lebih dari separuh sejak perang dimulai. Jika dana ini terus menipis, pemerintah akan kesulitan mempertahankan belanja pertahanan tanpa memangkas pengeluaran sosial secara besar-besaran, yang berpotensi memicu ketidakpuasan publik.

Selain itu, upaya Rusia menghindari sanksi semakin mahal. Sanksi terbaru terhadap perusahaan minyak besar seperti Lukoil dan Rosneft meningkatkan biaya operasional, karena ekspor harus dialihkan melalui jalur yang lebih rumit dan mahal. Jika tekanan sanksi diperketat dan negara pembeli seperti India dan China didorong untuk mengurangi impor minyak Rusia, perhitungan Kremlin terhadap perang bisa berubah.

Untuk saat ini, para analis sepakat bahwa meski ekonomi Rusia menghadapi badai, tekanan tersebut belum cukup kuat untuk memaksa Putin mengakhiri perang dalam waktu dekat.

Download Nulled WordPress Themes
Download Best WordPress Themes Free Download
Download WordPress Themes Free
Download WordPress Themes Free
udemy course download free
download intex firmware
Download Premium WordPress Themes Free
online free course
Tags: cobisnis.comEkonomiRusiaPerangUkraina

Related Posts

Jelang Pilpres 2029, Kubu Jokowi-AHY Bergerak, Apa Strategi Prabowo?

Jelang Pilpres 2029, Kubu Jokowi-AHY Bergerak, Apa Strategi Prabowo?

by Hidayat Taufik
September 13, 2026
0

JAKARTA, Cobisnis.com — Dinamika politik menuju Pemilihan Presiden (Pilpres) 2029 mulai menjadi perhatian. Sejumlah partai politik dan kelompok kekuatan politik...

Elena Rybakina Juara US Open 2026, Rebut Takhta Petenis Nomor Satu Dunia

Elena Rybakina Juara US Open 2026, Rebut Takhta Petenis Nomor Satu Dunia

by Zahra Zahwa
September 13, 2026
0

JAKARTA, Cobisnis.com – Elena Rybakina meraih gelar US Open 2026 setelah mengalahkan Aryna Sabalenka dalam final tunggal putri yang berlangsung...

Ingin Otak Tetap Sehat di Usia Tua? Lakukan 3 Kebiasaan Ini

Ingin Otak Tetap Sehat di Usia Tua? Lakukan 3 Kebiasaan Ini

by Hidayat Taufik
September 13, 2026
0

JAKARTA, Cobisnis.com  - Kesehatan otak perlu mendapat perhatian sejak seseorang memasuki usia paruh baya. Bertambahnya usia dapat diikuti perubahan kemampuan...

2-3 Cangkir Kopi Sehari, Benarkah Bisa Bantu Redakan Stres?

2-3 Cangkir Kopi Sehari, Benarkah Bisa Bantu Redakan Stres?

by Hidayat Taufik
September 13, 2026
0

JAKARTA, Cobisnis.com - Kopi tidak hanya dikenal sebagai minuman yang membantu meningkatkan kewaspadaan dan konsentrasi. Konsumsi dalam jumlah tertentu juga...

Nasi untuk Anjing, Boleh atau Tidak? Ini Jawabannya

Nasi untuk Anjing, Boleh atau Tidak? Ini Jawabannya

by Hidayat Taufik
September 13, 2026
0

JAKARTA, Cobisnis.com -  Pemilik anjing perlu memperhatikan jenis makanan yang diberikan kepada hewan peliharaannya. Salah satu makanan yang kerap menjadi...

Load More
  • Trending
  • Comments
  • Latest
BNI menawarkan diskon tiket hingga 20 persen, cicilan 12 bulan, serta promo tiket pesawat dan hotel untuk konser Andrea Bocelli.

BNI Permudah Nasabah Nonton Andrea Bocelli

September 12, 2026
Ilustrasi Membersihkan Kulkas - pexels/Kevin Malik

Cara Mudah Bersihkan Rak Kulkas dari Noda Lengket Bekas Makanan dan Minuman

September 12, 2026
Prudential Indonesia Raih Premi Rp12,2 Triliun

Prudential Indonesia Raih Premi Rp12,2 Triliun

September 11, 2026
Sayur Pare - pexels/Lars H Knudsen

Walau Pahit, Pare Punya Segudang Manfaat Kesehatan Bagi Penderita Diabetes

September 12, 2026
Jelang Pilpres 2029, Kubu Jokowi-AHY Bergerak, Apa Strategi Prabowo?

Jelang Pilpres 2029, Kubu Jokowi-AHY Bergerak, Apa Strategi Prabowo?

September 13, 2026
Elena Rybakina Juara US Open 2026, Rebut Takhta Petenis Nomor Satu Dunia

Elena Rybakina Juara US Open 2026, Rebut Takhta Petenis Nomor Satu Dunia

September 13, 2026
Yogurt - pexels/Tiberiu

Yogurt Bisa Merusak Kesehatan Gigi, Ini Penjelasannya dari Ahli

September 13, 2026
Minum Air Putih - pexels/Lisa Fotios

Ketahui Manfaat Kesehatan dari Minum Air Putih Sebelum Tidur Malam

September 13, 2026
">
  • Redaksi
  • Profil
  • Media Kit
  • Disclaimer
  • Pedoman Media Cyber
  • Kontak

© Copyright 2025 Cobinis.com - All Right Reserved

No Result
View All Result
  • Home
  • Ekonomi & Bisnis
  • Nasional
  • Industri
  • Lifestyle
  • Humaniora
  • Kesehatan & Olahraga
  • Startup Center
  • Foto
  • Youtube

© Copyright 2025 Cobinis.com - All Right Reserved