JAKARTA, Cobisnis.com – Ekonomi Indonesia masih tumbuh sekitar 5 persen, tetapi kondisi kelas menengah justru menunjukkan tekanan. Dalam lima tahun, jumlah penduduk kelas menengah turun hampir 9,5 juta orang.
Data Badan Pusat Statistik menunjukkan jumlah kelas menengah mencapai 57,33 juta orang atau 21,45 persen populasi pada 2019. Angka tersebut turun menjadi 47,85 juta orang atau 17,13 persen pada 2024.
Pada periode yang sama, kelompok menuju kelas menengah justru meningkat dari 128,85 juta menjadi sekitar 137,5 juta orang. Kelompok rentan miskin juga bertambah dari 54,97 juta menjadi 67,69 juta orang.
Penyusutan kelas menengah tidak selalu berarti jutaan keluarga jatuh miskin. Banyak keluarga masih bekerja, memiliki rumah dan kendaraan, tetapi mulai mengurangi belanja, menunda liburan, mengurangi tabungan, hingga menunda pembelian barang bernilai besar.
Kondisi ini penting karena kelas menengah merupakan salah satu penggerak utama konsumsi domestik. Pada 2024, konsumsi rumah tangga menyumbang sekitar 54,04 persen terhadap Produk Domestik Bruto atau PDB Indonesia.
Masalahnya, pertumbuhan ekonomi belum sepenuhnya menghasilkan pekerjaan dengan pendapatan yang cukup untuk mendorong masyarakat naik kelas. Bank Dunia mencatat proporsi pekerjaan kelas menengah turun dari sekitar 14 persen pada 2019 menjadi 8,4 persen pada 2023.
Artinya, Indonesia tidak hanya membutuhkan lebih banyak lapangan pekerjaan. Yang lebih penting adalah menciptakan pekerjaan dengan produktivitas, upah, dan kepastian yang mampu mengangkat keluarga menuju kelas menengah.
Tekanan tersebut juga terlihat dari pertumbuhan ekonomi terbaru. Ekonomi Indonesia tumbuh 5,29 persen pada kuartal II 2026, tetapi melambat dari 5,61 persen pada kuartal sebelumnya.
Konsumsi rumah tangga juga masih tumbuh 5,06 persen, namun melambat dibandingkan 5,52 persen pada kuartal I 2026. Ini menunjukkan konsumsi masyarakat masih menjadi penopang ekonomi, tetapi ruang belanjanya tidak bisa dianggap tidak terbatas.
Persoalan tersebut berkaitan dengan struktur ekonomi Indonesia. Perpindahan tenaga kerja dari sektor berproduktivitas rendah menuju pekerjaan modern belum berjalan optimal, sementara sebagian pekerja justru masuk ke sektor informal dan jasa dengan produktivitas rendah.
Karena itu, penguatan kelas menengah membutuhkan lebih dari sekadar stimulus konsumsi. Indonesia perlu memperkuat industri, menciptakan pekerjaan berkualitas, meningkatkan pendidikan dan keterampilan, serta menjaga agar biaya rumah, transportasi, kesehatan dan pendidikan tetap terjangkau.
Kelas menengah juga membutuhkan perlindungan ketika menghadapi risiko ekonomi. Dengan pendapatan yang lebih aman dan biaya hidup yang terkendali, masyarakat akan memiliki ruang untuk menabung, berinvestasi, membeli rumah, membuka usaha, dan meningkatkan kualitas hidup.
Pada akhirnya, ukuran keberhasilan pertumbuhan ekonomi bukan hanya seberapa besar PDB meningkat. Pertumbuhan juga harus mampu menciptakan masyarakat yang memiliki pendapatan lebih tinggi, biaya hidup yang masuk akal, serta rasa aman untuk merencanakan masa depan.













