JAKARTA, Cobisnis.com – Cina telah menyetujui rencana untuk mendirikan cagar alam nasional di sebuah karang yang menjadi titik sengketa panas di Laut Cina Selatan. Sebuah langkah yang belum pernah dilakukan sebelumnya dan berpotensi semakin memicu ketegangan dengan Filipina sebagai pihak pengklaim saingan.
Cagar alam tersebut akan mencakup lebih dari 3.500 hektare di Pulau Huangyan nama Cina untuk Karang Scarborough dengan ekosistem terumbu karang sebagai target utama perlindungan, menurut Administrasi Kehutanan dan Padang Rumput Nasional Cina.
Keputusan ini menandai langkah baru dalam upaya Cina memperkuat klaim kedaulatannya di Laut Cina Selatan, jalur perairan strategis dan kaya sumber daya yang dilalui lebih dari 60 persen perdagangan maritim dunia.
Cina mengklaim hampir seluruh Laut Cina Selatan, termasuk wilayah yang berjarak ratusan mil dari daratan utamanya, meski klaim itu sudah dibatalkan oleh putusan internasional pada 2016. Terletak sekitar 200 km dari Filipina, Karang Scarborough berada dalam zona ekonomi eksklusif Filipina dan lama menjadi titik konflik antara Beijing dan Manila. Rantai karang berbentuk segitiga ini diperebutkan karena letaknya yang strategis, kaya stok ikan, serta berfungsi sebagai tempat berlindung kapal saat badai. Cina merebut atol tak berpenghuni tersebut pada 2012 setelah ketegangan panjang dengan Angkatan Laut Filipina, dan sejak itu hampir selalu menempatkan penjaga pantai di perairan sekitarnya. Dalam beberapa tahun terakhir, patroli Cina meningkat dan seringkali menghalangi nelayan Filipina dari wilayah tangkap tradisional mereka.
Ketegangan memuncak pada Agustus lalu, ketika sebuah kapal perusak Angkatan Laut Cina bertabrakan keras dengan kapal Penjaga Pantai Cina saat mengejar kapal patroli Filipina di dekat Karang Scarborough. Insiden yang menyoroti bahaya dari bentrokan semakin sering dan kerap kali keras antara kedua pihak. Filipina sendiri adalah sekutu pertahanan Amerika Serikat, sehingga bentrokan serius antara Beijing dan Manila berpotensi cepat meluas dan melibatkan militer AS.
Dalam sebuah pernyataan, kabinet Cina (Dewan Negara) menyebut pendirian cagar alam ini sebagai “jaminan penting bagi terjaganya keanekaragaman, stabilitas, dan keberlanjutan ekosistem alami Pulau Huangyan.” Pemerintah juga menyerukan penegakan hukum yang lebih kuat terhadap “aktivitas ilegal” di kawasan cagar alam tersebut.
Pihak Manila belum memberikan komentar atas perkembangan ini dan menyebut telah menghubungi Penjaga Pantai Filipina, serta kementerian luar negeri, pertahanan, dan Dewan Keamanan Nasional Filipina untuk meminta tanggapan.
Para pakar Cina menyebut langkah ini sebagai upaya penting untuk mempertahankan kedaulatan wilayah negaranya, sekaligus dapat menjadi preseden bagi fitur maritim lain di Laut Cina Selatan, menurut laporan media pemerintah.
Peta yang dirilis pemerintah Cina menunjukkan seluruh tepi timur laut atol tersebut ditetapkan sebagai kawasan cagar alam, yang terdiri dari “zona inti” diapit dua “zona eksperimental.”
Berdasarkan hukum Cina, zona inti sepenuhnya tertutup untuk aktivitas, sementara zona eksperimental masih memperbolehkan penelitian ilmiah, kegiatan pendidikan, serta pariwisata. Pembangunan dilarang di zona inti tetapi diizinkan di zona eksperimental. Warga asing harus mendapat izin dari otoritas Cina untuk masuk ke kawasan cagar alam mana pun.
Ding Duo, peneliti di National Institute for South China Sea Studies, mengatakan kepada Global Times (media pemerintah Cina) bahwa keputusan pendirian cagar alam ini adalah “bantahan tegas” terhadap tuduhan bahwa Cina merusak lingkungan laut di Laut Cina Selatan. Narasi Cina yang menyatakan ingin melindungi ekosistem rapuh di kawasan ini kemungkinan akan menuai kecurigaan dari negara tetangga maupun pegiat lingkungan, mengingat proyek reklamasi dan pembangunan pulau buatan oleh Beijing selama bertahun-tahun justru telah menyebabkan kerusakan lingkungan besar.
Laporan 2023 dari Center for Strategic and International Studies (CSIS) menyebut Cina telah menimbun sekitar 4.648 hektare terumbu karang melalui pengerukan dan reklamasi untuk membangun pulau buatan.
Sebagian besar pembangunan Cina terpusat di Kepulauan Paracel dan Kepulauan Spratly, dan sejauh ini tidak ada fasilitas yang dibangun di Karang Scarborough, menurut CSIS.
Filipina juga menuduh milisi maritim bayangan Cina menghancurkan terumbu karang di Laut Cina Selatan. Tuduhan itu dibantah Cina, yang justru menuding Filipina sebagai pihak yang merusak ekosistem terumbu karang di kawasan tersebut.














