JAKARTA, Cobisnis.com – Ide cemerlang terkadang muncul saat seseorang sedang mandi, berjalan kaki, atau melakukan pekerjaan rumah. Fenomena ini berkaitan dengan cara otak memproses informasi ketika perhatian tidak lagi terpusat pada satu masalah.
Neuropsikolog Sanam Hafeez yang berbasis di New York, Amerika Serikat, menjelaskan bahwa pemikiran kreatif dapat muncul ketika seseorang berhenti berusaha keras mencari solusi. Saat pikiran lebih rileks, otak memiliki kesempatan untuk menghubungkan informasi yang sebelumnya tampak tidak berkaitan.
Ketika menghadapi persoalan rumit, seseorang biasanya berusaha berkonsentrasi untuk menemukan jawaban. Namun, terlalu lama memikirkan masalah yang sama terkadang membuat pikiran terasa buntu.
Aktivitas rutin seperti mandi, mengeringkan rambut, dan berjalan kaki membutuhkan upaya mental yang relatif rendah. Kondisi ini memberi ruang bagi pikiran untuk mengembara tanpa harus terus-menerus berfokus pada satu persoalan.
Dalam psikologi, proses tersebut dikenal sebagai incubation period atau periode inkubasi. Istilah ini merujuk pada jeda ketika seseorang tidak secara aktif memikirkan masalah, tetapi proses mental yang berkaitan dengannya masih dapat berlangsung.
Selama periode tersebut, otak berpeluang menghubungkan ingatan, pengalaman, dan informasi yang sebelumnya tampak tidak berkaitan. Hasilnya, seseorang bisa menemukan sudut pandang baru atau mendapatkan jawaban secara tiba-tiba.
Fenomena ini juga berkaitan dengan default mode network (DMN), yaitu jaringan otak yang aktif dalam sejumlah proses mental ketika perhatian tidak sepenuhnya tertuju pada tugas eksternal. Jaringan tersebut berhubungan dengan aktivitas seperti mengingat pengalaman, membayangkan masa depan, dan memikirkan sesuatu secara spontan.
Saat seseorang terus berkonsentrasi pada satu masalah, pikirannya bisa terjebak pada pola yang sama. Sebaliknya, ketika melakukan aktivitas sederhana, perhatian menjadi lebih longgar sehingga otak memiliki kesempatan mengeksplorasi kemungkinan lain.
Untuk membantu memunculkan ide, seseorang dapat mengambil jeda ketika mulai merasa buntu. Aktivitas seperti berjalan kaki tanpa banyak distraksi, melakukan pekerjaan rumah, atau menyediakan waktu tanpa layar bisa menjadi pilihan.
Meski demikian, tidak semua aktivitas santai otomatis meningkatkan kreativitas. Ide baru tetap melibatkan berbagai proses kognitif, termasuk perhatian, ingatan, dan kemampuan mengevaluasi gagasan.
Karena itu, mengambil jeda bukan berarti berhenti berusaha mencari solusi. Memberi jarak dari persoalan dapat membantu seseorang melihatnya dari sudut pandang berbeda, sebelum kembali menganalisis dan mengevaluasi ide yang muncul.













