JAKARTA, Cobisnis.com – Kontak mata menjadi salah satu unsur penting dalam membangun komunikasi yang baik. Tatapan mata dapat menjadi tanda bahwa seseorang memperhatikan dan mengikuti pembicaraan.
Meski demikian, kontak mata perlu dilakukan secara wajar. Tatapan yang terlalu lama atau kebiasaan terus menghindari pandangan dapat menimbulkan kesan tertentu bagi orang lain.
Dikutip dari Verywell Mind, kemampuan melakukan kontak mata termasuk bagian dari keterampilan sosial. Kontak mata yang tepat dapat membantu membangun kepercayaan serta menciptakan hubungan yang lebih baik dalam berkomunikasi.
Sebaliknya, cara menatap yang kurang tepat dapat membuat lawan bicara merasa kurang nyaman. Beberapa kebiasaan bahkan dapat disalahartikan sebagai tanda gugup, tidak tertarik, atau tidak menghargai percakapan.
Berikut lima kebiasaan kontak mata yang sebaiknya diperhatikan:
1. Selalu menghindari tatapan lawan bicara
Tidak melakukan kontak mata sama sekali ketika berbicara dapat menimbulkan kesalahpahaman. Sikap tersebut bisa muncul karena seseorang merasa malu, gugup, atau tidak percaya diri.
“Baik karena malu, gugup, atau sekadar merasa canggung, menghindari kontak mata secara tidak sengaja dapat menandakan ketidakminatan, rasa tidak aman, atau bahkan ketidakjujuran,” catat terapis April Crowe, LCSW, dikutip dari Verywell Mind, Sabtu (15/8/2026).
Bagi sebagian orang yang mengalami kecemasan sosial, menatap mata lawan bicara memang dapat terasa sulit. Namun, terlalu sering mengalihkan pandangan dapat membuat orang lain mengira dirinya tidak tertarik dengan pembicaraan.
2. Menatap lawan bicara tanpa jeda
Kontak mata yang dilakukan terlalu lama juga bukan berarti menunjukkan perhatian yang lebih besar. Sebaliknya, tatapan yang terus-menerus dapat membuat lawan bicara merasa tertekan.
Psikolog sosial dan terapis kesehatan mental Sophia Spencer mengatakan bahwa seseorang secara alami membutuhkan jeda ketika melakukan kontak mata.
Tatapan yang terlalu intens juga dapat memberikan kesan mengintimidasi, terlebih jika disertai ekspresi wajah yang serius atau tegang.
Oleh karena itu, tidak perlu mempertahankan kontak mata sepanjang percakapan. Mengalihkan pandangan sesekali dapat membuat komunikasi terasa lebih santai dan natural.
3. Terus-menerus mengalihkan pandangan
Kebiasaan melihat ke berbagai arah secara berulang saat berbicara juga dapat mengganggu komunikasi.
Lawan bicara mungkin merasa bahwa dirinya tidak mendapatkan perhatian. Karena itu, kontak mata sebaiknya dilakukan secara seimbang dengan sesekali mengalihkan pandangan.
4. Mengabaikan peserta lain dalam percakapan
Ketika berbicara dalam kelompok, fokus pada satu orang saja dapat membuat peserta lainnya merasa tidak dilibatkan.
Agar komunikasi berjalan lebih baik, arah pandangan dapat diberikan secara bergantian kepada orang-orang yang ikut dalam percakapan. Cara ini menunjukkan bahwa setiap orang mendapatkan perhatian yang sama.
5. Menatap dengan wajah terlalu serius
Cara seseorang menatap juga dipengaruhi oleh ekspresi wajah. Tatapan yang disertai wajah kaku atau terlalu serius dapat memberikan kesan kurang bersahabat.
Dalam situasi tertentu, ekspresi yang tegang bahkan bisa membuat lawan bicara merasa sedang diintimidasi. Sebaliknya, ekspresi yang lebih santai dapat membantu menciptakan suasana komunikasi yang nyaman.
Pada akhirnya, kontak mata yang efektif bukan berarti harus terus menatap mata lawan bicara. Komunikasi yang nyaman membutuhkan keseimbangan antara memberikan tatapan, mengalihkan pandangan, serta menyesuaikan ekspresi dengan situasi.













