JAKARTA, Cobisnis.com – Batuk yang tak kunjung sembuh tidak selalu disebabkan oleh flu atau infeksi saluran pernapasan. Dalam beberapa kasus, kondisi tersebut bisa menjadi tanda gastroesophageal reflux disease (GERD) atau penyakit asam lambung yang naik ke kerongkongan.
GERD terjadi ketika katup antara lambung dan kerongkongan melemah sehingga asam lambung mengalir kembali ke atas. Selain menimbulkan sensasi terbakar di dada (heartburn), asam lambung juga dapat mengiritasi tenggorokan dan saluran napas hingga memicu batuk kronis.
Batuk akibat GERD umumnya memiliki beberapa ciri khas, seperti berlangsung lebih dari delapan minggu, sering muncul pada malam hari atau setelah makan, memburuk saat berbaring, serta tidak disertai infeksi saluran pernapasan. Pada sebagian orang, batuk bahkan bisa menjadi satu-satunya gejala tanpa disertai keluhan maag atau nyeri ulu hati.
Para ahli menjelaskan terdapat dua mekanisme utama yang menyebabkan GERD memicu batuk. Pertama, asam lambung mengiritasi ujung saraf di kerongkongan sehingga memicu refleks batuk. Kedua, sedikit cairan asam dapat mencapai tenggorokan atau saluran napas (microaspiration), yang kemudian menyebabkan iritasi.
Untuk membantu mengurangi gejala, penderita disarankan menghindari makanan pemicu asam lambung, makan dengan porsi lebih kecil, tidak berbaring setidaknya tiga jam setelah makan, menjaga berat badan ideal, serta berhenti merokok. Jika diperlukan, dokter dapat memberikan obat penurun produksi asam lambung, seperti golongan proton pump inhibitor (PPI).
Apabila batuk berlangsung lebih dari tiga hingga delapan minggu, disertai sesak napas, batuk berdarah, demam tinggi, atau penurunan berat badan tanpa sebab yang jelas, sebaiknya segera memeriksakan diri ke dokter. Pemeriksaan lebih lanjut diperlukan untuk memastikan penyebab batuk dan menentukan penanganan yang tepat.












