JAKARTA, Cobisnis.com – Starbucks kembali menghadapi gelombang mogok kerja dari para baristanya di Amerika Serikat, tepat saat perusahaan tengah berupaya memulihkan penjualan dan mengembalikan pengalaman klasik kafe mereka.
Pemogokan kali ini, yang diorganisir oleh serikat pekerja Starbucks Workers United, menuntut peningkatan upah dan penambahan staf. Aksi tersebut dijadwalkan berlangsung di setidaknya 25 kota pada Kamis (14/11), bertepatan dengan acara promosi besar Red Cup Day, yang dikenal sebagai salah satu hari tersibuk dalam kalender penjualan Starbucks.
“Setiap hari bekerja di perusahaan ini semakin berat,” ujar Michelle Eisen, juru bicara serikat sekaligus mantan barista Starbucks selama 15 tahun. Ia menilai kebijakan baru justru menambah beban kerja pegawai.
Starbucks, yang memiliki lebih dari 10.000 gerai di AS, menyebut pemogokan ini tidak akan memengaruhi sebagian besar operasional toko. Namun, aksi ini berisiko menimbulkan sorotan negatif baru terhadap perusahaan, yang beberapa tahun terakhir telah menghadapi boikot konsumen, meningkatnya pesaing baru, serta kritik atas harga minuman yang tinggi.
CEO baru Starbucks, Brian Niccol mantan pimpinan sukses Chipotle dan Taco Bell memulai strategi “Back to Starbucks” untuk menghidupkan kembali suasana klasik kafe, termasuk penggunaan cangkir keramik dan kursi nyaman. Ia juga mengumumkan investasi lebih dari 500 juta dolar AS untuk memperkuat pelatihan dan jumlah staf di gerai.
Meski demikian, kemajuan masih lambat. Pada laporan terakhir, penjualan global hanya naik 1% pertumbuhan pertama dalam hampir dua tahun sementara penjualan di AS stagnan. Strategi baru ini juga diiringi penutupan ratusan toko, pemutusan ribuan karyawan, dan penjualan sebagian besar saham bisnis Starbucks di Tiongkok.
Hubungan perusahaan dengan serikat kembali tegang sejak Niccol menjabat pada September lalu. Negosiasi kontrak pekerja masih buntu meski sudah melibatkan mediator, dengan perdebatan utama pada isu gaji dan tenaga kerja.
Starbucks menuduh serikat pekerja terlalu menuntut kenaikan upah yang dinilai bisa “mengganggu operasional dan pengalaman pelanggan”. Namun, serikat menyebut tawaran kenaikan 2% per tahun dari Starbucks tidak sebanding dengan inflasi dan biaya kesehatan.
Hanya sekitar 5% dari gerai Starbucks di AS yang telah berserikat, tetapi jumlah tersebut terus bertambah, dengan lebih dari 100 toko bergabung dalam 12 bulan terakhir. Para analis menilai kebuntuan ini dapat menimbulkan risiko operasional dan reputasi bagi merek global tersebut.
“Pelanggan yang bahagia datang dari karyawan yang bahagia,” ujar Stephan Meier, profesor strategi bisnis di Columbia Business School. “Kamu tidak bisa menciptakan hal itu hanya dari atas ke bawah.”
Selain tekanan dari publik, lebih dari 80 anggota Partai Demokrat di Kongres AS juga mengirim surat kepada CEO Brian Niccol, menuduh Starbucks melakukan “pemberangusan serikat pekerja” dan meminta perusahaan bernegosiasi dengan itikad baik.














