• © Copyright 2025 Cobinis.com – All Right Reserved
Monday, June 1, 2026
Cobisnis
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Ekonomi Bisnis
  • Nasional
  • Lifestyle
  • Entertaiment
  • Humaniora
  • Sport
  • Teknologi
  • Otomotif
  • Foto
  • Beranda
  • Ekonomi Bisnis
  • Nasional
  • Lifestyle
  • Entertaiment
  • Humaniora
  • Sport
  • Teknologi
  • Otomotif
  • Foto
No Result
View All Result
Cobisnis
No Result
View All Result
Home Teknologi

Banyak Tragedi, Faktor Gadget Turunkan Kewaspadaan Penonton

Farida Ratnawati by Farida Ratnawati
November 13, 2022
in Teknologi
0
Banyak Tragedi, Faktor Gadget Turunkan Kewaspadaan Penonton

JAKARTA,Cobisnis.com – Tragedi memilukan terjadi di perayaan malam Halloween di distrik Itaewon, Korea Selatan, di mana 156 orang meninggal dunia karena terimpit dan terinjak-injak massa.

Sebulan sebelumnya, di Stadion Kanjuruhan, Malang, 133 orang meninggal dunia karena kehabisan napas dan terimpit massa yang panik akibat adanya tembakan gas air mata.

Terlepas dari berbagai faktor penyebab aneka insiden dan tragedi itu, industri penyelenggaraan event kini menghadapi tantangan berat. Manager Program S1 Event, Universitas Prasetiya Mulya, Hanesman Alkhair, mengatakan, saat ini para pelaku industri event organizer ditantang untuk terus berkreasi menjawab keinginan market yang mulai bangkit pasca-pandemi Covid-19. “Di sisi lain, mereka juga harus lebih bersikap hati-hati dan teliti dalam menerapkan manajemen massa, terutama untuk penyelenggaraan acara yang melibatkan khalayak dalam jumlah besar,” ujarnya di Jakarta.

Hanes menilai, salah satu faktor munculnya berbagai kejadian di luar dugaan pada sejumlah perhelatan akhir-akhir ini, adalah tingginya antusiasme masyarakat untuk mendatangi acara keramaian, setelah hampir dua tahun lebih terkungkung pandemi. “Situasi pandemi telah membentuk kebiasaan manusia baru, yang kemudian membentuk karakteristik massa yang baru pula.” Hal ini, Hanes menambahkan, yang harus menjadi perhatian para penyelenggara event.

Hal lain yang tak kalah penting untuk dipahami pelaku industri event adalah pola konsumsi media sosial dan gadget pada masyarakat. Dari berbagai penelitian yang dilakukan para crowd scientist internasional, terlihat bahwa pola penggunaan gadget ini telah membentuk massa yang cenderung tidak awas terhadap situasi. “Semua orang memakai ponsel pintar, tak terkecuali saat mereka mendatangi suatu acara keramaian. Perilaku orang-orang yang terlalu fokus dengan gadget, membuat mereka bisa kurang waspada terhadap situasi sekitar,” ujar Hanes.

Tingginya animo masyarakat mendatangi event, ditambah dengan perubahan perilaku masyarakat saat ada di lokasi acara, membuat penyelenggara event harus melakukan berbagai penyesuaian. “Event organizer harus bisa mengantisipasi hal ini dengan membuat skenario pengaturan massa yang sesuai standar dan detail.” Dalam skenario itu, manajemen risiko yang muncul dalam acara termasuk yang harus dipersiapkan dengan matang.

Dua hal penting dalam manajemen risiko penyelenggaraan acara yang harus jadi prioritas adalah antisipasi atas munculnya density alias kepadatan massa, serta sudden movement, atau pergerakan tiba-tiba dalam kelompok massa. “Dua hal ini merupakan titik kritis yang bisa membuat sebuah acara menjadi tidak kondusif, sehingga perlu diantisipasi oleh seluruh stakeholders acara seperti event organizer, aparat keamanan, dan sebagainya,” kata Hanes.

Untuk mencegah timbulnya density, Hanes menjelaskan, para stakeholders sebuah event perlu membuat alur pergerakan pengunjung dengan sedemikian rupa. Misalnya, pemisahan antrean, penyekatan area penonton di sebuah acara festival atau konser musik, dan menempatkan lebih banyak petugas keamanan di titik-titik yang rawan terjadi kepadatan. “Perlu ada pengaturan khusus agar tidak terjadi desak-desakan pada pengunjung.”

Sedangkan, risiko sudden movement dalam sebuah acara biasanya terjadi ketika ada suatu kejadian yang menarik perhatian khalayak. Misalnya turunnya hujan, kericuhan di satu titik, atau bahkan adanya informasi yang menarik perhatian massa dalam jumlah banyak –seperti pada kejadian di Itaewon, di mana sekelompok massa tiba-tiba bergerak setelah mendapatkan informasi adanya seorang pesohor di salah satu kafe di Itaewon.

“Pergerakan tiba-tiba itu bisa menimbulkan kepadatan. Dikaitkan dengan karakteristik masyarakat yang perhatiannya cenderung tersedot pada gadget, situasi ini bisa menimbulkan risiko kepanikan ketika terjadi desak-desakan dan dorong-dorongan,” ujar Hanes. Kondisi ini menjadi berbahaya karena massa yang tidak siap akan terimpit dan kesulitan untuk keluar dari situasi itu.

Peluang Industri Event ke Depan

Di luar aneka tantangan terkini penyelenggaraan event, Hanes juga memproyeksi, industri event di Tanah Air berpeluang untuk terus tumbuh dan semakin berkembang. Hal ini, kata dia, tercermin dari kian maraknya penyelenggaraan acara-acara tingkat internasional di Indonesia sepanjang 2022. “Di tahun depan juga kita akan menyelenggarakan berbagai acara tingkat internasional yang membuat posisi Indonesia akan semakin diperhitungkan sebagai negara tujuan event.

Sektor event yang menurut Hanes potensial untuk digarap para pelaku industri pada tahun depan adalah acara-acara yang berkaitan dengan olah raga, seperti sports events dan sports tourism; meeting, incentive convention, and exhibition (MICE), serta festival musik.

“Khusus untuk festival musik, penyelenggara event kini harus mampu menggali konsep baru yang bisa memberikan pengalaman lengkap kepada pengunjung. Sektor ini juga sangat potensial untuk dikembangkan dan berevolusi menjadi acara yang lebih dari sekadar festival musik.”

Namun, Hanes menganjurkan, demi menjaga iklim industri event tetap kondusif, dan menjamin agar penyelenggaraan berbagai event bisa lebih aman dan nyaman, perlu ada semacam langkah bersama yang dilakukan kalangan akademis, praktisi dari kalangan industri, aparat keamanan, hingga pemerintah daerah. Para stakeholders, ia menambahkan, perlu menyesuaikan berbagai aspek dalam penyelenggaraan acara, terutama soal manajemen massa, tren, preferensi, dan behavior masyarakat selepas pandemi.

“Perlu ada dialog bersama untuk menyusun pendekatan baru penyelenggaraan event di Indonesia. Karena, potensi industri ini sangat besar, market-nya juga belum tergarap maksimal. Sehingga perlu ada pembaruan dalam penyelenggaraan event di Indonesia, agar industri ini bisa terus tumbuh dan semakin maju,” kata Hanes.

Download WordPress Themes Free
Download WordPress Themes
Download Nulled WordPress Themes
Download Premium WordPress Themes Free
free download udemy paid course
download karbonn firmware
Download Premium WordPress Themes Free
free download udemy paid course
Tags: cobisnis.comGadget

Related Posts

Menkeu Optimistis Rupiah Kembali Menguat dalam Beberapa Bulan

China Kembangkan Koneksi HP Langsung ke Satelit Lewat Misi Terbaru

by Desti Dwi Natasya
June 1, 2026
0

JAKARTA, Cobisnis.com – China kembali mencatatkan kemajuan dalam sektor teknologi antariksa melalui peluncuran satelit uji coba terbaru. Satelit tersebut dirancang...

Gelombang Pertama Jemaah Pulang 1 Juni, PPIH Susun Skema Bertahap

Gelombang Pertama Jemaah Pulang 1 Juni, PPIH Susun Skema Bertahap

by Hidayat Taufik
June 1, 2026
0

JAKARTA, Cobisnis.com - Pemulangan jemaah haji Indonesia 2026 dimulai pada 1 Juni di Arab Saudi. Proses ini berlangsung setelah puncak...

Menkeu Optimistis Rupiah Kembali Menguat dalam Beberapa Bulan

Menkeu Optimistis Rupiah Kembali Menguat dalam Beberapa Bulan

by Desti Dwi Natasya
June 1, 2026
0

JAKARTA, Cobisnis.com – Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa optimistis nilai tukar rupiah yang saat ini melemah dapat kembali menguat dalam...

Arsenal Raih Pendapatan Rekor Meski Takluk di Final Liga Champions 2026

Arsenal Raih Pendapatan Rekor Meski Takluk di Final Liga Champions 2026

by Hidayat Taufik
May 31, 2026
0

JAKARTA, Cobisnis.com – Arsenal gagal meraih gelar Liga Champions 2025/2026 setelah kalah dari PSG lewat adu penalti di partai final....

Koperasi Merah Putih Didorong Jadi Pusat Distribusi Pangan di Perdesaan

Koperasi Merah Putih Didorong Jadi Pusat Distribusi Pangan di Perdesaan

by Hidayat Taufik
May 31, 2026
0

JAKARTA, Cobisnis.com - Kementerian Koperasi terus memperkuat peran Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDKMP) sebagai penggerak ekonomi masyarakat. Melalui program ini,...

Load More
  • Trending
  • Comments
  • Latest
Gaya Hidup Nongkrong Modern Mulai Jadi Tantangan Finansial Generasi Muda

Gaya Hidup Nongkrong Modern Mulai Jadi Tantangan Finansial Generasi Muda

October 20, 2025
Koperasi Merah Putih Didorong Jadi Pusat Distribusi Pangan di Perdesaan

Koperasi Merah Putih Didorong Jadi Pusat Distribusi Pangan di Perdesaan

May 31, 2026
Usai Masak Daging Kurban, Ini Cara Bikin Pembersih Lemak Alami dari Bahan Dapur yang Ada di Rumah

Usai Masak Daging Kurban, Ini Cara Bikin Pembersih Lemak Alami dari Bahan Dapur yang Ada di Rumah

May 31, 2026
Kisah Misi Rahasia F-16 AS di Iran, Terbang Jauh Tanpa Siluman, Pulang dengan BBM Sisa Tipis

Kisah Misi Rahasia F-16 AS di Iran, Terbang Jauh Tanpa Siluman, Pulang dengan BBM Sisa Tipis

May 31, 2026
Menkeu Optimistis Rupiah Kembali Menguat dalam Beberapa Bulan

China Kembangkan Koneksi HP Langsung ke Satelit Lewat Misi Terbaru

June 1, 2026
Gelombang Pertama Jemaah Pulang 1 Juni, PPIH Susun Skema Bertahap

Gelombang Pertama Jemaah Pulang 1 Juni, PPIH Susun Skema Bertahap

June 1, 2026
Menkeu Optimistis Rupiah Kembali Menguat dalam Beberapa Bulan

Menkeu Optimistis Rupiah Kembali Menguat dalam Beberapa Bulan

June 1, 2026
Haji Mardud Itu Nyata, Ini 4 Alasan Ibadah Haji Bisa Tertolak dan Tidak Memberi Manfaat Apapun

Haji Mardud Itu Nyata, Ini 4 Alasan Ibadah Haji Bisa Tertolak dan Tidak Memberi Manfaat Apapun

June 1, 2026
">
  • Redaksi
  • Profil
  • Media Kit
  • Disclaimer
  • Pedoman Media Cyber
  • Kontak

© Copyright 2025 Cobinis.com - All Right Reserved

No Result
View All Result
  • Home
  • Ekonomi & Bisnis
  • Nasional
  • Industri
  • Lifestyle
  • Humaniora
  • Kesehatan & Olahraga
  • Startup Center
  • Foto
  • Youtube

© Copyright 2025 Cobinis.com - All Right Reserved