JAKARTA, Cobisnis.com – Amerika Serikat, Ukraina, dan Rusia dijadwalkan menggelar perundingan trilateral pertama sejak pecahnya perang, membuka peluang awal menuju proses diplomasi yang lebih serius. Seorang pejabat Eropa mengonfirmasi bahwa isu utama yang masih menjadi ganjalan dalam pembicaraan adalah masalah wilayah, meski tidak merinci detailnya.
Presiden Rusia Vladimir Putin sejak lama mengincar wilayah Donbas di Ukraina timur, kawasan yang kaya lahan pertanian subur serta memiliki jalur sungai strategis. Kehilangan wilayah ini dinilai akan membuat dataran luas Ukraina tengah semakin rentan terhadap potensi serangan Rusia di masa depan.
Di sisi lain, pemerintahan Presiden Amerika Serikat Donald Trump meningkatkan tekanan terhadap Ukraina untuk menerima kesepakatan damai, meskipun muncul kekhawatiran luas bahwa perjanjian semacam itu justru akan lebih menguntungkan Moskow.
Dalam pidatonya di Forum Ekonomi Dunia (World Economic Forum) di Davos, Trump mengisyaratkan bahwa terobosan antara kedua pihak sudah dekat.
“Saya percaya mereka sekarang berada pada titik di mana mereka bisa bersatu dan menyelesaikan kesepakatan, dan jika tidak, mereka bodoh,” ujar Trump, merujuk pada Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky dan Presiden Rusia Vladimir Putin.
Namun, Zelensky menyampaikan pidato kerasnya sendiri di Davos, dengan mengecam para pemimpin Eropa karena dianggap tidak cukup berbuat untuk menghentikan perang Rusia. Ia bahkan membandingkan sikap mereka terhadap perang Ukraina dengan reaksi cepat terhadap ancaman Trump untuk mencaplok Greenland.
Zelensky menegaskan bahwa isu wilayah timur Ukraina akan menjadi inti utama dalam setiap perundingan damai.
“Semuanya tentang bagian timur negara kami, semuanya tentang tanah,” katanya. “Inilah masalah yang belum terselesaikan.”
Di tengah upaya diplomasi, Ukraina masih menghadapi krisis kemanusiaan serius. Lebih dari satu juta warga saat ini tanpa listrik dan pemanas di tengah suhu dingin ekstrem, akibat serangan rudal dan drone Rusia terhadap infrastruktur energi.
Menteri Energi Ukraina menyatakan bahwa jaringan listrik negara itu mengalami hari terberat sejak akhir 2022, akibat “serangan musuh yang terus-menerus,” yang semakin memperparah kondisi kehidupan warga sipil.














