JAKARTA, Cobisnis.com – Kebiasaan tidur yang tidak teratur dan kurang berkualitas ternyata dapat berdampak pada kesehatan pembuluh darah. Jika berlangsung dalam jangka panjang, kondisi ini berpotensi meningkatkan risiko stroke.
Dalam rangka memperingati Hari Stroke Sedunia pada 29 Oktober 2026, penting untuk memahami bahwa kualitas tidur menjadi salah satu bagian dari upaya pencegahan penyakit tersebut.
Berdasarkan data World Stroke Organization, stroke menempati posisi kedua sebagai penyebab kematian tertinggi dan ketiga sebagai penyebab kecacatan di dunia. Sekitar 80 persen kasus stroke disebut dapat dicegah melalui perubahan gaya hidup.
Konsultan Neurologi Yashoda Hospitals, dr. Bharath Kumar Surisetti, menjelaskan bahwa sesekali begadang belum tentu langsung meningkatkan risiko stroke.
Namun, kebiasaan kurang tidur atau memiliki kualitas tidur buruk secara terus-menerus dapat memicu gangguan kesehatan yang berkontribusi terhadap risiko tersebut.
Kurang tidur berkepanjangan dapat mengganggu pengaturan tekanan darah, meningkatkan peradangan, serta memengaruhi metabolisme gula darah.
Dalam jangka panjang, kondisi tersebut berpotensi memicu hipertensi, obesitas, dan diabetes tipe 2 yang merupakan faktor risiko stroke.
Metaanalisis tahun 2025 dalam jurnal GeroScience menemukan hubungan berbentuk U antara durasi tidur dan kejadian stroke. Tidur sekitar lima hingga enam jam atau kurang dikaitkan dengan peningkatan risiko stroke hingga 29 persen.
Sementara itu, analisis tahun 2021 menemukan bahwa kebiasaan tidur lebih dari delapan hingga sembilan jam berkaitan dengan peningkatan risiko sebesar 1,38 kali lipat.
Kualitas pernapasan saat tidur juga perlu diperhatikan. Penderita obstructive sleep apnea atau henti napas obstruktif saat tidur dapat mengalami penurunan kadar oksigen akibat jeda napas berulang. Kondisi ini memberikan beban tambahan pada sistem kardiovaskular.
Tinjauan dalam European Respiratory Journal tahun 2020 menyebutkan bahwa penderita henti napas obstruktif saat tidur dengan kondisi parah memiliki risiko kejadian stroke hingga dua kali lebih besar.
Konsultan Bedah Saraf Cytecare Hospitals, dr. Sauradeep Sarkar, menjelaskan bahwa durasi tidur yang terlalu panjang juga perlu diperhatikan karena terkadang berkaitan dengan masalah kesehatan lain yang belum terdeteksi.
Untuk menjaga kualitas tidur, masyarakat disarankan memiliki jadwal istirahat teratur selama tujuh hingga sembilan jam setiap malam. Membatasi konsumsi kafein pada sore hari, mengurangi penggunaan gawai sebelum tidur, serta rutin beraktivitas fisik juga dapat membantu menjaga kesehatan.
Apabila sering mendengkur keras, terengah-engah saat tidur, sulit terlelap, atau mengalami kelelahan berlebihan pada siang hari, sebaiknya segera berkonsultasi dengan tenaga medis untuk pemeriksaan lebih lanjut.













