JAKARTA, Cobisnis.com – Indonesia menghadapi tantangan serius untuk keluar dari status negara berpendapatan menengah jika reformasi struktural pada iklim usaha dan investasi tidak dilakukan. Meski ekonomi telah menunjukkan kemajuan, kualitas lingkungan bisnis masih menjadi hambatan utama.
Model pertumbuhan yang selama ini mendorong ekonomi Indonesia ke posisi saat ini dianggap tidak cukup untuk membawa negara menuju level pendapatan tinggi. Dibutuhkan mesin pertumbuhan baru yang fokus pada peningkatan produktivitas, inovasi, dan ekspansi pasar.
Analisis menunjukkan ekosistem perusahaan besar di Indonesia kurang dinamis dan kurang produktif dibanding negara lain dengan pendapatan lebih tinggi. Perusahaan yang lebih besar dan lebih lama beroperasi cenderung stagnan dalam hal produktivitas, padahal seharusnya menjadi motor penciptaan lapangan kerja berkualitas dan pertumbuhan ekonomi.
Perbaikan lingkungan persaingan usaha menjadi sangat penting. Tantangan tidak hanya terkait regulasi, tetapi juga pada penegakan kesetaraan kesempatan berusaha yang konsisten. Kondisi ini juga memengaruhi sektor keuangan, pasar jasa, dan industri pengolahan.
Lingkungan sektor swasta yang kurang kondusif turut berkontribusi pada tingginya tingkat informalitas tenaga kerja. Saat ini sekitar 83% tenaga kerja berada di sektor informal, salah satu yang tertinggi di antara negara dengan ekonomi besar.
Tingginya informalitas berdampak pada rendahnya penerimaan pajak, membatasi ruang fiskal pemerintah untuk investasi produktif, dan memperlambat pengembangan sistem keuangan dan inovasi.
Meskipun begitu, pertumbuhan ekonomi Indonesia di angka 8% pada 2029 dinilai masih realistis jika reformasi dilakukan secara konsisten. Fokus bukan hanya pada peningkatan investasi, tetapi juga pada perbaikan struktur ekonomi dan produktivitas.
Penerapan paket reformasi secara berkelanjutan selama lima tahun diperkirakan bisa meningkatkan pertumbuhan hingga tambahan sekitar 2% per tahun, mempercepat peralihan ekonomi menuju pendapatan tinggi.













