JAKARTA, Cobisnis.com – Pertumbuhan ekonomi Indonesia sepanjang 2025 tercatat sebesar 5,11 persen secara tahunan (year on year/yoy). Badan Pusat Statistik (BPS) menyebut kinerja ini ditopang oleh pertumbuhan kuat di kuartal IV-2025 yang mencapai 5,39 persen yoy.
Kuartal IV-2025 mencatat pertumbuhan lebih tinggi dibanding kuartal III-2025 yang berada di level 5,04 persen yoy. Kepala BPS, Amalia Adininggar Widyasanti, menegaskan bahwa angka kumulatif tersebut menunjukkan ekonomi Indonesia tetap berada di jalur positif.
Secara keseluruhan, pertumbuhan ekonomi tiap kuartal 2025 menunjukkan tren meningkat. Kuartal I tumbuh 4,87 persen, kuartal II naik ke 5,12 persen, sementara kuartal III berada di 5,04 persen yoy.
Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia Atas Dasar Harga Berlaku (ADHB) tercatat Rp 6.147,2 triliun pada kuartal IV-2025, menjadi salah satu indikator kekuatan ekonomi nasional di akhir tahun.
Sejumlah ekonom sebelumnya memproyeksikan pertumbuhan ekonomi sepanjang 2025 akan berakhir di kisaran 5,05–5,07 persen, sedikit di bawah target pemerintah 5,2 persen. Namun realisasi BPS sedikit melampaui perkiraan sebagian ekonom.
Direktur Eksekutif CELIOS, Bhima Yudhistira, memprediksi kuartal IV 2025 berada di rentang 5,05–5,1 persen yoy. Sedangkan proyeksi tahunan sekitar 5,02 persen yoy. Angka ini cukup mendekati capaian resmi BPS.
Ekonom LPEM FEB UI, Teuku Riefky, menambahkan bahwa stimulus pemerintah dan faktor musiman mendorong kuartal IV naik ke level 5,18 persen. Namun, secara akumulatif, pertumbuhan tahunan tetap di kisaran 5,05 persen.
Secara umum, pertumbuhan 5,11 persen mencerminkan daya tahan ekonomi Indonesia meski ada tekanan global dan tantangan domestik. Konsumsi rumah tangga, investasi, dan ekspor menjadi motor utama pendorong pertumbuhan.
Hasil ini juga menandai stabilitas ekonomi nasional yang mampu menghadapi dinamika global tanpa kehilangan momentum. Investor dan pelaku pasar dapat melihat sinyal positif untuk kepercayaan jangka menengah.
Pemerintah sebelumnya menargetkan pertumbuhan 5,2 persen. Realisasi 5,11 persen dianggap cukup dekat, memberikan ruang bagi kebijakan ekonomi baru untuk menjaga momentum di tahun 2026.













