JAKARTA, Cobisnis.com – Apakah selera buruk bisa melahirkan mode yang bagus? Di ajang Grammy Awards 2026, sejumlah selebritas justru tampil dengan busana yang dianggap aneh, janggal, bahkan “jelek”. Namun ironisnya, penampilan-penampilan inilah yang paling membekas di ingatan publik.
Di tengah pilihan busana yang lebih konvensional dan aman seperti Hailey Bieber dengan gaun hitam strapless rancangan Alaïa atau Madison Beer dalam balutan gaun Andrew Kwon karpet merah Grammy justru dipenuhi tampilan yang mengundang tanda tanya sekaligus rasa penasaran. Cher tampil di atas panggung dengan busana kulit dan renda, lengkap dengan rok kulit sobek yang tampak seolah hampir melorot. Amy Taylor, vokalis band rock Australia Amyl and the Sniffers, mengenakan catsuit warna kulit dengan potongan renda merah muda terang, dipadu bolero berbulu dan rumbai panjang menjuntai ke lantai. Sementara itu, Jon Batiste mencuri perhatian lewat jaket militer penuh rhinestone yang mencolok.
Di karpet merah, deretan penampilan tak kalah ekstrem. Chappell Roan tampil dengan gaun Mugler khusus yang menggunakan penjepit puting, versi modern dari desain kontroversial tahun 1998, lengkap dengan areola prostetik. Bad Bunny mengenakan setelan pria pertama dari Schiaparelli: tuxedo beludru dengan kerah menjuntai dalam dan detail korset bertali di sepanjang punggung. Lola Young memilih sweater dan celana training Vivienne Westwood yang dipadukan dengan dasi bergaris, sementara Shaboozey tampil setengah formal-setengah kasual dengan jaket tuxedo Ralph Lauren dipadu jeans berikat pinggang.
Definisi selera buruk memang subjektif. Tidak selalu harus seberlebihan gaun penuh kristal atau busana provokatif. Billie Eilish, misalnya, tampil “sengaja tidak menarik” dengan rancangan dari label Swedia Hodakova. Jaket dan roknya dibuat dari celana pria yang didaur ulang, lengkap dengan saku, sabuk, dan jahitan asli yang dibiarkan terlihat. Kaos kaki putih panjang di bawah lutut serta sepatu hak runcing justru memperkuat kesan canggung namun memikat.
Desainer legendaris Miuccia Prada pernah mengatakan, “Yang jelek itu menarik, yang jelek itu menggairahkan… karena ia lebih manusiawi.” Pandangan ini tercermin dalam karya-karya Prada dan Miu Miu yang kerap menantang standar kecantikan konvensional. Koleksi Ugly Chic Prada pada 1996, misalnya, mengangkat motif taplak meja dan tirai tua menjadi busana runway sebuah konsep yang dulu dicibir, namun kini dianggap visioner.
Dalam industri fesyen, ketidaknyamanan sering kali justru memicu percakapan dan perhatian. Hal-hal yang terasa “salah” hari ini bisa menjadi standar baru di masa depan. Seperti yang ditulis sutradara John Waters, “Selera buruk adalah inti dari hiburan. Untuk memahami selera buruk, seseorang harus punya selera yang sangat baik.”
Di era dunia digital yang serba seragam dan dikurasi algoritma, tampil aneh justru menjadi bentuk perlawanan. Fesyen dengan selera buruk bukan sekadar provokasi, melainkan cara untuk menolak definisi cantik yang monoton dan merayakan keunikan.














