JAKARTA, Cobisnis.com – Istilah “saham gorengan” kembali ramai dibicarakan seiring volatilitas pasar yang meningkat. Sebutan ini bukan label resmi, melainkan istilah pasar untuk menggambarkan saham yang pergerakannya lebih didorong sentimen dibanding kinerja fundamental.
Dalam praktiknya, saham yang sering disebut gorengan umumnya menunjukkan lonjakan harga dan volume secara tiba-tiba, tanpa diikuti perbaikan kinerja keuangan yang sepadan. Pola ini kerap menarik minat investor ritel karena pergerakannya agresif.
Beberapa saham kerap masuk radar diskusi pasar karena memiliki karakteristik tersebut. Namun penting dicatat, penyebutan ini bersifat historis dan kontekstual, bukan penilaian hukum atau kesimpulan permanen.
Salah satu contoh yang sering dibahas adalah saham BUMI. Emiten ini dikenal memiliki volatilitas ekstrem, dengan pergerakan harga yang kerap naik tajam meski laporan keuangan belum menunjukkan perbaikan signifikan.
BUMI memiliki basis investor ritel yang besar, sehingga sentimen mudah menyebar. Pola naik, ramai, lalu terkoreksi kerap berulang dan menjadikannya lebih cocok untuk trading jangka pendek dibanding investasi jangka panjang.
Saham AISA juga sering disebut dalam diskusi serupa. Setelah melewati fase krisis, saham ini sempat melonjak tinggi berkat narasi kebangkitan, meski konsistensi laba belum sepenuhnya terbentuk.
Kondisi tersebut mencerminkan pola klasik saham dengan cerita turnaround yang belum matang, tetapi harga sudah bergerak lebih cepat dari perbaikan fundamentalnya.
Sementara itu, saham berkapitalisasi kecil hingga menengah seperti SIAP dinilai rawan dimainkan karena likuiditas terbatas. Volume transaksi dapat melonjak mendadak setelah lama sepi, lalu kembali melemah.
AKPI juga masuk kategori saham lama yang jarang diperhatikan pasar. Ketika digerakkan, perubahannya terlihat mencolok karena kontras dengan periode “tidur” yang panjang tanpa perubahan bisnis signifikan.
TRAM sering dikaitkan dengan narasi restrukturisasi dan perubahan model bisnis. Harga sahamnya kerap bergerak mengikuti cerita, meski dampaknya terhadap laba belum selalu jelas.
Adapun IKAN menarik perhatian karena kekuatan merek yang dikenal luas. Namun margin laba yang tipis membuat ekspektasi kenaikan harga sering lebih bersifat psikologis ketimbang berbasis kinerja.
Pengamat pasar menekankan bahwa tidak ada saham yang secara permanen layak disebut gorengan. Saham yang hari ini spekulatif bisa kembali normal, dan sebaliknya, tergantung transparansi, kinerja, serta perilaku pasar.
Investor diimbau memahami perbedaan antara saham gorengan dan turnaround yang sehat. Turnaround sejati ditandai perbaikan laba dan arus kas, bukan sekadar lonjakan harga sesaat.














