• © Copyright 2025 Cobinis.com – All Right Reserved
Tuesday, October 20, 2026
Cobisnis
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Ekonomi Bisnis
  • Nasional
  • Lifestyle
  • Entertaiment
  • Humaniora
  • Sport
  • Teknologi
  • Otomotif
  • Foto
  • Beranda
  • Ekonomi Bisnis
  • Nasional
  • Lifestyle
  • Entertaiment
  • Humaniora
  • Sport
  • Teknologi
  • Otomotif
  • Foto
No Result
View All Result
Cobisnis
No Result
View All Result
Home News

Dunia Memasuki Era “Kebangkrutan Air” dengan Dampak yang Tak Terpulihkan

Zahra Zahwa by Zahra Zahwa
January 21, 2026
in News
0
Dunia Memasuki Era “Kebangkrutan Air” dengan Dampak yang Tak Terpulihkan

JAKARTA, Cobisnis.com – Dunia telah memasuki “era kebangkrutan air global” dengan konsekuensi yang tidak dapat dipulihkan, menurut laporan terbaru Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). Kondisi krisis air yang selama ini dikenal disebut sudah terlalu ringan untuk menggambarkan skala masalah yang sebenarnya.

Berbagai wilayah di dunia kini menghadapi persoalan air yang sangat parah. Kabul diperkirakan berpotensi menjadi kota modern pertama yang kehabisan air sepenuhnya. Mexico City tenggelam sekitar 20 inci per tahun akibat pengambilan air tanah berlebihan dari akuifer di bawah kota. Sementara di Amerika Serikat bagian barat daya, negara-negara bagian terus berseteru mengenai pembagian air Sungai Colorado yang semakin menyusut akibat kekeringan.

Laporan yang dirilis Selasa oleh United Nations University dan didasarkan pada studi di jurnal Water Resources menyebut situasi global saat ini terlalu serius untuk sekadar disebut “krisis air” atau “wilayah kekurangan air”.

“Jika kita terus menyebut kondisi ini sebagai krisis, itu menyiratkan bahwa masalahnya sementara dan bisa diatasi dengan cepat,” ujar Kaveh Madani, Direktur Institute for Water, Environment and Health di United Nations University sekaligus penulis laporan tersebut. “Dengan kebangkrutan, kita tetap perlu memperbaiki dan mengurangi dampaknya, tetapi juga harus beradaptasi dengan realitas baru yang jauh lebih terbatas,” katanya.

Konsep kebangkrutan air dianalogikan seperti keuangan. Alam menyediakan “pendapatan” berupa hujan dan salju, namun manusia menghabiskan air jauh lebih cepat daripada kemampuan alam untuk mengisinya kembali. Sungai, danau, rawa, serta akuifer bawah tanah dieksploitasi berlebihan, sementara perubahan iklim memperparah situasi melalui panas ekstrem dan kekeringan yang mengurangi ketersediaan air.

Dampaknya terlihat nyata: sungai dan danau menyusut, rawa mengering, akuifer terus menurun, tanah runtuh dan membentuk lubang amblesan, gurun meluas, salju berkurang, dan gletser mencair. Bahkan di wilayah yang sistem airnya relatif lebih stabil, pencemaran mengurangi pasokan air layak minum.

Data dalam laporan tersebut mencengangkan. Lebih dari 50% danau besar dunia kehilangan air sejak 1990, sekitar 70% akuifer utama mengalami penurunan jangka panjang, area rawa seluas hampir Uni Eropa hilang dalam 50 tahun terakhir, dan gletser menyusut 30% sejak 1970. Hampir 4 miliar orang di dunia mengalami kelangkaan air setidaknya satu bulan setiap tahun.

“Banyak wilayah hidup melampaui kemampuan hidrologisnya,” kata Madani, seraya menegaskan bahwa kondisi lama tidak mungkin kembali seperti semula.

Meski demikian, konsumsi air masih sering dianggap remeh. Kota-kota seperti Los Angeles, Las Vegas, dan Teheran terus berkembang meski pasokan air terbatas. “Semuanya terlihat baik-baik saja sampai akhirnya tidak,” ujar Madani.

Beberapa kawasan mengalami tekanan yang lebih berat, seperti Timur Tengah dan Afrika Utara yang menghadapi stres air tinggi serta kerentanan iklim ekstrem. Asia Selatan mengalami penurunan air kronis akibat pertanian berbasis air tanah dan pertumbuhan penduduk perkotaan yang pesat. Di AS barat daya, Sungai Colorado menjadi contoh bagaimana perjanjian pembagian air didasarkan pada kondisi lingkungan yang sudah tidak relevan lagi.

Meski situasinya mengkhawatirkan, Madani menilai pengakuan terhadap “kebangkrutan air” dapat mendorong perubahan dari respons darurat jangka pendek menuju strategi jangka panjang untuk mengurangi kerusakan permanen.

Laporan ini merekomendasikan sejumlah langkah, antara lain transformasi sektor pertanian pengguna air terbesar dunia melalui perubahan jenis tanaman dan irigasi yang lebih efisien, peningkatan pemantauan air menggunakan AI dan penginderaan jauh, pengurangan polusi, serta perlindungan lebih kuat bagi rawa dan air tanah.

Air juga dinilai dapat menjadi “jembatan di dunia yang terfragmentasi”, karena isu ini mampu melampaui perbedaan politik. “Semakin banyak negara yang menyadari nilai dan pentingnya air, dan itulah yang membuat saya optimistis,” ujar Madani.

Tags: cobisnis.comKebangkrutanAirKrisisAirGlobalPerubahanIklim

Related Posts

DPR Siapkan Pemanggilan KPU-Bawaslu terkait Polemik Pasal PKPU

DPR Siapkan Pemanggilan KPU-Bawaslu terkait Polemik Pasal PKPU

by Hidayat Taufik
October 19, 2026
0

JAKARTA, Cobisnis.com - Wakil Ketua Komisi II DPR, Dede Yusuf, mengungkapkan rencana pemanggilan Komisi Pemilihan Umum (KPU) dan Badan Pengawas...

Karhutla Belum Berstatus Bencana Nasional, Pemerintah Yakin Masih Mampu Menangani

Karhutla Belum Berstatus Bencana Nasional, Pemerintah Yakin Masih Mampu Menangani

by Hidayat Taufik
October 19, 2026
0

JAKARTA, Cobisnis.com - Menteri Koordinator Bidang Politik dan Keamanan (Menko Polkam) Dudung Abdurachman menjelaskan alasan pemerintah belum menetapkan kebakaran hutan...

Kapolri Bertemu Panglima TNI, Perkuat Langkah Berantas Tambang Ilegal

Kapolri Bertemu Panglima TNI, Perkuat Langkah Berantas Tambang Ilegal

by Hidayat Taufik
October 19, 2026
0

JAKARTA, Cobisnis.com - Kapolri Jenderal Suyudi Ario Seto bertemu dengan Panglima TNI Jenderal Agus Subiyanto dan jajaran Kepala Staf Angkatan...

6 Trik Menabung ala Jepang agar Tabungan Makin Cepat Terkumpul

6 Trik Menabung ala Jepang agar Tabungan Makin Cepat Terkumpul

by Hidayat Taufik
October 19, 2026
0

JAKARTA, Cobisnis.com – Biaya hidup yang terus meningkat membuat banyak orang kesulitan menyisihkan penghasilan untuk tabungan. Namun, metode pengelolaan uang...

Prancis Dilanda Kerusuhan, Trump Sebut Imigrasi Hancurkan Negara

Prancis Dilanda Kerusuhan, Trump Sebut Imigrasi Hancurkan Negara

by Hidayat Taufik
October 19, 2026
0

JAKARTA, Cobisnis.com – Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyalahkan imigrasi atas kerusuhan yang melanda Prancis setelah demonstrasi pada Sabtu (17/10/2026)....

Load More
  • Trending
  • Comments
  • Latest
Mau Pensiun Nyaman? Ini 5 Cara Menghitung Dana yang Harus Disiapkan

Mau Pensiun Nyaman? Ini 5 Cara Menghitung Dana yang Harus Disiapkan

October 19, 2026
Bakom Buka Daftar Hasil Kerja Prabowo-Gibran Selama Dua Tahun

Bakom Buka Daftar Hasil Kerja Prabowo-Gibran Selama Dua Tahun

October 19, 2026
DPR Siapkan Pemanggilan KPU-Bawaslu terkait Polemik Pasal PKPU

DPR Siapkan Pemanggilan KPU-Bawaslu terkait Polemik Pasal PKPU

October 19, 2026
Rio Ngumoha Ungkap Peran Baru di Liverpool

Dijuluki Iron Man, Eliano Reijnders Siap Terus Bela Persib

October 19, 2026
Vietnam Gaspol Perluas Pasar, Kesepakatan Dagang dengan 4 Negara Eropa Jadi Andalan

Vietnam Gaspol Perluas Pasar, Kesepakatan Dagang dengan 4 Negara Eropa Jadi Andalan

October 19, 2026
Terancam Turun Kasta Jadi Standalone Market, Ini Hasil Pertemuan BEI dan MSCI

Terancam Turun Kasta Jadi Standalone Market, Ini Hasil Pertemuan BEI dan MSCI

October 19, 2026
BGN Tarik CCTV Dapur MBG ke Pusat, Sekitar 70 Dapur Mulai Diuji dengan AI

BGN Tarik CCTV Dapur MBG ke Pusat, Sekitar 70 Dapur Mulai Diuji dengan AI

October 19, 2026
Kepolisian Israel menangkap 10 tersangka terkait serangan terhadap Wali Kota Prancis Bernard Baudoux dan fotografer AS Heidi Levine di Tepi Barat.

Israel Tangkap 10 Tersangka Serangan di Tepi Barat

October 19, 2026
">
  • Redaksi
  • Profil
  • Media Kit
  • Disclaimer
  • Pedoman Media Cyber
  • Kontak

© Copyright 2025 Cobinis.com - All Right Reserved

No Result
View All Result
  • Home
  • Ekonomi & Bisnis
  • Nasional
  • Industri
  • Lifestyle
  • Humaniora
  • Kesehatan & Olahraga
  • Startup Center
  • Foto
  • Youtube

© Copyright 2025 Cobinis.com - All Right Reserved