• © Copyright 2025 Cobinis.com – All Right Reserved
Monday, August 10, 2026
Cobisnis
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Ekonomi Bisnis
  • Nasional
  • Lifestyle
  • Entertaiment
  • Humaniora
  • Sport
  • Teknologi
  • Otomotif
  • Foto
  • Beranda
  • Ekonomi Bisnis
  • Nasional
  • Lifestyle
  • Entertaiment
  • Humaniora
  • Sport
  • Teknologi
  • Otomotif
  • Foto
No Result
View All Result
Cobisnis
No Result
View All Result
Home News

Dunia Memasuki Era “Kebangkrutan Air” dengan Dampak yang Tak Terpulihkan

Zahra Zahwa by Zahra Zahwa
January 21, 2026
in News
0
Dunia Memasuki Era “Kebangkrutan Air” dengan Dampak yang Tak Terpulihkan

JAKARTA, Cobisnis.com – Dunia telah memasuki “era kebangkrutan air global” dengan konsekuensi yang tidak dapat dipulihkan, menurut laporan terbaru Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). Kondisi krisis air yang selama ini dikenal disebut sudah terlalu ringan untuk menggambarkan skala masalah yang sebenarnya.

Berbagai wilayah di dunia kini menghadapi persoalan air yang sangat parah. Kabul diperkirakan berpotensi menjadi kota modern pertama yang kehabisan air sepenuhnya. Mexico City tenggelam sekitar 20 inci per tahun akibat pengambilan air tanah berlebihan dari akuifer di bawah kota. Sementara di Amerika Serikat bagian barat daya, negara-negara bagian terus berseteru mengenai pembagian air Sungai Colorado yang semakin menyusut akibat kekeringan.

Laporan yang dirilis Selasa oleh United Nations University dan didasarkan pada studi di jurnal Water Resources menyebut situasi global saat ini terlalu serius untuk sekadar disebut “krisis air” atau “wilayah kekurangan air”.

“Jika kita terus menyebut kondisi ini sebagai krisis, itu menyiratkan bahwa masalahnya sementara dan bisa diatasi dengan cepat,” ujar Kaveh Madani, Direktur Institute for Water, Environment and Health di United Nations University sekaligus penulis laporan tersebut. “Dengan kebangkrutan, kita tetap perlu memperbaiki dan mengurangi dampaknya, tetapi juga harus beradaptasi dengan realitas baru yang jauh lebih terbatas,” katanya.

Konsep kebangkrutan air dianalogikan seperti keuangan. Alam menyediakan “pendapatan” berupa hujan dan salju, namun manusia menghabiskan air jauh lebih cepat daripada kemampuan alam untuk mengisinya kembali. Sungai, danau, rawa, serta akuifer bawah tanah dieksploitasi berlebihan, sementara perubahan iklim memperparah situasi melalui panas ekstrem dan kekeringan yang mengurangi ketersediaan air.

Dampaknya terlihat nyata: sungai dan danau menyusut, rawa mengering, akuifer terus menurun, tanah runtuh dan membentuk lubang amblesan, gurun meluas, salju berkurang, dan gletser mencair. Bahkan di wilayah yang sistem airnya relatif lebih stabil, pencemaran mengurangi pasokan air layak minum.

Data dalam laporan tersebut mencengangkan. Lebih dari 50% danau besar dunia kehilangan air sejak 1990, sekitar 70% akuifer utama mengalami penurunan jangka panjang, area rawa seluas hampir Uni Eropa hilang dalam 50 tahun terakhir, dan gletser menyusut 30% sejak 1970. Hampir 4 miliar orang di dunia mengalami kelangkaan air setidaknya satu bulan setiap tahun.

“Banyak wilayah hidup melampaui kemampuan hidrologisnya,” kata Madani, seraya menegaskan bahwa kondisi lama tidak mungkin kembali seperti semula.

Meski demikian, konsumsi air masih sering dianggap remeh. Kota-kota seperti Los Angeles, Las Vegas, dan Teheran terus berkembang meski pasokan air terbatas. “Semuanya terlihat baik-baik saja sampai akhirnya tidak,” ujar Madani.

Beberapa kawasan mengalami tekanan yang lebih berat, seperti Timur Tengah dan Afrika Utara yang menghadapi stres air tinggi serta kerentanan iklim ekstrem. Asia Selatan mengalami penurunan air kronis akibat pertanian berbasis air tanah dan pertumbuhan penduduk perkotaan yang pesat. Di AS barat daya, Sungai Colorado menjadi contoh bagaimana perjanjian pembagian air didasarkan pada kondisi lingkungan yang sudah tidak relevan lagi.

Meski situasinya mengkhawatirkan, Madani menilai pengakuan terhadap “kebangkrutan air” dapat mendorong perubahan dari respons darurat jangka pendek menuju strategi jangka panjang untuk mengurangi kerusakan permanen.

Laporan ini merekomendasikan sejumlah langkah, antara lain transformasi sektor pertanian pengguna air terbesar dunia melalui perubahan jenis tanaman dan irigasi yang lebih efisien, peningkatan pemantauan air menggunakan AI dan penginderaan jauh, pengurangan polusi, serta perlindungan lebih kuat bagi rawa dan air tanah.

Air juga dinilai dapat menjadi “jembatan di dunia yang terfragmentasi”, karena isu ini mampu melampaui perbedaan politik. “Semakin banyak negara yang menyadari nilai dan pentingnya air, dan itulah yang membuat saya optimistis,” ujar Madani.

Tags: cobisnis.comKebangkrutanAirKrisisAirGlobalPerubahanIklim

Related Posts

Kasus Kematian Sutrimo Naik Penyidikan, Dugaan Pembunuhan Diusut

Kasus Kematian Sutrimo Naik Penyidikan, Dugaan Pembunuhan Diusut

by Hidayat Taufik
August 10, 2026
0

JAKARTA, Cobisnis.com – Polda Metro Jaya masih mendalami kasus kematian Sutrimo, pria yang ditemukan tidak bernyawa di depan klinik kecantikan...

PT DPM dorong kemandirian ekonomi masyarakat

PT DPM Dorong Kemandirian Ekonomi Warga Lewat Pelatihan Pertukangan dan UMKM

by Rizki Meirino
August 10, 2026
0

JAKARTA, Cobisnis.com - PT Dairi Prima Mineral (PT DPM) kembali mendorong kemandirian ekonomi masyarakat di sekitar wilayah operasional melalui Program...

Amankan HUT RI ke-81, Panglima TNI dan Kapolri Koordinasi di DPR

Amankan HUT RI ke-81, Panglima TNI dan Kapolri Koordinasi di DPR

by Hidayat Taufik
August 10, 2026
0

JAKARTA, Cobisnis.com – Panglima TNI Jenderal Agus Subiyanto dan Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo menghadiri rapat koordinasi di kompleks parlemen,...

Netanyahu Nyatakan Israel Tidak Menerima Dokumen 15 Poin Trump untuk Gaza

Kisah Miami Hurricanes 1980-an dan Gaya Kontroversial yang Mengubah College Football

by Zahra Zahwa
August 10, 2026
0

JAKARTA, Cobisnis.com – Banyak tim dominan menghiasi sejarah lebih dari 150 tahun sepak bola perguruan tinggi Amerika Serikat. Namun, hanya...

Netanyahu Nyatakan Israel Tidak Menerima Dokumen 15 Poin Trump untuk Gaza

Jackpot Powerball Tembus US$905 Juta, Terbesar Sepanjang 2026

by Zahra Zahwa
August 10, 2026
0

JAKARTA, Cobisnis.com – Jackpot Powerball mencapai estimasi US$905 juta menjelang pengundian Senin malam waktu Amerika Serikat. Hadiah tersebut meningkat setelah...

Load More
  • Trending
  • Comments
  • Latest
Menpar:  Sektor Pariwisata Semester I 2026 Tumbuh Positif

Menpar: Sektor Pariwisata Semester I 2026 Tumbuh Positif

August 9, 2026
INSA Yacht Festival 2026, Perkuat Posisi Indonesia jadi Wisata Bahari Kelas Dunia

INSA Yacht Festival 2026, Perkuat Posisi Indonesia jadi Wisata Bahari Kelas Dunia

August 9, 2026
Survei IPO Ungkap Menteri Berkinerja Terbaik, Purbaya Kalahkan Teddy dan Bahlil

Survei IPO Ungkap Menteri Berkinerja Terbaik, Purbaya Kalahkan Teddy dan Bahlil

August 9, 2026
Mulai 2027 Rumah Kontrakan Masuk Sasaran Pajak Pemerintah

Mulai 2027 Rumah Kontrakan Masuk Sasaran Pajak Pemerintah

August 9, 2026
Kasus Kematian Sutrimo Naik Penyidikan, Dugaan Pembunuhan Diusut

Kasus Kematian Sutrimo Naik Penyidikan, Dugaan Pembunuhan Diusut

August 10, 2026
BTN Gandeng Pemkot Padang, Perluas Layanan dari KPR hingga Digitalisasi Layanan Publik

BTN Gandeng Pemkot Padang, Perluas Layanan dari KPR hingga Digitalisasi Layanan Publik

August 10, 2026
PT KBI raih tiga penghargaan

Jelang HUT Ke-42, PT KBI Borong Tiga Penghargaan Bergengsi Sekaligus

August 10, 2026
PT DPM dorong kemandirian ekonomi masyarakat

PT DPM Dorong Kemandirian Ekonomi Warga Lewat Pelatihan Pertukangan dan UMKM

August 10, 2026
">
  • Redaksi
  • Profil
  • Media Kit
  • Disclaimer
  • Pedoman Media Cyber
  • Kontak

© Copyright 2025 Cobinis.com - All Right Reserved

No Result
View All Result
  • Home
  • Ekonomi & Bisnis
  • Nasional
  • Industri
  • Lifestyle
  • Humaniora
  • Kesehatan & Olahraga
  • Startup Center
  • Foto
  • Youtube

© Copyright 2025 Cobinis.com - All Right Reserved