JAKARTA, Cobisnis.com – Final Piala Afrika (Africa Cup of Nations/AFCON) yang seharusnya menjadi penentuan tim sepak bola terbaik di benua Afrika justru berakhir dalam kekacauan total pada Minggu malam. Laga puncak antara Senegal dan tuan rumah Maroko diwarnai protes pemain, keputusan wasit kontroversial, penalti yang berakhir tragis, hingga kericuhan suporter di tribun.
Senegal akhirnya keluar sebagai juara setelah menang 1-0 lewat babak perpanjangan waktu. Namun, skor akhir itu jauh dari gambaran sebenarnya tentang kekacauan yang terjadi, dalam apa yang kini dianggap sebagai salah satu final AFCON paling kacau dan paling diingat sepanjang sejarah turnamen.
Gol dianulir dan penalti kontroversial
Pertandingan yang mempertemukan dua tim peringkat tertinggi Afrika ini berlangsung tegang sejak awal. Maroko sedikit diunggulkan sebagai tuan rumah, sementara Senegal memburu gelar AFCON keduanya setelah terakhir juara pada edisi 2021.
Ketegangan memuncak di menit-menit akhir waktu normal saat skor masih 0-0. Senegal sempat mengira telah mencetak gol kemenangan melalui Ismaïla Sarr pada menit kedua masa tambahan waktu. Namun, euforia berubah menjadi amarah setelah wasit Jean-Jacques Ndala menganulir gol tersebut, menilai Abdoulaye Seck melakukan pelanggaran terhadap Achraf Hakimi dalam proses gol. Keputusan itu dinilai sangat ringan dan memicu kemarahan para pemain Senegal.
Situasi makin panas ketika beberapa menit kemudian wasit menunjuk titik putih untuk Maroko setelah pelanggaran El Hadji Malick Diouf terhadap Brahim Díaz, yang sebelumnya luput dari perhatian hingga VAR turun tangan. Meski keputusan itu masih bisa diperdebatkan, penalti tersebut menjadi pemicu utama kekacauan.
Pemain meninggalkan lapangan, suporter mengamuk
Para pemain Senegal, dipimpin pelatih Pape Thiaw, melayangkan protes keras yang membuat eksekusi penalti tertunda. Ketegangan meluas menjadi adu mulut antara pemain, ofisial, dan staf pelatih. Di tribun, sekelompok suporter Senegal melompat ke area fotografer dan bentrok dengan petugas keamanan. Polisi antihuru-hara harus turun tangan untuk mencegah invasi lapangan.
Dalam adegan yang jarang terjadi, Thiaw memerintahkan para pemainnya meninggalkan lapangan sebagai bentuk protes. Sebagian pemain masuk ke ruang ganti, sementara beberapa lainnya tetap di lapangan untuk meredakan situasi. Sadio Mané, yang disebut akan menjalani AFCON terakhirnya bersama Senegal, menjadi sosok kunci yang membujuk rekan-rekannya agar kembali bertanding.
Setelah penundaan selama 14 menit dan pengamanan diperketat, pertandingan akhirnya dilanjutkan.
Penalti terburuk dan penyesalan Díaz
Brahim Díaz menghadapi tekanan luar biasa saat bersiap mengeksekusi penalti. Dalam momen yang disebut banyak pihak sebagai “kegilaan,” pemain Real Madrid itu mencoba penalti gaya Panenka, namun bola dengan mudah ditangkap kiper Senegal, Édouard Mendy.
Kegagalan penalti itu menjadi titik balik fatal bagi Maroko. Díaz tampak terpukul, ditarik keluar saat laga masuk perpanjangan waktu, dan terlihat menangis di bangku cadangan. Meski kemudian menerima sepatu emas sebagai top skor turnamen, raut wajahnya menunjukkan penyesalan mendalam. Melalui media sosial, Díaz mengaku “jiwanya sakit” dan meminta maaf kepada seluruh rakyat Maroko.
Gol penentu dan warisan kekacauan
Di tengah atmosfer yang masih panas, Senegal akhirnya memastikan kemenangan lewat gol indah Pape Gueye di babak pertama perpanjangan waktu. Gueye mengaku penyelamatan penalti Mendy dan dorongan Mané menjadi kunci kebangkitan mental tim.
Meski demikian, sorotan utama malam itu bukan pada kualitas permainan, melainkan pada kekacauan yang mencerminkan masalah struktural sepak bola Afrika, mulai dari ketidakpercayaan terhadap wasit hingga relasi rumit antara federasi dan otoritas sepak bola Afrika (CAF).
Dampak dan reaksi
CAF mengecam keras perilaku pemain dan ofisial, menyebut insiden tersebut “tidak dapat diterima” dan menyatakan akan meninjau seluruh rekaman pertandingan untuk menjatuhkan sanksi. Presiden FIFA Gianni Infantino, yang hadir langsung di stadion, juga mengutuk kericuhan di lapangan dan tribun.
Federasi Sepak Bola Maroko mempertimbangkan langkah hukum terkait aksi Senegal meninggalkan lapangan, sementara pelatih Pape Thiaw terancam sanksi dan bahkan tidak bisa menghadiri konferensi pers pascalaga akibat bentrokan yang masih berlangsung di pusat media.
Final ini pun dikenang bukan hanya sebagai malam kejayaan Senegal, tetapi juga sebagai penutup pahit dari turnamen yang sebenarnya berlangsung spektakuler sejak awal.














