JAKARTA, Cobisnis.com – Harga emas dunia dan logam mulia diperkirakan masih akan melanjutkan tren kenaikan dalam waktu dekat. Ketegangan global yang terus memanas menjadi faktor utama yang mendorong minat investor terhadap aset aman seperti emas.
Pengamat Mata Uang dan Komoditas Ibrahim Assuaibi menyebut harga emas berpeluang menembus level Rp 2.820.000 per gram jika mampu melewati resistance teknikal berikutnya. Kondisi pasar global saat ini dinilai mendukung skenario tersebut.
Pada penutupan perdagangan terakhir, harga emas dunia tercatat di level US$ 4.595 per troy ons. Sementara harga logam mulia di dalam negeri berada di kisaran Rp 2,68 juta per gram dan masih bergerak fluktuatif.
Jika harga emas dunia naik dan mampu menembus resistance pertama di level US$ 4.655 per troy ons, harga emas domestik diproyeksikan naik ke sekitar Rp 2,7 juta per gram. Kenaikan lanjutan membuka peluang menuju level tertinggi baru.
Resistance kedua berada di level US$ 4.706 per troy ons. Apabila level ini tercapai, harga emas dalam negeri berpotensi menyentuh Rp 2.820.000 per gram, seiring meningkatnya permintaan global.
Namun, skenario koreksi juga tetap terbuka. Jika harga emas dunia turun ke level US$ 4.553 per troy ons, harga logam mulia diperkirakan melemah ke Rp 2.638.000 per gram.
Penurunan lanjutan dapat membawa harga emas dunia ke level US$ 4.489 per troy ons, dengan harga domestik turun hingga Rp 2.560.000 per gram. Fluktuasi ini sangat bergantung pada perkembangan geopolitik dan kebijakan global.
Ibrahim menilai perang dagang antara Uni Eropa dan China menjadi salah satu pemicu utama ketidakpastian pasar. Uni Eropa diketahui menerapkan tarif dumping produk alumina dari China hingga 110,6 persen.
Situasi global semakin kompleks dengan meningkatnya tensi geopolitik di berbagai kawasan, termasuk Timur Tengah dan isu Greenland yang melibatkan Amerika Serikat serta NATO. Kondisi ini memperkuat sentimen lindung nilai terhadap emas.
Selain itu, aksi borong emas oleh bank sentral dunia, mulai dari China, India, hingga negara-negara ASEAN, turut memperkuat harga. Pelemahan nilai tukar rupiah juga menjadi faktor tambahan yang mendorong kenaikan harga emas domestik.













