JAKARTA, Cobisnis.com – PT Telkom Indonesia Tbk (TLKM) menyiapkan sumber pertumbuhan baru melalui unit infrastruktur digital FiberCo yang mengusung merek InfraNexia. Unit ini berada di bawah PT Telkom Infrastructure Future (TIF) dan disiapkan untuk menyeimbangkan kontribusi bisnis Telkomsel.
Pembentukan InfraNexia dilakukan melalui pemisahan atau spin-off aset infrastruktur Telkom. Langkah ini bertujuan memaksimalkan valuasi perusahaan atau unlock value di mata investor, seiring meningkatnya minat terhadap bisnis infrastruktur digital.
Nilai aset yang dialihkan ke InfraNexia terbilang signifikan, berkisar antara Rp 80 triliun hingga Rp 90 triliun. Aset tersebut mencakup jaringan fiber optik dan infrastruktur pendukung yang selama ini menjadi tulang punggung konektivitas digital Telkom.
Telkom juga membuka opsi strategis dengan melepas hingga 30% saham TIF kepada investor. Opsi ini memberi ruang bagi mitra strategis untuk masuk sekaligus memperkuat struktur permodalan InfraNexia.
Manajemen Telkom menilai pemisahan ini akan membuat masing-masing entitas lebih fokus. Telkomsel tetap menjadi mesin utama layanan digital dan mobile, sementara InfraNexia difokuskan pada penguatan infrastruktur.
Ke depan, InfraNexia diharapkan mampu menjadi pendorong pertumbuhan baru sekaligus meningkatkan potensi dividen bagi Telkom. Infrastruktur digital dinilai memiliki arus kas yang stabil dan prospek jangka panjang.
Meski sinyal menuju penawaran umum perdana saham atau IPO sudah mulai terlihat, Telkom menegaskan proses tersebut masih akan memakan waktu. Listing di bursa dipastikan tidak dilakukan dalam waktu dekat.
Saat ini, fokus utama Telkom adalah mempersiapkan fundamental bisnis InfraNexia agar matang dan berkelanjutan. Kesiapan operasional, tata kelola, dan skala bisnis menjadi prioritas.
Strategi ini mencerminkan kehati-hatian Telkom dalam mengelola aset strategis nasional. Perusahaan ingin memastikan nilai optimal tercipta sebelum membuka InfraNexia ke pasar modal.
Dengan pendekatan tersebut, Telkom menargetkan InfraNexia dapat berkembang menjadi pilar baru perusahaan, bahkan dibidik sebagai “the next Telkomsel” dalam jangka panjang.













