JAKARTA, Cobisnis.com – Arab Saudi bersama Qatar dan Oman memimpin upaya diplomatik untuk membujuk Presiden Amerika Serikat Donald Trump agar tidak melancarkan serangan militer ke Iran. Langkah ini diambil karena kekhawatiran akan dampak besar yang bisa mengguncang stabilitas kawasan Timur Tengah.
Seorang pejabat senior Arab Saudi menyebut ketiga negara Teluk tersebut aktif melakukan komunikasi intensif dengan Washington. Tujuannya adalah memberi ruang bagi Iran untuk menunjukkan itikad baik melalui jalur dialog, bukan konfrontasi militer.
Menurut pejabat tersebut, pendekatan diplomatik dinilai lebih realistis untuk mencegah situasi lepas kendali. Negara-negara Teluk menilai eskalasi konflik justru akan memperburuk kondisi keamanan regional yang sudah rapuh.
Saudi, Qatar, dan Oman secara konsisten menyampaikan pesan bahwa serangan terhadap Iran berpotensi memicu reaksi berantai. Konflik terbuka dikhawatirkan menyeret banyak negara dan mengganggu kepentingan global.
Peringatan ini muncul di tengah meningkatnya ketegangan akibat tindakan keras otoritas Iran terhadap demonstran. Pemerintah AS sebelumnya mengisyaratkan kemungkinan intervensi sebagai respons atas situasi tersebut.
Sebagai langkah antisipasi, sejumlah personel militer AS dilaporkan dipindahkan dari pangkalan utama di Qatar. Sementara itu, staf misi AS di Arab Saudi dan Kuwait diminta meningkatkan kewaspadaan.
Iran sendiri telah menyatakan akan membalas jika AS melakukan serangan. Target balasan disebut mencakup fasilitas militer dan kapal pengiriman AS di kawasan Teluk yang strategis secara geopolitik.
Di sisi lain, Trump sempat mengubah sikap setelah menerima jaminan bahwa Iran tidak akan mengeksekusi mati para demonstran. Pernyataan ini meredakan kekhawatiran akan aksi militer dalam waktu dekat.
Pejabat Teluk lainnya menegaskan, pesan serupa juga disampaikan langsung kepada Iran. Serangan terhadap aset AS di Teluk dinilai akan merusak hubungan Iran dengan negara-negara kawasan.
Upaya diplomasi ini mencerminkan posisi negara-negara Teluk yang memilih stabilitas dan dialog. Mereka menilai konflik terbuka hanya akan membawa kerugian politik, ekonomi, dan keamanan bagi semua pihak.














