JAKARTA, Cobisnis.com – Para astronom kini menemukan bahwa bulan telah “menyerap” molekul dari atmosfer Bumi selama miliaran tahun, dibawa oleh angin matahari dan tertanam di tanah bulan. Temuan ini berasal dari sebuah studi terbaru yang memberikan perspektif baru terhadap asal-usul unsur-unsur kimia yang ditemukan di permukaan bulan.
Penelitian ini membantu menjelaskan teka-teki yang sudah ada sejak misi Apollo, ketika sampel tanah bulan menunjukkan adanya jejak air, karbon dioksida, helium, dan nitrogen. Selama puluhan tahun, para ilmuwan menduga unsur-unsur tersebut berasal dari Matahari. Namun, studi lanjutan menunjukkan sebagian di antaranya kemungkinan berasal dari atmosfer Bumi purba.
Riset terbaru justru membalik anggapan lama bahwa medan magnet Bumi mencegah partikel atmosfer lolos ke luar angkasa. Studi ini menyimpulkan bahwa medan magnet Bumi justru membantu menyalurkan partikel atmosfer ke bulan, dan proses tersebut masih berlangsung hingga saat ini.
“Ini berarti Bumi telah memasok gas volatil seperti oksigen dan nitrogen ke tanah bulan sepanjang waktu,” ujar Eric Blackman, salah satu penulis studi dan profesor fisika serta astronomi di University of Rochester, Amerika Serikat. Ia menjelaskan bahwa meski awalnya bulan terbentuk dari tumbukan besar dengan Bumi purba, pertukaran material kimia ternyata tetap berlanjut selama miliaran tahun.
Keberadaan unsur penting seperti oksigen dan hidrogen di permukaan bulan dinilai sangat relevan bagi masa depan eksplorasi luar angkasa. Unsur-unsur tersebut berpotensi dimanfaatkan untuk menghasilkan air, bahan bakar, dan sumber daya lain bagi misi jangka panjang, termasuk kemungkinan koloni manusia di bulan.
Dalam penelitian ini, para ilmuwan menggunakan simulasi komputer dengan dua skenario: kondisi Bumi purba tanpa medan magnet dan angin matahari kuat, serta kondisi Bumi modern dengan medan magnet kuat dan angin matahari lebih lemah. Hasilnya menunjukkan bahwa kondisi Bumi modern justru lebih efektif dalam mentransfer partikel atmosfer ke bulan.
Hasil simulasi tersebut kemudian diverifikasi menggunakan sampel tanah bulan dari misi Apollo 14 dan 17. Para peneliti menganalisis perbandingan partikel yang berasal dari Matahari dan yang berasal dari Bumi, dan menemukan bukti kuat adanya kontribusi atmosfer Bumi dalam komposisi tanah bulan.
Penemuan ini penting karena tanah bulan dapat menjadi arsip kimia yang menyimpan informasi tentang evolusi atmosfer Bumi dan perkembangan kehidupan di planet ini. Para ilmuwan meyakini penelitian lanjutan, termasuk analisis sampel baru dari misi Chang’e milik China, dapat semakin memperkaya pemahaman tentang hubungan Bumi dan bulan.














